Tak sedikit orang menganggap psikolog dan psikiater adalah profesi yang sama. Padahal, keduanya memiliki fokus, kompetensi, dan kewenangan yang berbeda dalam penanganan pasien. Kesalahpahaman ini kerap menimbulkan kebingungan ketika seseorang memerlukan konsultasi atas kondisi psikologisnya.
Pada masa yang mulai menyadari betapa pentingnya kesehatan mental ini, pemahaman akan perbedaan psikolog dan psikiater menjadi hal yang tak bisa diabaikan. Keduanya memang sama-sama membantu dalam mengatasi gangguan mental, tetapi dengan cara yang berbeda. Perbedaan cara itulah yang perlu diketahui agar penanganan atas kondisi psikologis kita bisa lebih efektif.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan antara psikolog dan psikiater? Berdasarkan penjelasan di buku Psikolog atau Psikiater oleh Riani dan Mengenal Profesi Psikolog yang ditulis oleh Dadan Kurniawan, terdapat beberapa perbedaan dari kedua profesi tersebut. Yuk simak penjelasan lengkapnya via uraian berikut!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Psikolog?
Psikolog merupakan seorang ahli dalam bidang psikologi. Lebih jelasnya, psikolog adalah seorang profesional yang berfokus pada asesmen atau pengujian psikologis, diagnosa perilaku, serta memberikan intervensi non-medis seperti psikoterapi maupun konseling. Psikolog memiliki landasan pendidikan ilmu psikologi yang umumnya berjenjang Magister Profesi.
Adapun berikut gangguan psikologis yang dapat ditangani oleh psikolog.
- Gangguan kecemasan, seperti gangguan obsesif kompulsif (OCD), fobia, serangan panik, atau post traumatic stress disorder (PTSD)
- Gangguan suasana hati atau mood, seperti depresi maupun gangguan bipolar.
- Kecanduan atau adiksi terhadap obat-obatan, alkohol, judi, dan lain sebagainya.
- Gangguan makan, semacam anoreksia maupun bulimia.
- Gangguan kepribadian
- Skizofrenia atau kondisi kejiwaan lain yang menunjukkan gangguan halusinasi pada penderitanya
- Gangguan psikologis terkait kejadian traumatis lainnya, seperti korban kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, bencana alam, dan lain sebagainya.
- Konflik pasien baik dengan pasangan, keluarga, maupun orang lain.
Apa Itu Psikiater?
Sementara itu, psikiater merupakan seorang dokter medis dengan gelar MD atau Sp.KJ yang telah mengambil spesialisasi dalam bidang kesehatan jiwa. Latar belakang pendidikan medis tersebut yang membuat seorang psikiater memiliki kewenangan untuk mendiagnosis gangguan mental, bahkan meresepkan obat-obat farmakologis maupun melakukan prosedur medis lainnya.
Dalam penanganan dan pelayanan, berikut penyakit atau kondisi yang perlu ditangani seorang psikiater.
- Gangguan mental organik
- Gangguan mental dan perilaku akibat penyalahgunaan zat psikoaktif, alkohol, dan obat-obatan terlarang.
- Gangguan tidur, seperti insomnia, hypersomnia, gangguan siklus tidur, mimpi buruk, dan tidur berjalan.
- Masalah seksual, seperti parafilia, penurunan gairah seksual, vaginismus, dyspareunia, gangguan orgasme, dan disfungsi seksual.
- Gangguan makan, seperti bulimia dan anoreksia.
- Gangguan emosional dan perilaku pada anak-anak atau remaja, contohnya gangguan perkembangan, disabilitas intelektual, gangguan tingkah laku, hiperaktif, dan autism.
- Gangguan kepribadian
- Gangguan kecemasan dan fobia, misalnya serangan panik dan PTSD
- Gangguan obsesif kompulsif (OCD)
- Psikosis, seperti skizofrenia
- Gangguan suasana hati, seperti bipolar dan depresi.
5 Perbedaan Psikolog dan Psikiater
Meski sudah tampak perbedaan dari psikolog dan psikiater dari uraian definisi tersebut, tetapi perlu diperjelas kembali melalui poin-poin. Hal tersebut untuk memperdalam pemahaman tentang perbedaan keduanya yang bukan hanya sekadar seorang 'profesional' dengan seorang 'dokter medis' saja. Berikut 5 perbedaan psikolog dan psikiater yang perlu kamu tahu.
1. Latar Belakang Pendidikan
Sebelum menjadi seorang psikolog, detikers harus menempuh pendidikan S1 di bidang psikologi selama kurang lebih empat tahun. Setelahnya perlu melanjutkan ke pendidikan profesi psikolog agar memiliki kewenangan membuka praktik dan menangani klien secara profesional.
Alur yang panjang juga dirasakan sebelum menjadi psikiater, tetapi dengan jalan yang berbeda. Jalan menjadi psikiater dimulai dari pendidikan kedokteran umum hingga meraih gelar dokter. Setelahnya harus mengambil residen selama empat tahun dengan pengkhususan di bidang psikiatri. Dengan begitu, barulah seseorang mendapatkan gelar spesialis kedokteran jiwa.
2. Kewenangan Pemberian Obat
Psikolog tidak diberi kewenangan dalam pemberian obat. mereka lebih berfokus pada aspek sosial pasien, seperti memberikan terapi psikologi atau psikoterapi.
Lain lagi dengan psikiater yang boleh memberikan terapi berupa obat-obatan atau bahkan farmakoterapi. Jadi, mereka tidak hanya melakukan penanganan secara sosial seperti yang dilakukan psikolog.
3. Kompetensi
Psikolog memiliki kompetensi untuk melakukan tes psikologi. Mereka akan memberikan beragam tes psikologis untuk mengetahui masalah yang dialami pasien. Tes tersebut beragam, mulai dari tes IQ, minat bakat, dan kepribadian.
Dalam hal ini, psikolog klinis memiliki kompetensi yang hampir sama dengan psikiater. Mereka dapat menangani kasus kejiwaan, mendiagnosis, bahkan melakukan penanganan berupa psikoterapi. Namun, tentu pemberian obat dan tindakan selebihnya tidak berhak mereka lakukan.
Di sisi lain, psikiater memiliki kompetensi dalam mendiagnosis gangguan mental beserta pengobatan yang perlu dilakukan. Mereka memiliki wewenang untuk menentukan pengobatan pasien yang ditangani. Penanganan tersebut tidak hanya perkara obat saja, tetapi juga terapi stimulasi otak, pemeriksaan fisik, bahkan cek laboratorium.
4. Kondisi Pasien yang Ditangani
Pasien yang ditangani psikolog umumnya memiliki kondisi gangguan yang masih bisa dibantu secara efektif dengan perawatan psikologis. Kondisi tersebut contohnya seperti masalah perilaku, kesulitan belajar, depresi, dan kecemasan.
Berbeda dengan pasien prikiater yang memang memerlukan pertimbangan medis, psikologis, dan sosial dalam penanganannya. Pasien dengan gangguan depresi berat, skizofrenia, hingga gangguan bipolar merupakan contoh dari seseorang yang perlu ditangani psikiater.
5. Cara Konsultasi
Terakhir mengenai cara berkonsultasi pun keduanya berbeda. Jika seseorang ingin berkonsultasi dengan psikiater, maka ia perlu rujukan dari dokter umum. Namun, hal demikian tidak berlaku untuk psikolog. Setiap orang bisa dengan bebas langsung berkonsultasi ke psikolog, tanpa melalui dokter umum maupun rujukan siapapun.
Demikian perbedaan psikolog dan psikiater yang perlu kamu tahu sebelum benar-benar memutuskan arah karir nantinya. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom

Komentar Terbanyak
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal
Curhat Pedagang di Jogja Malah Sepi Pembeli Usai Pasar Direnovasi