Empat orang warga di Dadapayu, Semanu, Gunungkidul, terpapar antraks. Terungkap, mereka sebelumnya sempat mengonsumsi daging kambing yang kondisinya mati mendadak.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono, berkata awalnya ada warga yang memeriksakan diri ke puskesmas awal September lalu, dan terungkap menderita gejala antraks.
"Awalnya ada warga yang periksa ke Puskesmas dan ternyata mengalami gejala klinis antraks. Setelah penyelidikan epidemiologi ada tujuh orang suspek antraks," kata Ismono, Kamis (1/10).
Ismono melanjutkan, saat ditelusuri, ternyata tujuh orang itu mempunyai riwayat bersentuhan dengan kambing yang mati tiba-tiba.
"Kemudian tujuh orang itu menjalani PCR dan hasilnya yang positif konfirmasi antraks ada empat orang," ujarnya.
Dari temuan tersebut, Dinkes melanjutkan penelusuran terhadap orang yang memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing tersebut. Hasilnya, ada 47 orang yang berisiko terpapar antraks.
"Jadi 47 orang itu memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing yang mati mendadak," ucapnya.
Kondisi Para Pasien
Sementara Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Eko Mujiarto, mengatakan keempat pasien positif tersebut sudah sembuh.
"Sudah sembuh semua dan sampai saat ini belum ada penambahan," ucap Eko, Sabtu (3/10/2026).
Eko juga memastikan belum ada tambahan kasus baru terkait antraks di Gunungkidul. Hingga saat ini hanya empat orang yang terpapar antraks di Dadapayu.
"Sampai hari ini belum ditemukan munculnya kasus baru," ujarnya secara singkat.
Sampel Tanah Positif Antraks
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Retno Widyastuti, menuturkan pihaknya langsung mengambil sampel tanah begitu ada kasus di Dadapayu. Hasilnya, tanah itu terkontaminasi antraks.
"Jadi yang disampel itu tanah bekas penyembelihan yang ada darahnya dan hasilnya positif (antraks)," paparnya.
Retno mengatakan hasil uji sampel tanah itu sudah keluar beberapa hari lalu. Pihaknya hingga kini masih menguji sampel tanah di lokasi yang sama untuk diuji di laboratorium.
"Tujuan pengambilan sampel lagi itu untuk mengetahui apakah penyiraman desinfektannya sudah berhasil atau belum. Kalau masih positif perlu disiram desinfektan lagi sampai benar benar negatif," ucapnya.
Retno menambahkan pihaknya tidak melakukan uji sampel ternak. Hal ini karena ternak itu sudah dibrandu.
"Kita tidak sampel ternaknya karena kita tidak menjumpai ternaknya dan ternaknya sudah dibrandu," ujarnya.
Sayangkan Masih Ada Tradisi Brandu di Masyarakat
Adapun Ketua DPP Gunungkidul, Rismiyadi, mengaku menyayangkan masih ada masyarakat yang menerapkan brandu kepada hewan yang mati mendadak. Padahal, pihaknya sering memberikan sosialisasi.
"Sebetulnya kami sudah sering masuk ke wilayah itu untuk melakukan edukasi, bahkan kami sudah edukasi masyarakat dengan seni seperti wayang. Tapi kembali lagi kesadaran masyarakat itu yang susah," ucapnya.
Selain itu, Rismiyadi menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya bisa mendapatkan kompensasi ganti rugi jika melaporkan adanya ternak yang mati mendadak. Rismiyadi juga mengaku hal tersebut telah berulang kali DPP sosialisasikan kepada masyarakat.
"Hewan kalau sakit, mati, dikubur lalu di laporan sebenarnya dapat kompensasi dari pemkab. Tapi mereka masih eman-eman (perhitungan), jadi ketika sakit disembelih dahulu, kemudian dimakan dan dibrandu," katanya.
Simak Video "Video: Warga Tanam Pisang di Jalan Alternatif Klaten-Gunungkidul yang Rusak Parah"
(apu/apu)