Sejumlah sopir becak motor (bentor) protes meminta keringanan terkait rencana Malioboro full pedestrian 24 jam mulai November mendatang. Begini respons Dinas Perhubungan (Dishub) DIY.
Saat mendatangi kantor Dishub DIY, kemarin, para sopir bentor itu meminta agar pemerintah tetap mengizinkan bentor beroperasi di Malioboro sampai seluruh pengemudi memperoleh kendaraan pengganti.
Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti mengatakan keluhan para pengemudi bentor itu bakal disampaikan ke jajaran Pemda DIY.
"Kalau aspirasi dari bapak-bapak bahwa saat ini menghendaki ada separuh jalan digunakan, kami akan komunikasikan," kata Erni di Kantor Dishub DIY, Kamis (30/7/2026).
"Kami akan sampaikan aspirasi bapak-bapak supaya ada kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan bapak-bapak di lapangan," imbuhnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) Parmin mengatakan pihaknya mendukung rencana pemerintah terkait penataan Malioboro menjadi kawasan full pedestrian. Namun, pihaknya berharap agar kebijakan itu dibarengi solusi bagi pengemudi bentor yang menggantungkan penghasilan di Malioboro.
"Tidak ada persoalan. Kami mendukung full pedestrian karena demi tercapainya program pemerintah. Tapi jangan kami dikorbankan," ujar dia kepada wartawan di kantor Dishub DIY, Kamis (30/7/2026).
Parmin meminta pemerintah tetap mengizinkan bentor beroperasi di Malioboro sampai seluruh pengemudi memperoleh kendaraan pengganti.
"Selama teman-teman kami belum mendapat bantuan betrik dari pemerintah, ya kami tolong teman-teman bisa mengais rezeki di sepanjang jalur pedestrian. Jangan terus asal menutup," ujarnya.
PBMY juga meminta agar akses di sejumlah ruas atau sirip Malioboro tidak ditutup sepenuhnya saat pelaksanaan car free day (CFD). Parmin berharap, setidaknya separuh badan jalan masih bisa digunakan agar bentor tetap dapat melintas.
"Yang kami minta satu minggu itu separuh jalan jangan ditutup," ucap Parmin saat berorasi di hadapan massa.
Menurut Parmin, penutupan akses pada akhir pekan berdampak langsung terhadap pendapatan para pengemudi bentor. Ia menyebut Sabtu dan Minggu merupakan waktu dengan jumlah wisatawan paling banyak.
"Sabtu-Minggu itu tamu banyak. Kalau ditutup jelas merugikan teman-teman becak motor," kata Parmin.
Menurut dia, pengemudi bentor rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp 100 ribu per hari dalam kondisi normal. Adapun jumlah bentor yang beroperasi di kawasan Malioboro diperkirakan mencapai sekitar 900 unit.
"Kalau normal harian ya paling tidak Rp 100 ribu. Kalau bentor di sepanjang Malioboro itu ada sekitar 900," ujarnya.
Parmin juga mengungkapkan soal kondisi becak listrik bantuan pemerintah. Dia bilang, dari sekitar 80 unit yang telah dibagikan, hampir separuhnya mengalami kerusakan.
"Baru sekitar 80 yang dapat. Ternyata banyak yang rusak. Sekitar 40 sampai 50 unit rusak, mesinnya tidak bisa digunakan," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah tidak memaksakan penerapan full pedestrian sebelum proses penggantian bentor menjadi becak listrik benar-benar tuntas dan kendaraan yang telah dibagikan dipastikan berfungsi dengan baik.
Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"
(dil/ahr)