Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran, Ini Sosoknya

Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran, Ini Sosoknya

Nur Umar Akashi - detikJogja
Minggu, 01 Mar 2026 11:02 WIB
Serangan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Supreme Leader Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhir pekan ini. Baca biografi Ali Khamenei di sini.
Ali Khamenei. Foto: REUTERS/Stringer Iran
Jogja -

Supreme Leader atau Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Warta ini dikonfirmasi langsung oleh media pemerintah Iran yang menyebut Khamenei tewas di kantornya.

Dilansir Al Jazeera, Presiden Donald Trump mengatakan bahwasanya Khamenei tidak bisa menghindari sistem intelijen dan pelacakan AS yang bekerja sama dengan Israel. Trump menyebut kejadian ini sebagai momen bagi penduduk Iran untuk 'merebut kembali' negaranya.

"Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka," tulis Trump di Truth Social. "Semoga Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan kepolisian akan bergabung secara damai dengan para patriot Iran," lanjut Trump.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gempuran AS-Israel ke kompleks kediaman pemimpin tertinggi Iran itu juga merenggut nyawa keluarga Khamenei. Diketahui, putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki Ali Khamenei turut menjadi korban serangan itu, lapor Reuters.

Sebenarnya, siapa Ali Khamenei itu? Begini sosoknya.

ADVERTISEMENT

Menimba Ilmu dari Ulama-ulama Iran Sejak Belia

EBSCO mencatat bahwasanya Sayyid Ali Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Kota Mashhad, Provinsi Khurasan, Iran. Ayahnya adalah seorang cendekiawan muslim yang hidup dalam lilitan masalah ekonomi. Karenanya, Khamenei kecil tinggal di rumah dengan 1 kamar saja.

Pada umur 4 tahun, Khamenei dan kakaknya, Mohammad, belajar di maktab, semacam sekolah dasar tradisional. Tak seberapa lama, Khamenei pindah ke sekolah Islam yang baru saja didirikan. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei dan ulama bernama Jalil Husseini Sistani menjadi orang yang berperan mentransfer ilmu ke Khamenei kecil.

Dirujuk dari The Palestine Chronicle, Ali Khamenei kemudian pindah ke seminari bergengsi di Najaf pada 1958. Ia belajar dengan bimbingan Mohsen al-Hakim dan Abu al-Qasim al-Khoei. Sebelum memasuki studinya di level tertinggi, Khamenei telah digembleng ilmu logika, filsafat, hingga yurisprudensi Islam.

Pada 1959, pemuda yang kelak menjadi pemimpin tertinggi Iran tersebut pindah ke Qum. Di sana, ia belajar kepada Ayatollah Ruhollah Khomeini, seorang pemimpin revolusi Iran sekaligus supreme leader pertama Negeri Para Mullah itu. Khamenei juga belajar kepada Allamah Tabatabai, Ayatollah Borujerdi, dan Ayatollah Haeri Yazdi.

Mendengar kabar bahwa ayahnya kehilangan kemampuan penglihatan di salah satu matanya, Khamenei kembali ke Mashhad. Di kota kelahirannya itu, Khamenei terus belajar, baik dari ayahnya maupun Ayatollah Milani dan ulama-ulama lain. Ia juga mulai mengajarkannya melalui ceramah-ceramah.

Masuk Dunia Politik pada Era 1960-an

Pada 1962, menurut keterangan dari laman Khamenei.ir, Sayyid Ali Khamenei bergabung dengan barisan Imam Khomeini. Mereka menentang kebijakan yang diterapkan penguasa Iran saat itu, Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Karena aksinya di bidang politik, Khamenei beberapa kali ditangkap. Begitu juga Khomeini yang sempat diasingkan ke Turki karena mengkritik keras rezim Shah. Sadar akan sepak terjangnya yang senantiasa dipantau SAVAK Iran, Khamenei sempat bersembunyi pada 1967.

Sepanjang 1972-1975, Khamenei mengajarkan Al-Quran dan ideologi Islam di masjid-masjid Mashhad. Pidatonya dari mimbar menarik minat ribuan pemuda dan mahasiswa. Tak tanggung-tanggung, ceramahnya disebarluaskan melalui tulisan tangan atau ketikan.

Pemikirannya yang 'mengancam' rezim penguasa menyebabkan Khamenei ditangkap pada 1975. Ini adalah kali keempat Khamenei ditangkap. Kali ini, ia ditahan di Penjara Gabungan Polisi-SAVAK di Teheran.

Dibebaskan pada tahun yang sama, Khamenei kembali ditangkap pada 1976 akibat ia keras kepala dengan terus memberikan ceramah dan menggelar kelas. Khamenei dihukum pengasingan selama 3 tahun yang berakhir pada 1978.

Pada 1978 itu pula, gelombang protes mahasiswa dimulai secara besar-besaran. Shah Pahlavi yang tidak mampu mengendalikan situasi, melarikan diri ke Mesir. Menteri Shahpur Bakhtiar ditunjuk untuk menjalankan negara sementara.

Rezim tetap tidak mampu membendung gerakan revolusi yang dipelopori Khomeini dan sekutu-sekutunya. Akhirnya, guru Khamenei itu diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran pada April 1979. Khamenei yang merupakan pendukung setianya dimasukkan ke Dewan Revolusi pada 1979. Dalam perkembangannya, Khamenei juga menjabat menteri pertahanan dan anggota parlemen.

Naik jadi Presiden dan Supreme Leader Iran

Dari putra seorang cendekiawan muslim biasa, Ali Khamenei menjelma menjadi sosok penting. Pada 1981-1989, ia menjabat sebagai presiden. Selama memegang tampuk kekuasaan, banyak pembangkang ditangkap, dipenjara, dan bahkan dieksekusi.

Pada 1989, Supreme Leader Iran, Ayatollah Khomeini dihadapkan atas masalah pemilihan suksesor setelah hubungannya dengan calon penerusnya retak. Dalam konstitusi Iran, seorang pemimpin tertinggi wajiblah merupakan grand ayatollah (ulama dengan tingkat pendidikan tertinggi). Khomeini kemudian mengubah aturan yang memampukan Khamenei (yang pendidikannya belum mencukupi sebagai grand ayatollah) untuk naik.

Pada Juni 1989, Khamenei resmi dicalonkan jadi pemimpin tertinggi/supreme leader, menggantikan Khomeini yang meninggal dunia. Banyak ulama mengkritik tajam suksesi itu. Namun, dukungan dari politisi-politisi Teheran menguatkan putra daerah Mashhad ini. Apalagi, ia berjanji akan mengikuti jalan pendahulunya dan bersikap rendah hati.

Sebagai supreme leader, Khamenei memegang otoritas tertinggi atas semua cabang pemerintahan, militer, dan peradilan. Jabatan itu juga mengamanahkannya sebagai pemimpin spiritual negara.

Selama memerintah, Khamenei membangun relasi 'bermusuhan' dengan Barat. Ia bahkan menyebut AS sebagai musuh nomor satu Iran dan Israel di tempat kedua. Meski berulang kali menghadapi gelombang protes, sokongan IRGC dan pasukan paramiliter Basjid melanggengkan posisi Khamenei.

Buku perjalanan hidup Khamenei ditutup pada usia 86 tahun. Serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026 menjadi penyebabnya.




(par/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads