Kisah Masjid Agung Giriloyo dan Makam Paman Sultan Agung di Imogiri Bantul

Kisah Masjid Agung Giriloyo dan Makam Paman Sultan Agung di Imogiri Bantul

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Minggu, 01 Mar 2026 03:15 WIB
Potret Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Masjid ini dibangun Sultan Agung sebelum Makam Raja-raja Imogiri.
Potret Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Selasa (24/2/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Raja Kasultanan Mataram Sultan Agung memiliki banyak peninggalan masjid, salah satunya Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Masjid tersebut ternyata lebih dulu berdiri ketimbang kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri.

Pantauan detikJogja, Masjid Agung Giriloyo ini berada di perbukitan. Untuk menuju ke lokasi, detikers harus menyusuri puluhan anak tangga terlebih dahulu untuk mencapainya.

Sesampainya di masjid tersebut nantinya terdapat kolam yang menjadi lokasi wudu jemaah sebelum masuk ke dalam masjid.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di bagian dalam Masjid Agung Giriloyo terdiri dari kayu pada bagian atapnya. Selain itu terdapat pula mimbar di bagian pojok serta beduk kuno di bagian belakang ruangan inti.

Abdi Dalem Masjid Agung Giriloyo dan Pasarean Giriloyo, Deni Rahman, mengatakan awalnya Sultan Agung hendak mendirikan kompleks pasarean atau permakaman untuk keluarganya di bukit Giriloyo. Di mana setelah kompleks pemakaman selesai berlanjut dengan pembangunan Masjid Agung Giriloyo.

ADVERTISEMENT

Adapun arsitek pembangunan kompleks pasarean dan masjid tersebut adalah Ki Juru Wiro Probo. Namun, setelah semua pembangunannya selesai salah satu saudara Sultan Agung meninggal dunia.

"Jadi dulu itu zaman Sultan Agung membangun yang sini (pasarean). Nah, kebetulan pamannya Sultan Agung yakni Panembahan Juminah meninggal dunia terlebih dahulu dan dimakamkan di sini," kata Deni kepada detikJogja di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Selasa (24/2/2026).

Potret Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Masjid ini dibangun Sultan Agung sebelum Makam Raja-raja Imogiri.Ada beduk kuno di Masjid Agung Giriloyo, Imogiri, Bantul Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Sultan Agung akhirnya memutuskan untuk membangun pasarean di tempat lain, yakni di Pajimatan atau yang saat ini dikenal sebagai makam raja-raja Mataram. Sedangkan jarak antara pasarean Giriloyo dan pasarean Pajimatan sendiri hanya berjarak sekitar satu kilometer.

"Sebagai penghormatan untuk beliau, Sultan Agung membangun di Pajimatan, Imogiri. Jadi kalau duluan mana (antara pasarean Pajimatan dan Giriloyo) ya sepuh yang sini," ujarnya.

Deni menerangkan pembangunan masjid di kompleks pasarean Giriloyo sebenarnya bertujuan untuk menyalatkan janazah sebelum proses penguburan.

"Masjid ini Masjid Kagungan Dalem atau milik Keraton. Bangunan inti juga masih dipertahankan sejak saat ini, begitu pula dengan beduknya meski sudah mengalami pergantian kulit," ucapnya.

Selain itu, Deni juga mengungkapkan yang membedakan Masjid Agung Giriloyo adalah keberadaan kolam di depan masjid yang kerap jemaah gunakan untuk berwudu. Menurutnya, kolam tersebut saat ini sudah mengalami perbaikan pada bagian pagar.

"Zaman dahulu kan masjid identik dengan kolam di depannya. Filosofinya masuk masjid harus suci terlebih dahulu. Kalau pagar itu hanya tambahan saja," ujarnya.

Potret Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Masjid ini dibangun Sultan Agung sebelum Makam Raja-raja Imogiri.Kolam yang berfungsi sebagai tempat wudu di depan Masjid Agung Giriloyo. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Di sisi lain, Deni mengungkapkan Masjid Agung Giriloyo masih kerap digunakan untuk kegiatan beribadah. Salah satunya salat berjemaah lima waktu.

"Kalau bulan Ramadan seperti ini ada buka puasa bersama, tarawih, dan pengajian rutin. Tapi kalau acara khusus ada, setiap hari Ahad Wage kami menggelar pengajian," kata pria yang juga bernama Muhammad Rahman ini.



(ams/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads