Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani buka-bukaan soal kekhawatiran yang dirasakan para pelaku usaha terkait dampak buruk dari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Dilansir detikFinance, perang tersebut berdampak pada kenaikan biaya impor energi dan pangan hingga sektor pariwisata.
Menurut Shinta, risiko utama akibat konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, Selat Hormuz menjadi titik vital perdagangan energi dunia, di mana sekitar 20% minyak dunia melewati wilayah itu.
"Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional. Bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian saja sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global," kata Shinta kepada detikcom, Senin (9/3/2026).
Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani Foto: Dok. APINDO |
Shinta mengatakan, sebagai negara importer minyak, tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mempersempit ruang fiskal apabila harga energi global terkerek naik di atas asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
APINDO juga mencermati risiko rambatan terhadap inflasi pangan. Kenaikan harga energi akan berdampak pada biaya distribusi, logistik, dan transportasi komoditas pangan.
"Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat mempercepat kenaikan harga bahan pokok, terutama jika dibarengi gangguan pasokan global atau pelemahan nilai tukar. Oleh karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan menjadi aspek krusial yang perlu dijaga jika dampak konflik meluas dan berkepanjangan," ujar dia.
Defisit dan Utang
Untuk diketahui, dari sisi fiskal, apabila harga energi bertahan tinggi, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat. Menurut Shinta, penting bagi pemerintah untuk mengelola risiko ini secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap defisit dan pembiayaan utang negara.
Pengelolaan utang yang disiplin, menjaga rasio defisit dalam koridor yang kredibel, serta memastikan belanja negara tetap tepat sasaran menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
Di sisi eksternal, dinamika risk-off global dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar. Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor energi dan pangan, sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
"Dampak terhadap sektor usaha sendiri akan beragam. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional akan merasakan tekanan langsung," jelas Shinta.
Langkah Mitigasi Risiko
Sektor padat karya juga menjadi salah satu yang paling rentan. Sebab, margin yang tipis dan sensitivitas tinggi terhadap biaya distribusi, bahan baku impor, serta permintaan ekspor yang terganggu.
Walaupun hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, Shinta menyebut efek tidak langsung melalui harga energi global, disrupsi perdagangan internasional, inflasi pangan, nilai tukar, dan sentimen pasar keuangan menjadi faktor yang jauh lebih relevan bagi dunia usaha nasional.
Dalam jangka pendek, pelaku usaha saat ini fokus pada langkah-langkah mitigasi risiko yang bersifat realistis dan adaptif.
Langkah pertama, melalui penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi. Kedua, peningkatan efisiensi operasional.
Langkah Ketiga, penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin termasuk pengelolaan eksposur valas. Keempat, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia.
"Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan wait and see but prepared apabila tekanan global berlanjut," ucap Shinta.
Jaga Stabilitas Harga Energi-Pangan
APINDO pun mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur, memperkuat cadangan dan distribusi logistik strategis, memastikan disiplin fiskal dan kebijakan moneter serta pengelolaan utang yang prudent, dan memberikan dukungan terarah kepada sektor-sektor ekonomi yang berpotensi terdampak.
Situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas ini juga dinilai berdampak pada sektor pariwisata Indonesia. Ia juga tidak menampik situasi global bisa berdampak pada sektor transportasi, seperti pembatalan penerbangan. Kendati begitu, Veronica menilai sektor pariwisata dalam negeri masih kuat.
"Dari sektor pariwisata sendiri apapun yang terjadi sampai hari ini volatilitas di harga energi, nilai tukar dan lain sebagainya sudah pasti itu impact. Kita semua sama-sama paham," ujar Direktur Komersial InJourney Veronica H Sisilia dalam konferensi pers di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).
Salah satu penopangnya, yakni magnet wisata domestik. Berkaca pada Desember 2025, kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 14,4%. Menurutnya, hal ini menggambarkan wisata domestik masih tetap kuat.
"Sudah pasti penerbangan ada cancellation dan lain sebagainya. Itu pasti impact, nggak mungkin nggak impact. Tapi kami believe di sektor industri pariwisata cukup kuat wisata domestiknya created ke apapun yang InJourney siapkan," kata Veronica.













































Komentar Terbanyak
Sederet Fakta Penemuan Mayat Pria Dalam Mobil di Condongcatur Sleman
Laga PSIM Vs Persija Sempat Diwacanakan Pindah ke Semarang, Tapi...
Cerita Azizah, Bocah TK di Jogja Rawat Bapak Sakit hingga Ikut Memulung