Canggih! Pleret Bantul Bikin Pertanian Modern, Siram-Pupuk Tanaman Dibantu AI

Canggih! Pleret Bantul Bikin Pertanian Modern, Siram-Pupuk Tanaman Dibantu AI

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 20 Agu 2026 20:28 WIB
Pertanian modern yang dikembangkan Kalurahan Pleret Bantul.
Pertanian modern yang dikembangkan Kalurahan Pleret Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Kalurahan Pleret, Bantul, memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan internet untuk mengelola lahan pertanian. Nantinya, petani tidak perlu menyiram dan memupuk tanaman secara manual karena sudah otomatis dilakukan oleh konsep yang disebut internet of things (IoT).

Pantauan detikJogja, Kamis (20/8/2026), tampak bedeng gundukan tanah yang dibuat memanjang di atas permukaan lahan yang tertata rapi di lahan Banyu Kencono, Pleret. Ada tiga blok di lahan tersebut.

Tampak setiap bedeng terdapat pipa yang menjulang ke atas untuk penyiraman tanaman. Sedangkan di bagian bawah bedeng terdapat pipa yang dialirkan masuk ke dalam tanah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada pula sumur yang menjadi sumber air untuk penyiraman tanaman. Bahkan, terdapat solar cell pada bagian depan lahan tersebut.

ADVERTISEMENT

Lurah Pleret, Taufiq Kamal, menjelaskan awalnya kerap berinteraksi dengan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Pleret. Ternyata banyak generasi muda yang tidak tertarik pada sektor pertanian dan tergabung dalam Gapoktan.

"Lalu yang petani sudah berumur mengeluh soal keuntungan dari bertani. Nah, saat itu saya ajak untuk menanam tanaman organik, bahkan saya ajak mereka ke Kulon Progo. Tapi akhirnya tidak ada yang berminat," kata Taufiq saat ditemui di Pleret, Bantul, Kamis (20/8) sore.

Taufiq lalu mengajak petani-petani di Gapoktan Pleret untuk menanam sayuran namun ditolak. Taufiq mengenang kala itu para petani menilai jika menanam sayuran lebih repot perawatannya.

Dari situ Taufiq lalu mengunjungi lahan pertanian di Jawa Tengah. Dari kunjungannya itu, Taufiq menilai jika lahan pertanian di Pleret bisa untuk menanam sayuran.

"Kemudian kita anggarkan aja di perencanaannya, kita mengonsep namanya pertanian terpadu berbasis IoT," ujarnya.

Perlu diketahui, IoT adalah konsep saat berbagai benda fisik dilengkapi dengan sensor dan internet agar dapat saling terhubung, mengumpulkan data, dan dikendalikan dari jarak jauh tanpa perlu bantuan manusia secara terus-menerus.

"Nah, kita mulai tahun ini dengan perencanaan tadi di lahan setengah hektare, itu TKD ya, dan kemarin (19/8) penanaman perdananya," ucapnya.

Dia mengakui penting untuk membuktikan jika pertanian berkonsep IoT ini berhasil. Sebab, jika berhasil orang-orang, khususnya petani, di Pleret akan tertarik.

"Kegiatan kemarin itu penanaman perdana lewat kegiatannya kami, kumpulan Gapoktan rutin. Karena kalau hanya teori itu susah, harus diberi contoh dulu baru mereka tertarik," katanya.

Penanaman perdana dengan sistem ini dilakukan dengan menanam pare dan bawang merah. Sedangkan blok ketiga rencananya untuk penanaman cabai keriting.

Taufiq mengakses bantuan keuangan khusus (BKK) Desa Mandiri Budaya sebagai modal pembiayaan penanaman ini. Di mana BKK tersebut berasal dari Dana Keistimewaan (Danais).

"Lewat BKK Desa Mandiri Budaya. Artinya kemandirian kami saya coba dengan waktu itu karena Pleret terkenal dengan ketahanan pangan, zamannya Sultan Agung. Nah, masak saya tidak bisa mengembalikan seperti zaman Sultan Agung," ujarnya.

Pertanian modern yang dikembangkan Kalurahan Pleret Bantul.Pertanian modern yang dikembangkan Kalurahan Pleret Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Bisa Siram-Pupuk Tanaman Otomatis

Sedangkan manfaat menggunakan konsep IoT untuk sektor pertanian, Taufiq menjelaskan nantinya petani tidak perlu menyiram air dan memberi pupuk cair secara manual. Mengingat dengan IoT, penyiraman dan pemupukan bisa berlangsung secara otomatis bahkan tanpa perlu adanya instruksi mengunakan suara.

"Jadi dengan IoT itu perawatan tanaman bisa selesai dengan memanfaatkan teknologi. Kenapa bisa menyiram otomatis itu karena di lahan sudah kita pasang sensor, jadi kalau tanahnya lembab, kering atau pH tidak sesuai langsung otomatis (menyiram)," ucapnya.

Teknisnya, sensor yang terpasang di lahan pertanian akan mengirim data melalui internet, karena di lahan tersebut terpasang WiFi. Kemudian data itu diolah setiap waktu sehingga akan menimbulkan aksi berupa menyiram air atau pupuk cair.

"Kita juga integrasikan dengan kecerdasan buatan, jadi kecerdasan buatan tinggal dikasih knowledge (pengetahuan) saja. Jadi tidak perlu omong tolong nyalakan air, sirami air gitu karena sudah ada pengetahuan itu tadi," katanya.

Selain itu, IoT yang Taufiq manfaat bukan dalam bentuk aplikasi melainkan web. Di mana dalam web tersebut terdapat dashboard.

"Jadi semuanya konsepnya internet, memanfaatkan teknologi untuk perawatan (tanaman) dan petani bisa jadi bos karena tinggal memantau saja," lanjut Taufiq.

Terkait biayanya, Taufiq mengakui memang tidak sedikit. Dana yang dibutuhkan mencapai puluhan juta rupiah.

"Sekitar Rp 67 juta untuk alatnya, itu sudah komplet sama solarcell dan lain-lain. Artinya itu investasi yang cukup panjang, gitu," ujarnya.

Terkait sudah berapa petani yang memanfaatkan konsep IoT dalam pertanian, Taufiq menyebut belum ada. Karena kembali lagi semua itu baru Taufiq mulai tahun ini dan penanaman perdananya kemarin.

"Lha kan contohnya dari kita toh, usahane kita toh, nanti kita coba dulu. Kemarin kita launching juga bareng para Gapoktan. Jadi besok kalau mereka tahu hasilnya pasti tertarik, gitu," ujarnya.

Apabila petani di Pleret sudah mengusung konsep IoT dalam bercocok tanam kedepannya bukan tidak mungkin lahan pertanian di Pleret menjadi tempat wisata. Bahkan, jika konsep itu berhasil BUMKal bisa menjualnya dan menambah pendapatan Kalurahan Pleret.

Sementara itu, Teknisi IoT, Saifudin menambahkan alasan menggunakan solar cell agar tidak bergantung dengan PLN. Mengingat listrik yang dibutuhkan untuk pertanian berkonsep IoT sangat besar.

"Ini kan butuh 1,5 kilowatt listrik, jadi kami pilih pakai solar cell yang tidak bayar," ucap Saifudin.

Selain itu, pembuatan sumur agar menjaga kualitas air untuk penyiraman tanaman. Menurut Saifudin, air tanah memiliki kualitas yang bagus untuk penyiraman tanaman.

"Selain itu juga menekan pengeluaran," ujarnya.

Dia menjelaskan ada sensor yang ditanam di dalam tanah. Gunanya untuk mengecek kelembapan hingga temperatur cuaca.

"Sensor ditanam di tanah, sensor itu memantau kelembaban udara, tanah, lalu cuaca khususnya temperatur. Jadi kalau hujan ya tidak ada penyiraman," katanya.

Meski memanfaatkan teknologi untuk perawatan tanaman, Saifudin mengaku masih melibatkan manusia. Adapun manusia itu untuk mengontrol hal-hal teknis pada peralatan pertanian.

"Penanaman tetep pakai manusia, pengontrolan baling-baling untuk penyiraman juga karena bisa saja baling-balingnya jebol kan harus manusia yang memperbaiki," ujarnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Mobil Masuk Jurang di Polanharjo Klaten gegara Liat Google Maps"
[Gambas:Video 20detik] (ams/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads