Seorang pedagang kerupuk rambak penyandang Disabilitas, Gilang Rizki diminta tak lagi dagangan di Pasar Ngasem Kota Jogja. Meski menyadari bahwa pedagang liar dilarang di Pasar Ngasem, namun Gilang mengaku tak punya pilihan untuk mengais rezeki.
Gilang menuturkan dia didatangi oleh petugas pasar pada Sabtu (18/7), saat ia menggelar dagangan di depan gapura pasar Ngasem. Dia menyebut mengusiran itu dilakukan dengan cara halus tanpa tindakan represif.
"Kemarin aku dibilangin. Iya (ada yang mendatangi), kayak petugas sananya. Aku dibilang gitu, 'sebenarnya nuwun sewu ya, Mas. Ini sebenarnya tuh udah nggak boleh yang liar-liar gitu, gimana kalau misal cari tempat lain?'," terang Gilang saat dihubungi detikJogja, Minggu (19/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah aku diam aja tho, aku mikir, cari tempat lain ya kalau sekarang tempat yang ramai itu jarang," sambungnya.
Gilang mengaku sudah beberapa kali diimbau seperti itu, namun ia mengaku lupa berapa kali persisnya. Gilang juga paham betul jika pedagang liar dilarang di Pasar Ngasem, namun apa daya, penyandang tunanetra itu mengaku tak punya pilihan.
"Sebenarnya itu kan semua semua pedagang kan, Mas. Semua pedagang yang, maksudnya nggak cuman aku tok, maksudnya yang liar gitu lho. Ya memang sebenarnya kan itu memang dilarang kan kalau yang liar. Karena kan biar bersih gitu lho. Jadi bersih dari pedagang pedagang liar," ujarnya.
"Nah mereka itu kebanyakan normal, Mas. Yang difabel tuh cuma aku tok. Cuman aku, soale ya pencahariannya cuma itu sementara. Emang terus terang aku waktu dilarang tuh memang agak keberatan," lanjut Gilang.
Gilang mengaku sangat mengandalkan Pasar Ngasem sebagai tempatnya mencari nafkah. Selama ini dagangannya selalu laku terjual saat berjualan di tempat itu.
Gilang sebelumnya sempat muter-muter menjajakan kerupuk rambaknya. Namun beberapa waktu belakangan cara itu tak membuahkan hasil. Apalagi, katanya, di kawasan Malioboro sudah tidak mungkin berjualan.
Bahkan, kini Gilang juga tengah merintis berjualan melalui media sosial. Hanya saja usaha itu belum membuahkan hasil.
"(Jualan) Rambak, Mas. Soalnya ini aku sambil ngerintis di TikTok juga, cuman kan pelan-pelan tho, butuh waktu. Jadi ya yang offline ya masih jalan," ungkap Gilang.
"Seringe satu selongsong tuh isi 50, soale kan bawahe kan satu selongsong selongsong. Wah nggak mesti (habis) Mas. Tahun ini tuh nggak mesti habis. Makanya aku tetap bertahan di situ toh. Ya pasti mau tak nekat-nekatin, karena yang lumayan ramai di situ (pasar Ngasem)," terangnya.
Lebih lanjut, Gilang mengaku agak keberatan jika dilarang berjualan di Pasar Ngasem. Gilang tidak mau dikasihani, ia cuma mau mencari rezeki. Dia juga mencontohkan kebijakan di Malioboro yang melarang pengamen liar tetapi kini disediakan panggung.
"Aku pribadi sebenarnya kalau dilarang, piye ya, agak keberatan juga sih, karena ya seperti yang kita tahu, disabilitas tuh cari kerjanya memang susah kan. Nah, di situ kan tempatnya ramai. Ramai pun kalau untuk tahun ini nggak bisa dipastikan dagangan kita juga ramai juga, kayak tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya kan jalan ke mana pun insyaallah ada yang beli," ujarnya.
"Malioboro kan juga nggak boleh itu. Kayak pedagang pedagang terus keliling dan sebagainya sebenarnya nggak boleh, aneh itu kalau yang ngamen, yang apa itu malah dia dikasih tempat, aneh juga itu," keluh Gilang.
Dimintai konfirmasi mengenai pengusiran Gilang di Pasar Ngasem, Kepala Bidang Pasar Rakyat, Dinas Pedagangan (Disdag) Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo mengatakan akan meng-menelusurinya ke jajarannya.
"Sekedap (sebentar) coba saya tanyakan nggih Mas," terang Gunawan saat dihubungi detikJogja, hari ini.

Komentar Terbanyak
Ulah Oknum Fotografer 'Kuasai' Pelang Jalan Malioboro demi Cuan
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Curhat Pedagang di Jogja Malah Sepi Pembeli Usai Pasar Direnovasi