Munculnya Wabah Antraks di Gunungkidul Usai Tradisi Brandu

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 09 Okt 2026 06:30 WIB
Ilustrasi antraks. Foto: Dok.detikJogja
Gunungkidul -

Sejumlah warga di Mulusan, Paliyan, Gunungkidul dilaporkan positif terpapar virus antraks. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyebut kasus muncul usai warga melakukan brandu pada kambing yang mati mendadak.

"Kami dapat laporan dari Puskesmas kalau ada warga yang periksa dengan keluhan tangannya boleng (gejala antraks) di Paliyan," terang Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti saat dihubungi detikJogja, Kamis (8/10/2026).

Sebagai informasi, luka boleng atau borok kehitaman pada tangan merupakan gejala khas dari antraks kulit (cutaneous anthrax). Luka tersebut terjadi ketika spora bakteri Bacillus Anthracis masuk melalui luka terbuka atau goresan di kulit.

Retno menyebut, laporan itu masuk ke DPP Gunungkidul hari Selasa (29/9). Adanya temuan itu, DPP melakukan pengendalian berupa vaksinasi hingga penyiraman formalin ke tempat penyembelihan kambing.

"Kami sudah melakukan uji sampel tanah dan hasilnya positif (antraks), pengendalian juga sudah selesai. Kalau kambingnya tidak ketemu karena sudah disembelih, dimakan atau biasa disebut dibrandu," ujarnya.

Retno mengungkapkan, pada dasarnya tradisi brandu sebenarnya tujuannya baik. Hal ini karena hasil dari brandu bakal dijual secara murah kepada warga dan hasil penjualan akan diberikan kepada pemilik ternak. Semua itu agar pemilik ternak tidak mengalami kerugian yang cukup besar akibat ternaknya mati.

"Padahal kalau lapor ternaknya mati mendadak masyarakat bisa dapat kompensasi dari Pemkab. Jadi masyarakat yang punya ternak diharap lapor ke Puskeswan kalau ternaknya mati mendadak," terangnya.

Retno menerangkan, pemberian kompensasi kepada peternak yang hewannya mati mendadak tertuang dalam Perbup No.10 Tahun 2025, tentang Tata Cara Pemberian Kompensasi dan/atau Bantuan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular dan Tata Cara Pemberian Kompensasi Hewan Sehat Akibat Depopulasi. Adapun kompensasi itu menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT) yang bersumber dari APBD.

Terkait jumlah warga yang mengalami gejala antraks belum diketahui pasti. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul juga belum memberikan keterangan terkait kejadian tersebut. Bahkan, detikJogja telah mendatangi Kantor Dinkes Gunungkidul dan menghubungi Kepala Dinkes namun hingga kini belum ada respons.



Simak Video "Video: Warga Tanam Pisang di Jalan Alternatif Klaten-Gunungkidul yang Rusak Parah"

(apl/apl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork