Tak punya lahan bukan menjadi alasan bagi warga di Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja, untuk berhenti bercocok tanam. Warga menyulap area di atas selokan atau kalen menjadi kebun sayur organik.
Pantauan detikJogja di lokasi, kebun tersebut berada di atas selokan di samping gang. Sepanjang selokan itu ditanami berbagai jenis sayuran yang tumbuh subur. Kebun tersebut dikelola Kelompok Tani Timoho Ngremboko yang beranggotakan sekitar 20-25 warga RT 80 dan RT 81, RW 19 di Jalan Melati Wetan I, Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja.
Pengelola sekaligus bendahara kelompok, Daryanti, mengatakan kegiatan tersebut bermula dari ibu-ibu yang menanam tanaman obat keluarga (TOGA) pada 2022.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya itu kan cuma ibu-ibu. Belum ada PPL-nya, baru kita sendiri. Pertama kali itu nanamnya cuma TOGA," ujar Daryanti saat ditemui detikJogja di lokasi, Kamis (13/8/2026).
Seiring berjalannya waktu, kelompok tersebut mendapat pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian. Warga kemudian diarahkan untuk memanfaatkan area di sepanjang kalen untuk menanam sayuran.
"Mulai dari itu terus kita dibimbing untuk menanam sayuran di sepanjang kalen. Habis itu dapat modal dari dinas juga, kayak media, pupuk, bibit, pot," ujarnya.
Daryanti melanjutkan, pemanfaatan area selokan tersebut dilakukan lantaran warga tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam. Rumah-rumah di kawasan tersebut berdiri cukup rapat.
"Memang tidak ada lahan. Adanya cuma ini. Kita kan rumahnya sudah empet-empetan. Ya ini alhamdulillah ada selokan terus kita bersihin, terus kita tanami," tuturnya.
Kini kebun tersebut ditanami sekitar 25 jenis sayuran. Di antaranya kubis, kubis bunga, selada, kangkung, tomat, sawi, stroberi, terong, kucai, seledri, hingga loncang.
Tanaman yang dinilai paling awet untuk dipanen antara lain terong dan tomat. Sementara kubis dan kubis bunga hanya dapat dipanen sekali dari satu tanaman.
Salah satu gang yang dimanfaatkan warga menjadi kebun sayur organik di Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Menariknya, kata Daryanti, seluruh tanaman tersebut dibudidayakan secara organik. Warga menggunakan tanah yang dicampur pupuk kandang sebagai media tanam. Setelah sekitar setengah bulan, tanaman kembali diberi pupuk kandang.
"Semua organik. Karena kalau organik itu buahnya ada keistimewaannya. Kalau terong itu lebih manis, terus lebih awet kalau disimpan," katanya.
Daryanti melanjutkan, untuk menghemat biaya, warga juga memanfaatkan galon bekas sebagai pot tanaman. Galon tersebut diperoleh dari bank sampah yang berada di lingkungan RW setempat.
"Memang kita memanfaatkan yang ada. Di RW kita juga ada bank sampah. Sering ada yang menjual galon mineral, terus kita beli, terus bikin pot biar ngirit pengeluaran," jelasnya.
Selain sayuran, kata Daryanti, kelompok tani tersebut juga memelihara lele dan ayam. Sebanyak 300 bibit lele sebelumnya ditebar di sebuah kolam. Lele yang sudah dipanen kemudian dijual kepada warga sekitar. Sementara saat ini terdapat empat ekor ayam yang dipelihara kelompok.
"Ada lele terus kita juga memelihara ayam walaupun sedikit. Kemarin itu kita masukin 300 bibit, tapi alhamdulillah kemarin kan sudah dipanen dikit-dikit. Ya kita jual ke warga juga. Kalau ayam itu ada 4, soalnya kan baru," ucapnya.
Hasil panen sayuran pun tidak hanya dikonsumsi anggota kelompok. Daryanti menyebut, warga sekitar, anak kos, hingga masyarakat yang melintas dapat membeli hasil kebun tersebut.
"Kalau panen kita jual. Nanti kita share di PKK RT, PKK RW. Kalau enggak habis, saya kan jualan jamu kalau pagi keliling, nah itu saya bawa," ungkapnya.
Karena lahan yang terbatas, hasil panen memang tidak banyak dan tidak dilakukan setiap hari. Namun, hasil penjualan tetap dapat menjadi pemasukan bagi kelompok dan diputar kembali untuk membeli bibit maupun pupuk.
"Dikit-dikit tapi ajeg. Kalau sebulan itu ya kadang sampai Rp 300 ribu, kadang Rp 400 ribu, kadang Rp 200 ribu. Enggak mesti," katanya.
Daryanti mengatakan salah satu kendala yang sempat dihadapi kelompok adalah pengairan. Sebelum mendapat bantuan, warga harus menggunakan saluran air secara bergantian dengan aliran irigasi di wilayah lain.
"Kesulitannya kalau awal-awal itu air. Sebelum dapat dari BRI itu kita pakainya saluran ini. Air saluran ini kan kita bergantian. Alhamdulillah sekarang kita aman untuk pengairan," pungkasnya.

