Terpopuler Sepekan

Hijaunya Hamparan Sawah di Pusat Kota Jogja

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 12 Sep 2026 10:02 WIB
Kelompok Tani Swa Katon Asri di kampung Wirobrajan Jogja menanam padi dengan galon bekas. (Foto: Adji G Rinepta/detikJogja)
Jogja -

Di tengah padatnya permukiman Kota Jogja, hamparan tanaman padi biasanya menjadi pemandangan yang sulit ditemukan. Namun, suasana berbeda terlihat di Kampung Wirobrajan. Di sana, padi tumbuh subur bukan di lahan persawahan, melainkan di dalam galon-galon bekas.

Galon-galon tersebut ditata rapi di lahan milik Kelompok Tani Swa Katon Asri. Tanaman padi yang tumbuh di dalamnya kini sudah berusia sekitar 90 hari dan bulir-bulirnya mulai menguning, menandakan masa panen yang semakin dekat.

Kelompok Tani Swa Katon Asri sudah sekitar 2-3 tahun mengembangkan urban farming. Kepala Kampung Wirobrajan, Budi Sutrisno, mengatakan kelompok tani tersebut awalnya hanya menanam berbagai jenis sayuran.

Hingga beberapa bulan lalu, mereka mendapat tantangan sekaligus bantuan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mencoba menanam padi menggunakan galon bekas.

"Tani padi itu sebetulnya inspirasinya dari UMY, kalau saya fair ya. Dari Pak Agus namanya dosen pertanian. Inspirasinya awal dari UMY itu menyarankan 'mbok sing beda, nanam padi pakai galon misalnya' gitu," ujar Budi di lahan Kelompok Tani Swa Katon Asri kampung Wirobrajan, Jumat (4/9/2026).

"Terus UMY memberikan nggak cuma bibit, duit juga kalau nggak salah Rp 6 juta karena kebutuhannya dulu nggak cuma itu, termasuk selang irigasi, pipa irigasi. itu dari program pengabdian masyarakat UMY untuk ke wilayah," sambungnya.

Kelompok Tani Swa Katon Asri kemudian mulai menanam padi menggunakan media galon bekas sekitar tiga bulan lalu. Dalam prosesnya, mereka mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja.

Penyuluh lapangan DPP Kota Jogja, Sugio, mengatakan penanaman padi menggunakan galon tersebut menjadi proyek perdana Kelompok Tani Swa Katon Asri. Dia bertugas memberikan pendampingan dan informasi mengenai teknik penanaman.

"Ini baru yang pertama tanam, ini umurnya 90 hari berarti ya 3 bulanan lah. Ini kita istilahnya tabela ya, tabur benih langsung, jadi media yang kita siapkan itu tanah sama pupuk kandang. Bibitnya ini cuma satu bulir, itu kita rendam dua malam. Setelahnya kita taruh di media itu," paparnya.

Padi yang ditanam merupakan jenis Hibrida 32. Menurut Sugio, varietas tersebut memiliki masa panen sekitar 110 hari. Dia menjelaskan perawatan padi dalam galon relatif mudah, terutama dalam pengaturan air.

"Perawatannya gampang banget. Perawatannya begitu kita tanam yang penting airnya itu macak-macak. Macak-macak itu hanya sedikit, jemek-jemek itu loh. Tidak perlu airnya itu penuh, tidak," urai Sugio.

"Begitu tanam airnya itu nyemek-nyemek sampai umur 30 sampai 40 hari. Kita kan nanamnya cuman satu (bibit per galon), pada nanam saat itu dia akan membentuk anakan-anakan. Nanti setelah umur 40-an hari baru kita kasih air genang, agak tergenang gitu loh," imbuhnya.

Satu bibit padi yang ditanam dalam satu galon akan berkembang menjadi puluhan batang. Setelah berusia sekitar 40 hari, tanaman mulai membentuk banyak anakan. Saat dewasa, satu galon bisa berisi sekitar 30 hingga 60 batang padi.

Sugio mengatakan proses budidaya tersebut tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida. Kelompok tani memanfaatkan pupuk kandang dan air dari peternakan lele sebagai tambahan nutrisi.

"Gunakan pupuk kandang toh, ditambah dengan air lele, itu kan ternak sendiri itu. Jadi kan nanti cucian air lele yang sudah apa sudah keruh banget kita ambil, kita siramkan. Nah jadi kan semua semua nggak terbuang toh," ujarnya.

Menurut Sugio, penggunaan galon juga membuat pengelolaan air dan pupuk lebih mudah dibandingkan menanam langsung di sawah.

"Kalau menggunakan galon ini praktis banget, air bisa diatur, pemupukan bisa diatur. Pupuk itu ndak lari kemana-mana, kalau di sawah ketika hujan atau irigasi mengalir tiba-tiba kan pupuknya hanyut. Kalau sini maksimal, full, istilahnya makanan yang diberikan dinikmati full oleh si padi," lanjutnya.

Padi Galon Tak Kalah dari Sawah

Memasuki usia 90 hari, Sugio mengaku belum menemukan kelemahan dari metode penanaman padi menggunakan galon. Bahkan, dia menilai bulir padi yang dihasilkan cukup bagus.

Hal tersebut juga sempat dibandingkan oleh seorang pengunjung yang memiliki sawah dengan varietas padi yang sama.

"Kalau kelemahan saya terus terang belum melihat ya. Tadi Bapake (salah satu pengunjung) aja bilang, 'loh, sawahku kok kayak nggak seperti ini yo?', nah ternyata padi yang di galon itu tidak kalah sama yang di sawah," ungkap Sugio.

"Tadi sudah membuktikan Bapake, bilang ke sini, 'Padine kok nggak kayak gini, panggenku kayak ngene', 1 hektar dia nanam varietasnya sama, tapi bagusan ini," sambungnya.

Saat ini terdapat seratusan galon berisi tanaman padi di lahan Kelompok Tani Swa Katon Asri. Tanaman tersebut diperkirakan akan dipanen sekitar 10 hari lagi.

Namun, Sugio mengaku belum bisa memastikan berapa banyak beras yang nantinya dihasilkan dari penanaman perdana tersebut.

"(Panen) Itu umur 110 hari. Ya kita belum tahu Mas ya (jumlah beras yang akan dihasilkan). Paling sekitar 10 hari lagi panen," terang Sugio.



Simak Video "Video: Dedikasi Urban Farming Antar Dani Arwanto Raih Anugerah Ekonomi Hijau"

(aku/aku)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork