12 Contoh Etika Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari, Andhap Asor-Empan Papan

12 Contoh Etika Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari, Andhap Asor-Empan Papan

Ajril L Zahroh - detikJogja
Kamis, 08 Jan 2026 21:02 WIB
12 Contoh Etika Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari, Andhap Asor-Empan Papan
Salah satu kegiatan orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari. (Foto: Dwi Setyo/Pexels)
Jogja -

Budaya Jawa dikenal dengan nilai-nilai luhur yang menekankan sopan santun, harmonis, dan rasa hormat dalam kehidupan sehari-hari. Etika Jawa tidak hanya tercermin dari bahasa yang halus, tetapi juga dalam sikap, perilaku, dan cara menempatkan diri di tengah masyarakat.

Disadur dari buku Filsafat Nusantara oleh Heru Syahputra, etika Jawa merupakan ajaran hidup yang dilakukan oleh masyarakat Jawa yang berisi pandangan hidup, nilai-nilai, dan prinsip dalam melakukan kehidupan sehari-hari. Menurut Frans Magnis Suseno dalam buku Etika Jawa, etika ini merupakan panduan hidup yang berlandaskan dari moral, hati nurani, dan olah rasa.

Berikut ini berbagai contoh etika Jawa dalam kehidupan sehari-hari mulai dari sikap andhap asor, empan papan, hingga nilai-nilai yang dijalankan di keluarga, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Contoh Etika Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Andhap Asor

Dikutip dari laman Universitas Negeri Surabaya, andhap asor, merupakan sifat yang mengajarkan untuk tetap rendah hati meskipun memiliki pencapaian yang besar. Ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa keberhasilan bukan untuk dipamerkan, namun untuk disyukuri secara tenang.

ADVERTISEMENT

2. Empan papan

Empan papan merupakan kesadaran seseorang akan status sosialnya, kedudukannya dan tempatnya di masyarakat. Orang yang menerapkan empan papan akan dianggap sebagai orang yang pandai menempatkan diri di setiap tempat dalam berbagai waktu dan keadaan.

3. Nrima ing Pandum

Nrima ing pandum merupakan filsofi yang memiliki arti menerima apa yang dibagikan dan diberikan oleh Tuhan atau orang lain kepada dirinya. Dapat berupa baik atau buruk, ukuran besar maupun kecil.

4. Ngalah, ngalih, ngamuk

Ngalah, ngalih, ngamuk merupakan sikap dalam menghadapi suatu masalah. Ngalah memiliki arti mengalah atau pasrah. Kemudian ngalih memiliki arti pergi atau menyingkir ke suatu tempat atau mengubah. Ngamuk memiliki arti melawan.

Pedoman ini dilakukan bertahap, jika bertemu suatu masalah, yang pertama dilakukan adalah mengalah, kemudian menyingkir, kedua sikap tersebut merupakan sikap kompromi yang bisa kita toleransi. Namun jika kedua sikap tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah, maka menggunakan langkah terakhir yaitu ngamuk atau melawan.

5. Ajining raga saka busana

Dikutip dari laman Kebudayaan Kabupaten Sleman, ajining raga saka busana memiliki makna bahwa pakaian memegang peranan dapat menaikkan martabat pemakainya, sehingga secara fisik busana atau pakaian mencerminkan diri kita sebenarnya.

6. Ajining diri ana ing lathi

memiliki makna bahwa ucapan berperan menentukan harga diri seseorang, sehingga perlu untuk berhati-hari dan selalu menjaga ucapannya dan mempertimbangkan apa yang akan diakibatkan dari ucapan tersebut.

7. Ethok-ethok

Ethok-ethok memiliki arti berpura-pura, yaitu sikap untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dari orang lain, terutama terkait perasaan negatif. Diharapkannya agar seseorang menutupi kesedihannya dengan tersenyum jika ada seseorang yang datang.

8. Alon-alon waton kelakon

Dikutip dari laman Kelurahan Pundungsari Gunung Kidul, alon-alon waton kelakon memiliki makna pelan-pelan asal tercapai, yaitu sikap untuk melakukan pekerjaan dengan perlahan atau tidak terburu-buru, asalkan pekerjaan selesai.

9. Mikul dhuwur, mendem jero

Dikutip dari laman Kalurahan Semanu, secara bahasa mikul memiliki arti mengangkat atau membawa di atas bahu, kata dhuwur berarti tinggi, kata mendem memiliki arti menanam atau mengubur, dan kata jero memiliki arti dalam.

Sehingga secara istilah mikul dhuwur, mendem jero memiliki makna menjunjung tinggi dan memendam sesuatu dengan dalam, yaitu konsep untuk menghormati orang tua atau pemimpin dan menjunjungnya, namun tidak lupa untuk tetap dapat melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

10. Gotong Royong

Etika Jawa ini merupakan sikap saling tolong menolong membantu bersama-sama.

11. Manunggaling kawula gusti

Manunggaling kawula gusti merupakan ajaran dalam Kejawen yang memiliki makna bahwa manusia dan pemimpin sama dalam menghadap sang pencipta. Ini ajaran untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa melalui kegiatan spiritual, agar manusia dapat merasakan ketenangan dan kerendahan hati.

12. Urip iku urup

Dikutip dari laman kelurahan Hargorejo, Kulon Progo, secara bahasa urip memiliki arti hidup, dan urup memiliki arti menyala. Secara istilah makna urip iku urup memiliki arti bermanfaat untuk orang sekitar seperti nyala lentera yang menerangi sekitarnya. Sekecil apapun manfaat yang kita berikan, jangan pernah membuat ulah di masyarakat.

Demikian beberapa contoh etika Jawa yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari andhap asor hingga empan papan, semoga etika-etika tersebut terus lestari seiring berjalannya waktu. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Ajril Lu'lu'a Zahroh peserta Program PRIMA Magang Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)




(sto/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads