Warga Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Jogja, mengeluhkan bau tak sedap yang muncul siang-malam. Ternyata bau itu dipicu dari aktivitas operasional pabrik pengolahan kulit di wilayah itu. Pemkot Jogja hingga DPRD Jogja pun turun tangan.
Ketua RW 13 Prawirodirjan, Wikan Eko, menceritakan bau tak sedap ini sudah dirasakan oleh warga cukup lama. Namun belakangan, bau yang muncul makin dirasa warga semakin parah setidaknya tiga bulan terakhir.
"Baunya itu lho yang paling dirasakan warga, sangat menyengat siang maupun malam. Apalagi nek (kalau) angin berembus ke arah timur, wah semakin bau. Sudah tiga bulanan lebih," ujar Eko saat ditemui di Prawirodirjan, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eko menyebut bau itu dikhawatirkan warga dapat menyebabkan penyakit. Belum lagi soal limbah pabrik yang menurutnya dibuang di parit belakang pabrik.
"Keluhan seperti ISPA pada anak-anak, memang ada. Nggak tua nggak muda sama aja (terdampak). Tapi ya kalau secara medis tentu perlu diperiksa dokter lebih lanjut untuk memastikan hubungannya," terangnya.
Eko mengaku warga telah berulang kali menyampaikan aduan secara langsung kepada pihak pabrik. Namun hingga kini respons positif tak kunjung didapat warga. Akhirnya, warga berinisiatif melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja dan DPRD Kota Jogja.
Pemkot Jogja Gelar Sidak
Dari hasil laporan itu, DLH dan DPRD Kota Jogja pun melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pabrik bernama PT Sinar Obor, hari ini (6/8).
"Kami sidak ke sini, (keluhan itu) bener ndak, ternyata ambune ora karu-karuan (baunya tidak karuan). Ini kalau warga tiap hari begini ya tidak bisa napas, bisa sesak," kata Ketua DPRD Kota Yogyakarta saat ini adalah FX. Wisnu Sabdono Putro usai sidak.
Kepala DLH Kota Jogja Rajwan Taufiq menambahkan pihaknya menemukan beberapa masalah teknis dalam sistem pengelolaan limbah pabrik yang memicu bau menyengat dari hasil sidak tersebut. Salah satunya tidak optimalnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik.
"Ada beberapa hal yang membuat keluhan warga terkait bau limbah. Pertama aerator-nya mati, otomatis pemrosesan IPAL menjadi tidak berjalan sesuai SOP, sehingga limbah yang ada menimbulkan bau menyengat," papar Rajwan.
"Kita juga menemukan ada sebagian dari limbah itu yang masuk ke saluran air hujan. Kemudian ketiga, ada kebocoran saluran sehingga ini juga yang memicu aroma tidak sedap," sambungnya.
Meski begitu, Rajwan mengungkapkan jika sidak ini baru sebatas penelusuran awal. Untuk itu pihaknya bakal mengerahkan tim ahli lingkungan khusus untuk investigasi lebih dalam dan secara menyeluruh.
"Tim nanti akan cek kualitas air, cek sumur warga, dan baku mutu udara dengan alat yang relevan. Mengenai limbah padatnya juga akan kami detailkan, dibuang ke mana dan berapa hari sekali pengambilannya, karena data sementara masih belum detail," jelas Rajwan.
Setelah hasil penelusuran terbit, Rajwan bilang, pihaknya akan menerbitkan rekomendasi untuk pihak pabrik. Ia juga tak menutup kemungkinan akan menjatuhkan sanksi apabila terbukti ada pelanggaran tata kelola lingkungan, baik kategori ringan, sedang, hingga berat.
"Setelahnya nanti kita sampaikan rekomendasi tindak lanjut kepada pabrik. Lalu pada batas waktu yang ditentukan, kita duduk bersama lagi menghadirkan warga, DPRD, dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan progresnya," ujarnya.
Pabrik Ungkap Biang Kerok Bau Tak Sedap
Direktur PT Sinar Obor, Amir, menjelaskan bau tak sedap yang dikeluhkan muncul dari salah satu aerator yang mengalami kerusakan. Ia pun berjanji pihaknya akan melakukan perbaikan kerusakan aerator dan saluran limbah air.
"Perlu perbaikan kurang lebih (memakan waktu) seminggu, jadi terkendala perbaikan itu menimbulkan bau busuk," ujar Amir.
"Kita akan perbaiki kerja sama sama pihak DLH. Sampai akhir bulan kita harus bangun-bangun (melakukan pembangunan) cukup banyak ini bangunnya," pungkasnya.

Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia