Ini Kendala Mengembangkan Kampung Nanas Pakai Galon Bekas di Seyegan Sleman

Ini Kendala Mengembangkan Kampung Nanas Pakai Galon Bekas di Seyegan Sleman

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 20 Agu 2026 06:27 WIB
Penampakan pohon nanas jumbo media galon bekas di samping rumah warga Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo, Seyegan, Sleman, Rabu (19/8/2026).
Penampakan pohon nanas jumbo media galon bekas di samping rumah warga Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo, Seyegan, Sleman, Rabu (19/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Sleman -

Di Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo, Padukuhan Barak, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman, terdapat inovasi menanam nanas jumbo dengan menggunakan media galon bekas. Namun, inovasi itu ternyata sulit dikembangkan di kampung nanas karena alasan ini.

Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo diinisiasi sejak 2023 oleh Jamaludin Nur Ridho (25), petani milenial pemilik Jamal Farm. Jamal bercita-cita memajukan ekonomi warga Padukuhan Barak lewat nanas yang sudah ia kembangkan mulai tahun 2020.

"Saya pengin, apa yang bisa saya kontribusikan untuk masyarakat," jelas Jamal saat ditemui di Jamal Farm, Minggu (16/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena ingin setiap rumah memiliki pohon nanas jumbo berjenis Smooth Cayenne Filipina yang sudah ia tanam sebelumnya, Jamal pun memilih metode pertanian perkotaan atau urban farming. Caranya dengan memanfaatkan galon bekas sebagai medianya.

Jamal menggandeng para pemuda Padukuhan Barak, mengedukasi warga, untuk mau menanam nanas. Harapannya Nanas jumbo ini bisa menambah income bagi warga, dan Barak menjadi kampung nanas bergaya edufarm.

ADVERTISEMENT

"Petani milenial yang dimaksud adalah urban farming di pekarangan, samping rumah ada tanaman nanas yang menghasilkan, hanya modal galon," jelas Jamal.

Jamal mulai dari tempatnya sendiri dengan menanam satu pohon nanas jumbo. Hasilnya memuaskan hingga mendapat perhatian dari pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten Sleman. Imbasnya, dana bantuan pun berdatangan.

Dana itu Jamal pakai untuk membeli dan membagikan bibit nanas kepada seluruh warga secara gratis. Mulai satu bibit untuk satu rumah, hingga 5 bibit untuk satu rumah. Namun, ternyata cita-citanya sulit untuk direalisasi pada awalnya.

"Mulai dari situ kita disupport oleh pemerintah, disupport banyak pihak, mengembangkan pelan-pelan. Satu rumah kita bagi satu tanaman, ada dana lagi kita bagi 3 tanaman," papar Jamal.

"Sangat sulit (mengedukasi warga), mereka kalau dikasih menerima, tapi ada yang ditaruh di depan rumah ditinggal pergi, ada yang nggak ditanam sampai mati, ada yang ditanam tapi tidak dipupuk tidak dirawat. Pelan-pelan mereka melihat, oh kok buahnya gede-gede ya," imbuhnya.

Penampakan pohon nanas jumbo media galon bekas di samping rumah warga Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo, Seyegan, Sleman, Rabu (19/8/2026).Penampakan pohon nanas jumbo media galon bekas di samping rumah warga Kampung Nanas Amargaluwih Jumbo, Seyegan, Sleman, Rabu (19/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Setelah melihat sendiri hasil nanas jumbonya, perlahan bibit-bibit nanas jumbo mulai tersebar dan hidup di hampir seluruh rumah di padukuhan Barak.

Dukuh Barak 1, Sirmanto mengatakan, warga sangat antusias untuk menanam nanas setelah melihat hasilnya. Di samping itu, nanas dianggap tanaman yang bandel, tidak mengganggu, dan minim perawatan.

"(Dibagi bibit nanas jumbo) Gratis. Itu dulu-dulu per RT di sini. Di Barak 1 itu ada 2 RW, RW 14 sama 15. Terus ada 5 RT, RT 1, RT 2, RT 3, Itu dj RW 14. RT 15 itu RT 4 sama RT 5. KK-nya sekitar rata-rata tuh per RT tuh hampir sama, Mas, 55 KK," papar Sirmanto saat ditemui di kediamannya, Rabu (19/8).

"Sosialisasi kita kan di perkumpulan RT, itu dulunya dibagi gratis sama Mas Jamal. untuk masyarakat kan nggak beli itu cuman pakai galon, daripada dibuang, terus dipotong, dilubangi, kasih pohon. Kalau sambil berjalan coba jenengan amati nanti kan setiap rumah mesti ada," imbuhnya.

Kendala Pengembangan

Setelah masyarakat mulai menanam nanas, asa padukuhan Barak menjadi Kampung Nanas pun berkobar. Namun, tujuan utamanya tetap menjadikan nanas jumbo menjadi pendapatan warga. Sehingga masih banyak langkah yang harus ditempuh.

Di sisi lain, nanas adalah tanaman tahunan yang membutuhkan waktu minimal setahun untuk panen.

"Nanas kan tanaman tahunan, dia akan berbunga di usia 7-8 bulan, dia akan panen di usia 11-12 bulan, dari bunga sampai buah butuh waktu 3-4 bulan," papar Jamal.

Waktu yang lama membuat hasil panen lama dinikmati warga. Sesudah panen pun, warga memilih untuk mengonsumsinya sendiri. Padahal Jamal sudah menawar nanas warga untuk ia beli.

"Karena warga kan menanamnya rata-rata 5 pohon setiap rumah, rata-rata mereka konsumsi sendiri," ujar Jamal.

"Punya warga selalu habis dimakan sendiri, jadi setiap mau saya beli, (jawabnya) 'nggak mas ini nanti sudah dipesan bapak buat (suguhan) ronda', 'nggak mas ini mau buat buah potong saat arisan', 'nggak mas ini mau dimakan sendiri'," lanjutnya.

Sementara, Sirmanto menambahkan, karena lamanya menikmati hasil panen, membuat warga mulai malas menanam nanas dengan proper. Nanas tetap ditanam, namun tidak dirawat dengan proper. Warga bahkan mengganti nanas dengan menanam cabai karena lebih cepat panen.

Dua hal itu yang menyebabkan inovasi nanas jumbo dengan media galon di kampung nanas urung berkembang menjadi tambahan pendapatan bagi warga.

"Pendapat mereka-mereka itu kalau nanas itu terlalu lama untuk menikmati hasilnya, jadi setelah berbuah nanas itu dibiarkan. Masyarakat itu kalau yang udah panen itu biasanya, 'wah tak ganti wae, cabai', soalnya cepat (panen) toh, Mas," ungkap Sirmanto.

"Sebenarnya itu program Mas Jamal itu bagus banget. Cuma minat masyarakat tuh maunya yang instan, besok nanam, besok panen. seperti itu man nggak ada. Wong kita bertani, bercocok tanam nanam cabai 4 bulan. Kita nanam padi bulan juga. Apalagi nanas kalau instan nggak bisa," pungkasnya.



(alg/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads