Persiapan Satlantas Atur Jogja Last Friday Ride Lewat Malioboro

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 28 Jul 2026 07:00 WIB
Suasana Kawasan Malioboro, Kota Jogja saat uji coba penerapan bebas kendaraan, Selasa (7/10/2025). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Jogja Last Friday Ride (JLFR) mendapatkan izin dari Pemkot Jogja melintas di kawasan Malioboro. Dengan kepastian tersebut, pihak kepolisian akan menyiapkan skema rekayasa lalu lintas saat gelaran JLFR yang berlangsung setiap Jumat akhir bulan.

Kasat Lantas Polresta Jogja, AKP Alvian Hidayat, menjelaskan sebagaimana hasil diskusi terakhir mengarah pada penggunaan lajur kanan atau sisi barat Jalan Malioboro bagi rombongan pesepeda. Sementara lajur kiri tetap difungsikan untuk jalur Trans Jogja agar layanan transportasi umum tidak terganggu.

"Rencana kalau kemarin diskusi terakhir itu yang kanan ataupun yang sisi barat. Karena yang sisi kiri itu kan digunakan untuk TJ (Trans Jogja). Karena Trans Jogja tetap masuk walaupun CFN (Car Free Night), jadi harapannya supaya TJ sebagai moda transportasi umum tetap beroperasi dengan maksimal," tutur Alvian saat dihubungi detikJogja, Senin (27/7/2026).

Selain itu, Alvian menambahkan, pihaknya juga akan membagi ruang di kawasan pedestrian Malioboro. Satu lajur disiapkan untuk pesepeda, sedangkan lajur lainnya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan wisatawan.

"Diupayakan tetap saling berbagi ruang. Satu lajur untuk para pesepeda, satu lajur lagi untuk pejalan kaki ataupun wisatawan yang berjalan kaki," katanya.

Guna memastikan, rekayasa lalu lintas berjalan sesuai rencana maka sejumlah petugas akan ditempatkan di sejumlah titik.

"Yang pasti kita penggelaran pasukan secara maksimal. Di simpul-simpul khususnya yang di seputaran Kleringan itu pasti akan kita pertebal supaya mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas dan kenyamanan setiap pengguna jalan," tegasnya.

"Nah, dan itu nanti kita akan membersamai. Dari sektor pemerintah nanti akan membersamai, menyambut saudara-saudara kita nanti mungkin di sekitaran pintu masuk Malioboro," tuturnya.

Alvian menyampaikan skema tersebut merupakan hasil pembahasan sementara bersama Pemkot Jogja. Kendati begitu, pihaknya masih akan melakukan koordinasi lanjutan dengan Dinas Perhubungan untuk mematangkan teknis pelaksanaan.

"Nanti kita akan berembuk. Mungkin satu-dua hari ini berembuk dengan Pak Kadishub untuk gambaran terakhirnya. Tapi yang pasti kita sudah siap dan kita sudah berkoordinasi, kita siap berkolaborasi. Bahwasanya pemerintah juga membersamai teman-teman untuk melaksanakan JLFR ini dengan aman dan tertib, sehingga setiap pengguna jalan harapannya tidak ada yang terganggu," pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti mengatakan tidak ada kebijakan dari pemda atau pun pemkot yang melarang aktivitas bersepeda dilakukan di kawasan Malioboro, termasuk JLFR. Menurutnya, semua pengguna jalan punya hak yang sama untuk memanfaatkan ruas jalan ikon Kota Jogja itu.

Erni menjelaskan, penegasan tersebut untuk menanggapi kekhawatiran publik serta isu yang beredar mengenai larangan penuh bersepeda di kawasan Malioboro. Isu tersebut berhembus usai adanya penertiban peserta JLFR di kawasan Jalan Malioboro pada Jumat (26/6) lalu.

Diketahui, saat itu pembatasan aktivitas pesepeda diberlakukan demi menjaga kelancaran dan ketertiban lalu lintas pada masa libur sekolah.

"Jadi kalau anggapannya kami melarang itu, tidak benar, karena semuanya (pengguna jalan) punya hak yang sama. Tetapi tentang bagaimana kita bisa memberikan hak kepada pengguna jalan yang lain juga, bagi pengguna (jalan) yang tidak bersepeda. Semuanya harus berbagi tempat dan saling menghargai," kata Erni usai mengikuti Rapat Koordinasi Lintas Instansi terkait penyelenggaraan JLFR, di Balai Kota Jogja, Senin (20/7).

Erni menekankan, ketertiban dan sikap saling menghormati serta menghargai dari para pesepeda JLFR penting lantaran Jalan Malioboro memiliki ruang yang terbatas. Maka itu, jika pesepeda sampai memenuhi badan jalan, dikhawatirkan dapat mengganggu pengguna jalan lain, terlebih jumlah peserta JLFR yang mencapai ribuan.

Erni berharap para peserta JLFR pada akhir bulan ini dapat memberikan hak yang sama bagi pengguna jalan lain yang tidak menggunakan sepeda. Ia juga mengimbau agar JLFR diselenggarakan secara tertib dan tetap mengindahkan peraturan lalu lintas.

"Jangan sampai tidak menaati. Kalau nanti satu stuck, crowded semua nanti," ujar Erni.

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, juga memastikan tidak akan ada skema pengamanan yang berlebihan dari jajarannya dalam mengawal pelaksanaan JLFR pada 31 Juli 2026.

"Pemerintah kota bersama Forkopimda menerima dengan baik (penyelenggaraan JLFR). Tidak ada masalah, tidak ada pelarangan, tidak ada skema (pengamanan) yang khusus, itu tidak ada. Yang jelas kita akan lebih banyak membersamai, begitu, membersamai mereka," kata Hasto.

Mengenai pergerakan dan rute peserta, Hasto mengatakan, rombongan pesepeda yang mengikuti JLFR dapat memasuki pusat Kota Jogja melalui berbagai arah. Tidak ada pembatasan jalur masuk bagi peserta yang datang dari wilayah sekitar.

Ia juga memastikan kawasan inti Sumbu Filosofi, termasuk Malioboro, tetap terbuka dan dapat dilintasi para pesepeda sebagaimana biasanya. Hasto menjelaskan, peserta bisa memasuki kota dari berbagai wilayah, seperti Bantul, Kulon Progo, Sleman, maupun kawasan timur Jogja.

"Saya kira semua jalur itu bisa masuk, dan itu (Malioboro) terbuka, intinya itu terbuka," tegas Hasto.



Simak Video "Menikmati Keseruan di Malioboro, Yogyakarta"

(apl/apl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork