Padukuhan Barak I, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, kini dikenal sebagai Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo. Kampung ini menjadi sentra budidaya nanas jumbo yang berawal dari inisiatif kelompok tani milenial sejak sebelum pandemi COVID-19.
Adalah Jamaludin Nur Ridho (25), petani milenial yang mengembangkan konsep eduwisata ini. Dia bercerita bahwa gagasan tersebut mulai dirintis pada 2019. Saat itu, bersama kelompok tani milenial 'Sarana Makmur', dia mencoba mencari komoditas pertanian yang mudah ditanam, tidak ribet perawatannya, dan punya nilai ekonomi.
"Awalnya dari situ kita diberikan support bantuan rumah bibit. Tapi dari rumah bibit itu untuk nanam bibit sayur sepertinya kurang maksimal dan belum menghasilkan nilai ekonomi dan repot untuk merawat rumah bibit seperti itu," kata Jamaludin saat berbincang dengan detikJogja di Jamal Farm, Padukuhan Barak I, Seyegan, Minggu (8/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, dari situ muncul ide untuk mengembangkan tanaman apa yang mudah, tanaman apa yang tidak repot perawatannya. Jadi tinggal ditanam, tinggal pergi, berbuah. Jadi waktu itu kita ambil nanas," lanjutnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, muncul ide mengembangkan tanaman nanas. Pilihannya jatuh pada nanas jumbo jenis Smooth Cayenne Filipina yang saat itu masih jarang dibudidayakan di Jogja. Pasokan nanas di wilayah ini masih banyak bergantung dari Lampung, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
"Dari situ kita mencari variasi apa nanas yang unik. akhirnya ketemu nanas jumbo Smooth Cayenne Philippines," katanya.
Pemilihan jenis nanas ini bukan tanpa alasan. Jamal menjelaskan bahwa varietas ini memiliki karakteristik yang sangat ramah untuk dikembangkan di lingkungan permukiman. Dari sisi konsumsi, buahnya tidak menimbulkan rasa gatal di mulut.
"Nanas ini unik. Buahnya besar, tidak gatal, matanya tipis. Motongnya bisa seperti semangka. Rasanya manis, segar," jelas Jamaludin.
Budidaya nanas jumbo di Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo, Seyegan, Sleman Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja |
Awalnya, budidaya nanas jumbo dilakukan dari satu tanaman saja. Ketika tanaman itu berbuah, hasilnya kemudian dipamerkan dalam pameran kelurahan. Respons positif pun datang, hingga akhirnya Pemerintah Kalurahan Margoluwih memberikan dukungan untuk mengembangkan budidaya nanas dalam skala lebih besar.
"Prinsipnya mulai dari anggota kelompok dulu disuruh nanam yang pemuda-pemuda. Setelah itu karena konsep kita adalah kampung nanas jumbo, kita membagi bibit gratis melalui support dana desa waktu itu. Itu satu rumah awalnya satu bibit," ujarnya.
Seiring waktu, jumlah tanaman nanas jumbo terus bertambah. Saat ini, Kampung Nanas yang terpusat di Dusun Barak telah memiliki lebih dari 10 ribu tanaman yang tersebar di pekarangan warga dan lahan demplot. Warga pun sudah mulai menikmati hasil panen. Total anggota kelompok tani milenial sekitar 20-25 orang, sementara warga yang menanam sudah mencakup satu dusun penuh.
"Jadi yang awalnya hanya satu RT atau satu lingkup, satu petak, yang awalnya hanya satu tanaman saat ini alhamdulillah sudah lebih dari 10 ribu tanaman. Terbagi dari warga mulai dari tempat demplot-demplot dan lain-lain. Itu kita sudah bisa panen buah," ujarnya.
Tak hanya fokus pada budidaya, kelompok ini juga mendorong pengolahan hasil nanas. Warga dilatih membuat berbagai olahan, mulai dari buah potong, selai, sirup, hingga aneka kue. Bahkan, dalam sebuah lomba olahan nanas, warga berhasil menciptakan menu unik seperti nasi goreng nanas, tongseng nanas, molen nanas, hingga es koktail nanas.
"Warga selain kita ajak semangat untuk menanam, kita ajari mengolah dan pemberdayaan masyarakat bagaimana meningkatkan kapasitas SDM dari yang sebelumnya mereka belum tahu menjadi tahu, dari yang sebelumnya mereka enggak mau jadi mau dan semangat seperti itu," katanya.
Di sisi lain, perjalanan merintis Kampung Nanas Jumbo pun tak lepas dari tantangan, terutama dalam mengajak anak muda terjun ke pertanian. Jamaludin mengakui, tidak sedikit pemuda yang sempat mundur. Namun, perlahan mereka diyakinkan lewat bukti hasil.
"Pernah dulu kita membuat grup kelompok tani milenial pada keluar dari grup jadi pada enggak mau mengikuti dan lain-lain. Nah, itu pelan-pelan kita buktikan dengan bahwa menanam nanas itu profit," katanya.
"Satu batang nanas bisa berbuah setelah sekitar satu tahun. Sekarang harga jualnya Rp 25 ribu per kilogram. Satu buah bisa hampir tiga kilo," lanjutnya.
Saat ini, salah satu kendala kampung nanas yakni masa panen yang masih terbatas karena nanas hanya berbuah setahun sekali. Namun, kelompok tani mulai mengatur pola tanam bertahap agar ke depan panen bisa lebih berkelanjutan.
"Itu kelemahan kalau nanas kelemahannya lama (sampai panen). Tapi keunggulannya tanamannya itu ada terus. Jadi bisa kita tinggal nanti penanamannya siklusnya di Januari nanam, Februari nanam, biar kontinyu," ucapnya.
Untuk pemasaran, Kampung Nanas Jumbo masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, WhatsApp, dan Instagram. Mereka juga rutin mengikuti pameran pertanian dan UMKM.
Selain budidaya dan olahan, Kampung Nanas Jumbo juga dikembangkan sebagai eduwisata. Eduwisata Kampung Nanas saat ini menyasar kelompok dewasa, seperti kelompok tani, PKK, hingga pensiunan. Sejumlah mahasiswa dan siswa SMK juga pernah magang, termasuk dari UGM, UPN, IPB, hingga SMK Pertanian.
"Jadi pengunjung diajak berkeliling kebun, belajar menanam nanas, hingga melihat penerapan smart farming," pungkasnya.


Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Hasil Piala Dunia 2026: Spanyol ke Final Usai Sikat Prancis 2-0