Pengunjung pertapaan Kembang Lampir di Girisekar, Panggang, Gunungkidul, saat ini tidak bisa mengakses lokasi inti tempat pertapaan tersebut. Aturan ini berlaku sejak 2024 atas perintah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pantauan detikJogja, Senin (16/3/2026), suasana pertapaan di Kembang Lampir yang dikenal memiliki kaitan dengan berdirinya kerajaan Mataram Islam itu sangat sepi. Tampak pula gerbang utama untuk masuk ke lokasi inti Kembang Lampir tertutup rapat dengan rantai yang digembok.
Sedangkan di luar gerbang tersebut tampak terpasang tenda berwarna biru. Di dalam tenda itu terdapat tempat duduk dan wadah untuk menaruh ubarampe.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu Juru Kunci Kembang Lampir, Trisno Sumarto (70), mengatakan penutupan akses menuju lokasi inti Kembang Lampir ii bertepatan masa pemilu, khususnya pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2024 lalu. Menurutnya, semua itu atas perintah Keraton Jogja.
"Masih ada tamu yang ke sini, tapi untuk naik ke atas tidak boleh sejak tahun 2024, tepatnya saat Pilpres. Kalau alasannya apa, itu dhawuh (perintah) dari Keraton," katanya saat ditemui di Kembang Lampir, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Senin (16/3/2026).
Pria yang memiliki nama pemberian Keraton Jogja, Sulakso Sekarsari, ini menjelaskan penutupan akses ke lokasi pertapaan ini juga pernah terjadi saat orde baru.
"Dulu juga pernah seperti itu, sebelum lengsernya pak Soeharto tutup tiga tahun dan setelah lengser buka lagi," ucapnya.
Meski tertutup untuk masyarakat umum, juru kunci tetap boleh naik ke lokasi inti Kembang Lampir untuk melakukan pembersihan. Begitu pula dengan utusan dari Keraron Ngayogyakarta Hadiningrat.
"Tapi kalau ada orang Keraton dibuka dan setiap pagi juga tetap kami bersihkan seperti biasa," ujarnya.
Tenda berwarna biru yang terpasang di depan sekitar gerbang utama masuk ke lokasi inti Kembang Lampir. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Sebagai gantinya, juru kunci mendirikan tenda di depan sisi samping gerbang masuk ke lokasi inti Kembang Lampir. Tenda ini biasa digunakan orang yang berziarah.
"Meski ditutup tetap banyak pengunjung, karena itu didirikan tenda itu," katanya.
Trisno mengatakan pengunjung tidak ada mempersoalkan penutupan akses ke lokasi inti Kembang Lampir. Pasalnya, pengunjung tahu jika Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah pemilik lokasi tersebut.
"Dengan ditutupnya itu tidak ada tamu yang berkomentar," ujarnya.
Ada yang Tirakat 50 Hari
Trisno lalu menceritakan pengunjung yang bertapa lama di Kembang Lampir. Dia menyebut ada pria Boyolali yang melakukan tirakat hingga 50 hari lamanya.
"Tahun 2014 itu ada kakek-kakek dari Pengging, Boyolali (Jawa Tengah) di atas sampai 50 hari dan ngebleng (tidak makan dan minum). Tapi ya setiap 15 hari dia makan," ucapnya.
Konon Turunnya Wahyu Mataram Pertama
Di sisi lain, Trisno menjelaskan Kembang Lampir merupakan bekas tempat bertapa Ki Ageng Pemanahan saat mencari wahyu Mataram. Setelah bertapa di tempat tersebut akhirnya wahyu yang dicari Ki Ageng Pemanahan turun dengan wujud bunga (kembang) yang semampir (tergeletak) di pepohonan sekitar tempat bertapanya.
"Karena itu nama tempat ini Mbang Lampir, berasal dari Kembang Lampir itu tadi," katanya.
Pria yang sudah menjadi pendamping juru kunci sejak 1983 ini, setelah turunnya wahyu itu, Ki Ageng Juru Pemanahan bersama anaknya Danang Sutawijaya mendirikan Keraton Mataram di Kotagede. Sehingga pertapaan Kembang Lampir ini erat hubungannya dengan sejarah berdirinya Keraton Jogja.
Trisno mengungkap lokasi inti pertapaan ini memiliki petilasan atau tempat bertapa Ki Ageng Pemanahan. Petilasan itu berupa batu dengan kayu wegig seukuran tangan di sampingnya. Konon kayu ini menjadi tempat bersandar Ki Ageng Pemanahan.
"Tidak diubah-ubah (petilasannya), hanya saja sekarang diputari dengan kayu (dipagari), yang bentuknya menyerupai kotak," ujarnya.


Komentar Terbanyak
Ulah Oknum Fotografer 'Kuasai' Pelang Jalan Malioboro demi Cuan
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Curhat Pedagang di Jogja Malah Sepi Pembeli Usai Pasar Direnovasi