Kilatan cahaya warna hijau di langit Jogja akhir pekan lalu ternyata meteor. Biasanya objek melesat di langit itu diiringi suara dentuman. Kenapa?
Momen kilatan cahaya di langit Jogja itu terlihat pada Sabtu (11/7/2026) malam lalu. Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin, menyebut suara dentuman wajar terdengar saat ada meteor yang masuk ke atmosfer bumi.
"Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan," jelas Thomas dikutip dari detikINET, Senin (13/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas lalu menjelaskan muncul cahaya saat meteor itu jatuh ke bumi. Disebutkan batuan antariksa mulai berpijar saat memasuki atmosfer pada ketinggian 120 km. Kemudian juga karena adanya gesekan batu meteor dengan udara yang mengakibatkan batuan itu terkikis dan memancarkan cahaya terang.
"Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor," jelas Thomas.
BRIN menyebut kilatan cahaya meteor itu juga bisa dilihat dari beberapa kota di Jawa Barat seperti Cirebon, Kuningan, Majalengka hingga DI Yogyakarta. Thomas pun mengungkap alasan cahaya meteor itu di Jogja, kilatan cahaya meteor itu tampak berwarna hijau terang.
"Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer," katanya.
Dia menjelaskan fenomena kilatan cahaya meteor itu merupakan hal wajar di dunia astronomi. Menurutnya, bumi setiap hari menerima jutaan batuan antariksa.
"Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir," pungkas Thomas.

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman