Peribahasa kerap diterjemahkan menjadi paribasan dalam bahasa Jawa. Padahal sebenarnya, paribasan hanyalah salah satu jenis peribahasa dalam bahasa Jawa. Masih ada beragam bentuk peribahasa lainnya, misalnya bebasan dan saloka.
Berdasarkan buku Peribahasa dalam Bahasa Jawa oleh Triyono dkk. peribahasa dalam bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi 6. Tiga di antaranya adalah paribasan, bebasan, dan saloka. Ketiganya sama-sama menggunakan bentuk kias, tetapi memiliki perbedaan pada bentuk perumpamaan dan ciri-ciri lainnya.
Lantas, apa perbedaan di antara ketiga jenis peribahasa ini? Simak pembahasan tentang pengertian dan perbedaan paribasan, bebasan, dan saloka beserta contohnya yang dirangkum dari buku Peribahasa dalam Bahasa Jawa oleh Triyono dkk dan buku Kawruh Basa lan Kagunan Basa oleh Sabar dkk berikut ini. Baca sampai tuntas, ya, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Definisi-Perbedaan Paribasan, Bebasan, dan Saloka
Saloka
Saloka dapat didefinisikan sebagai kata kias (tembung entar), tetapi kata-katanya tidak berubah, tidak boleh diganti, harus tetap pemakaiannya, serta mengandung makna perumpaan.
Ciri-ciri saloka adalah sebagai berikut.
- Bentuk kias
- Struktur tetap
- Mengandung perumpamaan orang, watak, dan sifat dengan suatu barang atau hewan.
- Berupa metafora langsung dengan menghadirkan topik/subjek. Subjek yang dimaksud berupa diksi pengumpamaan untuk unsur diri manusia.
- Struktur bahasa berupa satuan frasa (frasa nominal) dan satuan kalimat (kalimat tunggal dan majemuk).
Bebasan
Bebasan merupakan ungkapan atau peribahasa yang tetap pemakaiannya, memiliki arti kias, dan mengandung perumpamaan.
Ciri-ciri bebasan adalah sebagai berikut.
- Bentuk kias
- Mengandung perumpamaan keadaan fisik, situasi, watak, atau tindakan dengan suatu keadaan atau barang.
- Berupa perbandingan/metafora langsung tanpa menghadirkan topik/subjek.
- Struktur bahasanya dapat berupa satuan lingual kata, frasa, kalimat tunggal, kalimat majemuk koordinatif, kalimat majemuk subordinatif, dan kalimat imperatif.
Paribasan
Paribasan memiliki bentuk yang hampir sama dengan bebasan. Bedanya, paribasan tidak mengandung perumpamaan.
Ciri-ciri paribasan adalah sebagai berikut.
- Strukturnya tetap
- Memiliki arti kias
- Bukan berupa perumpamaan
- Menggunakan gaya bahasa sederhana yang cenderung langsung menunjuk acuan (lugas).
- Strukturnya dapat berupa satuan kata, satuan frasa, kalimat tunggal, kalimat majemuk koordinatif, kalimat mejemuk subordinatif, kalimat imperatif positif, kalimat imperatif negatif dan kaliman imperatif dengan "sing"
Kumpulan Contoh Paribasan, Bebasan, dan Saloka
Agar lebih paham, detikers dapat membaca deretan contoh paribasan, bebasan, maupun saloka di bawah ini.
Contoh Paribasan
- Ngayawara, arti: berbicara tanpa arah atau tema; omong kosong.
- Cumandaka, arti: bertindak sebagai mata-mata.
- Mampang-mumpung, arti: berbuat sesuatu untuk kepentingan sendiri selagi (mumpung) ada kesempatan.
- Karunya Budi, arti: Belas kasih terhadap sesama.
- Kabegjan Kabrayan, arti: mendapat keuntungan sekaligus sanak saudara; beruntung banyak sanak saudara.
- Kebat Kliwat, arti: cepat, tetapi terlewat atau tidak tepat.
- Kondhang Ciri, arti: termasyhur dalam hal ketidakbaikan.
- Bakul Timpuh, arti: penjual bertimpuh (ibarat orang membuat barang, lalu menjualnya di rumah, bukan di pasar).
- Legan Golek Momongan, arti: orang lajang mencari anak asuh. Maksudnya, orang yang hidupnya enak mencari pekerjaan yang sulit.
- Wong Bodho Dadi Pangane Wong Pinter, arti: orang bodoh menjadi makanan orang pintar. Maksudnya, orang bodoh mudah ditipu/dikalahkan oleh orang pintar.
- Ajining Dhiri Ana ing Pucuking Lathi, arti: harga diri berada di ujung bibir. Maksudnya, kehormatan seseorang bergantung pada tutur katanya.
- Bebek Diwuruki Nglangi, arti: bebek diajari berenang. Maksudnya, mengajari orang yang sudah pandai.
- Jero Jodhone, arti: dalam jodohnya (terlalu lama/sulit mendapat jodoh).
- Eyang-eyung Karepe, arti: tidak tetap kemauannya.
- Angon Mangsa, arti: menggembala musim (mampu mencari waktu yang baik).
- Sing Bisa Nggendhong Napsu, arti: yang dapat membendung nafsu (hendaknya dapat mengekang nafsu).
- Becik Ketitik Ala Ketara, arti: perbuatan baik akan terlihat, perbuatan buruk akan tampak.
- Crah Gawe Bubrah, Rukun Gawe Santosa, arti: permusuhan mengakibatkan kerusakan, kerukunan membuat kesentosaan.
- Negara Mawa Tata, Desa Mawa Cara, arti: negara memiliki peraturan (hukum), desa memiliki adat istiadat.
- Wong Temen Ketemu, Wong Salah Seleh, arti: orang jujur bertemu (mendapatkan hasil), orang bersalah menerima nasib.
- Ngemping Lara Nggenjah Pati, arti: menghutang sakit, mempercepat maut (sengaja menuju kebinasaan).
- Tega Larane Ora Tega Patine, arti: tega (tidak merasa kasihan) akan sakitnya, tetapi tidak tega (tidak rela) melihat kematiannya.
- Rame ing Gawe Sepi ing Pamrih, arti: ramai dalam bekerja, sepi dalam keinginan (banyak bekerja, tetapi tidak untuk menguntungkan diri sendiri).
- Weruh ing Grubyug Ora Weruh ing Rembug, arti: melihat pada bunyi langkah kaki orang banyak, tidak melihat pembicaraan orang banyak. Maksudnya, ikut-ikut tetapi tidak mengetahui pokok pembicaraannya.
- Anak Molah Bapa Kepradah, arti: anak bertingkah bapaknya yang menanggung akibatnya.
- Lamun Sugih Aja Sumugih, Lamun Pinter Aja Kuminter, arti: kalau kaya jangan berlagak kaya, kalau pintar jangan berlagak pintar.
Contoh Bebasan
- Sapikul Sagendhongan, arti: satu pikul satu gendongan (perumpamaan perbedaan pekerjaan laki-laki dan perempuan).
- Satindak Sapecak, arti: satu langkah, satu tapak (ibarat jauh dekatnya hubungan keluarga).
- Rai Gedheg, arti: wajah dinding bambu. Maksudnya, tidak tahu malu.
- Lanang Kemangi, arti: lelaki daun kemangi. Maksudnya, lelaki yang lemah dan penakut.
- Rubuh-rubuh Gedhang, arti: rebah-rebah pisang. Maksudnya, ikut-ikut beribadah menurut orang banyak
- Nguyang Nempur, arti: membeli padi membeli beras. Maksudnya, dalam keadaan bingung.
- Uwis Kebak Sundukane, arti: sudah penuh tusukannya (sudah banyak kesalahannya).
- Jembar Segarane, arti: luas lautnya. Maksudnya, mudah memaafkan kesalahan.
- Uyah Kecemplung ing Segara, arti: garam tercebur ke lautan. Maksudnya, memberi sesuatu pada orang kaya.
- Kakehan Gludhug Kurang Udan, arti: kebanyakan guntur, kurang hujan. Maksudnya, banyak janji, tetapi tidak ada pemenuhannya.
- Kandhang Langit Kemul Mega, arti: kandang langit, selimut awan. Maksudnya, tidak bergaul dengan banyak orang.
- Ngubak-ngubak Banyu Bening, arti: mengaduk-aduk air bening. Maksudnya, membuat kerusuhan di tempat tentram.
Contoh Saloka
- Sanggar Waringin, arti: sanggar beringin. Maksudnya, tempat pengungsian atau perlindungan.
- Uwot Gedebog, arti: jembatan kecil dari batang pisang. Maksudnya, dipercaya tutur katanya, akhirnya meleset.
- Gudel Bingung, arti: anak kerbau bingung. Maksudnya, ikut-ikutan, tetapi tidak tahu benar atau salah.
- Gajah Andaka Andurkara, arti: gajah banteng mengamuk. Maksudnya, ibarat orang mengganggu keamanan.
- Semut Marani Gula, arti: semut mendatangi gula. Maksudnya, orang berusaha mendapatkan sesuatu untuk dimilikinya.
- Kodhok Nguntal Gajah, arti: katak menelan gajah. Maksudnya, ibarat segala sesuatu yang mustahil.
- Gajah Ngidak Rapah, arti: gajah menginjak lubang perangkap. Maksudnya, ibarat orang membuat larangam, larangannya dilanggar sendiri.
- Setan Nunggang Gajah, arti: setan naik gajah. Maksudnya, ibarat orang yang hanya mencari enaknya sendiri.
- Bolu Rambatan Lemah, arti: bolu (nama tanaman) merambat tanah. Maksudnya, perkara yang tiada habisnya.
- Wastra Lungsed ing Sampiran, arti: kain lusuh disangkutkan. Maksudnya, ibarat orang pandai tidak terpakai dalam pekerjaan.
- Kere Munggah ing Bale, arti: pengemis naik ke balai. Maksudnya, orang kecil menjadi orang besar.
- Angin Silem ing Warih, arti: angin menyelam di air. Maksudnya, penjahat yang tidak menampakkan maksudnya.
- Kebo Kabotan Sungu, arti: kerbau keberatan tanduk. Maksudnya, ibarat orang yang terlalu berat menanggung beban.
- Endhas Gundhul Dikepeti, arti: kepala gundul dikipasi. Maksudnya, orang yang sudah enak/nyaman dibuat lebih enak/nyaman lagi.
- Pithik Trondhol Dibubuti, arti: ayam terlepas (bulunya) dicabuti. Maksudnya, orang miskin diambil barangnya.
- Sumur Lumaku Tinimba, arti: sumur berjalan ditimba. Artinya, orang menginginkan orang lain berguru kepadanya.
- Baladewa Ilang Gapite, arti: Baladewa (tokoh wayang) kehilangan bilah penjepitnya. Maksudnya, orang besar/kuat kehilangan keluhuran/kekuatannya.
Demikian penjelasan tentang pengertian, perbedaan, dan contoh paribasan, bebasan, dan saloka. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/dil)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya