Dua pasar besar di Kota Jogja, Pasar Terban dan Pasar Sentul, telah direnovasi total. Dua pasar itu kini sudah dibuka kembali. Namun, sebagian pedagang di pasar itu mengeluh soal sepinya pembeli usai renovasi.
Diketahui, Pasar Sentul lebih dulu direnovasi dan selesai pada tahun 2024. Setahun berselang, giliran pasar Terban yang buka kembali usai renovasi. Selama renovasi berlangsung, para pedagang di dua pasar itu bergantian memakai lokasi sementara di Pasar Batikan.
Kondisi Pasar Sentul
Pasar Sentul berada di tepi Jalan Sultan Agung, Pakualaman, salah satu jalan utama Kota Jogja. Namun faktor lokasi strategis itu nyatanya tak membuat Pasar Sentul kembali ramai usai renovasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar Sentul punya tiga lantai. Lantai pertama berisi berbagai kebutuhan sayur mayur, lantai 2 berisi daging hingga warung kelontong, di lantai 3 isinya pusat kuliner pujasera.
Selain lebih besar dan bersih, pascarenovasi, Pasar Sentul kini juga dilengkapi berbagai fasilitas, toilet bersih di banyak titik hingga eskalator. Faktor ini ternyata juga tak mampu menarik pembeli datang.
Pasar Terban, Jogja, Senin (3/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Para pedagang pun memaparkan faktor-faktor yang membuat pasar Sentul sepi peminat. Pedagang ayam potong, Wakinem mengungkap faktor utama sepinya pembeli lantaran aksesibilitas.
Berbeda dengan pasar Sentul dulu yang hanya satu lantai, menurut Wakinem, pembeli kini malas untuk naik tangga. Ditambah lagi hadirnya penjual ayam potong tepi jalan dan pasar lain yang aksesnya lebih mudah seperti lokasi sementara saat Sentul direnov, yakni pasar Batikan.
"Ada yang nggak mau balik sini (dari Batikan) bertahan di sana. Terus yang belanja kan itu di sana kan katanya enak nggak naik-naik dan dekat. Kalau sini agak jauh dan naik-naik," ujar Wakinem saat ditemui detikJogja di lapaknya, Senin (3/8).
"Sekarang sudah ndak ada yang masuk, pada beli di sana (tepi jalan) semua. Jadi kalau orang belanja sini sudah bawa ayam semua. Itu kan sudah enak (beli ayam di pinggir jalan), mudah, ndak parkir, murah," sambungnya.
Sementara, salah satu pedagang kuliner di lantai 3, Ponijo menambahkan faktor yang membuat sepi terutama area pujasera yakni konstruksi bangunan baru yang tak mengekspos area tersebut. Sehingga mayoritas orang tidak akan tahu ada sentra kuliner di pasar Sentul.
Selain itu juga minimnya event yang digelar di Pasar Sentul sebagai sarana promosi pasar pascarenovasi. Ia mengusulkan agar ada event untuk mempromosikan pasar.
"Tidak ada akses langsung ke jalan raya, jadi ndak terlihat dari jalan kalau di sini ada pujasera, tertutup. Nggak kayak Kranggan, Prawirotaman," ujar Ponijo.
"Tolong dibikin event, lomba melukis, senam, lomba karaoke, lomba kicau burung, apalah yang bisa buat makan," lanjutnya.
Pasar Terban baru awal tahun 2026 kembali buka. Letaknya di Jalan C Simanjuntak Terban, sebuah jalan di jantung Kota Jogja dan sangat dekat dengan Tugu Jogja. Namun selama 7 bulan buka, pembeli tak kunjung kembali.
Pasar Terban dulu dikenal dengan pasar unggas. Meski sektor unggas masih dipertahankan di lantai 1 berikut dengan area potong, namun kini pasar Terban lebih lengkap. Di lantai 2 berisi area vermak dan pedagang buku yang direlokasi dari pedestrian.
Sedangkan di lantai 3, berisi area kuliner yang pedagangnya juga direlokasi dari trotoar. Meski tak ada eskalator seperti di Pasar Sentul, namun secara arsitektur dan fasilitas terlihat lebih premium, modern, luas, dan bersih.
Salah satu pedagang tempe di Pasar Terban, Siam mengungkapkan faktor pasar ini tak kunjung ramai pascarelokasi. Para pedagang, menurutnya, sangat mengandalkan pelanggan yang kini sudah punya tempat langganan lain lantaran proyek renovasi yang terlalu lama.
Tak ayal, kata Siam, para pedagang selama dua tahun menempati lokasi sementara di Pasar Batikan saat Pasar Terban direnovasi. Sementara pelanggannya yang mayoritas warung gudeg rata-rata berlokasi di dekat Pasar Terban. Alhasil para pelanggan pun beralih ke pedagang lainnya.
"Ya memang pasarnya jadi bagus, tapi nek pembeli belum ke sini piye? Kan yang penting pembeline. 2 tahun relokasi itu, di Batikan. Kesuen jadi pada pergi lengganane. Dapat tempat baru," ujar Siam saat ditemui detikJogja, hari ini.
"Sekarang ya lumayan tapi masih belum mbalik lengganane. Ya namanya baru merintis lagi to," sambungnya.
Sementara salah satu pedang kuliner di lantai 3, Yani menyebut faktor sepinya pasar Terban lantaran minim promosi. Ia berharap pemerintah untuk menggenjot promosi pasar Terban.
"Ya kalau dari pedagang sebenarnya juga pengin banget dipromosikan dari dinas, mungkin ada event, karena selama ini masih kurang to promosinya. Jadi banyak yang belum tahu, dari depan aja banyak yang belum tahu kalau ini pasar," harapnya.


Komentar Terbanyak
Ulah Oknum Fotografer 'Kuasai' Pelang Jalan Malioboro demi Cuan
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Alasan di Balik Ditutupnya Belasan Dapur MBG di DIY