Menanti Solusi Pemkot untuk Gilang Difabel Penjual Rambak di Pasar Ngasem

Menanti Solusi Pemkot untuk Gilang Difabel Penjual Rambak di Pasar Ngasem

Tim detikJogja - detikJogja
Minggu, 26 Jul 2026 06:10 WIB
Gilang Rizki (29) disabilitas netra penjual kerupuk rambak di Pasar Ngasem, Rabu (22/7).
Gilang Rizki (29) disabilitas netra penjual kerupuk rambak di Pasar Ngasem, Rabu (22/7). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Gilang Rizki (29), penyandang disabilitas netra, bisa sedikit bernapas lega usai mendapat tumpangan lapak dari salah satu Pedagang Pasar Ngasem. Meski begitu, Gilang masih menanti solusi dari Pemkot Jogja.

Diketahui, Gilang terancam terusir dari Pasar Ngasem karena berjualan rambak secara asongan. Pihak Pemkot Jogja menyatakan pedagang asongan memang dilarang di Pasar Ngasem. Namun Pemkot masih berusaha mencari solusi agar Gilang bisa tetap mencari nafkah di Jogja.

Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Pedagangan (Disdag) Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo, mengatakan pihaknya telah melakukan audiensi bersama para pedagang untuk membantu mencari solusi. Tak hanya untuk Gilang, namun juga pedagang asongan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami kan dengan kondisi Pasar Ngasem saat ini kan juga kesulitan untuk mencoba membantu solusinya," jelas Gunawan saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).

ADVERTISEMENT

Pihaknya telah menawarkan alternatif kepada para pedagang asongan. Seperti sistem titip jual atau mencarikan lapak di pasar lain.

"Nah beberapa alternatif solusi kalau terkait titip jual. Kemudian saya kalau coba misal berkenan di pasar yang lain, saya bantu untuk menjadi pedagang di pasar yang lain," sambungnya.

Diberi Tumpangan Lapak

Dia mengatakan saat audiensi itu ada pedagang yang menawarkan Gilang untuk berjualan di lapaknya. Gilang diberi sedikit ruang di sudut losnya untuk bisa ditempati.

"Nah pada saat itu kita coba komunikasikan, beberapa teman-teman pedagang itu berkenan untuk membantu, tidak hanya titip jual, tapi mungkin berkarya bersama. Nah, salah satunya dari (warung) Yu Jumilah," ujar Gunawan.

Untuk urusan retribusi, kata Gunawan, tanggung jawab masih berada di si empunya los lapak. Meski tak merinci besarannya, Gunawan memastikan tarif retribusi di Pasar Ngasem masih sangat murah. Besaran retribusi juga berbeda tiap los, bergantung luas, posisi, dan jenis dagangan.

"Nek retribusi kan menjadi tanggung jawab atas nama, yang pemegang alas haknya, dan kalau di retribusinya kalau di kita kan memang ngapunten nggih sangat murah. Jadi tentunya (warung) Yu Jumilah semangatnya pengin membantu. Semoga nanti Mas Gilang atau teman-teman yang lain bisa berkarya atau mengais berkah di Pasar Ngasem," paparnya.

Pemkot Masih Cari Solusi

Meski begitu, Gunawan menyebut pihaknya masih mencari solusi untuk Gilang dan pedagang asongan lainnya. Gunawan menyebut permasalahan pedagang asongan ini akan menjadi perhatian Pemkot Jogja.

"Masih (akan dicarikan solusi), Mas. Kami masih berupaya. Kan juga masih ada ini teman-teman asongan lain juga, dan sebagainya, tidak hanya di Ngasem juga sih, di beberapa pasar kami kan juga kathah (banyak)," terangnya.

Gilang sendiri masih menanti solusi jangka panjang dari Pemkot Jogja. Namun, ia mengaku bersyukur bisa bertahan di Pasar Ngasem.

"(Oleh pemilik los) Yowes aku suruh pindah ke situ aja, ada space kecil, itu lumayan, sudah cukup banget buat jualan aku. Sebenarnya itu lapaknya beliau, buat makan, terus dikasih meja buat aku jualan," ujar Gilang saat dihubungi.

"Untuk pemerintah, ini gimana? Apa emang dari dinasnya emang nggak punya solusi? Wong tempat dikasih yang punya jenang. Untuk ke depan mau gimana? Apakah akan memfasilitasi teman-teman disabilitas?" pungkasnya.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads