Cuaca akhir-akhir ini terasa tidak menentu di berbagai wilayah Indonesia. Pada siang hari, suhu udara cenderung panas dan terik karena telah memasuki musim kemarau, tetapi pada malam hingga pagi, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Perubahan suhu yang cukup kontras ini membuat banyak orang bertanya-tanya mengenai penyebabnya. Kondisi yang terasa 'panas di siang hari, dingin di malam hari' ini sebenarnya merupakan fenomena yang umum terjadi saat musim kemarau, terutama di wilayah Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa.
Fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor alam, mulai dari kondisi atmosfer, pergerakan angin, hingga minimnya tutupan awan di langit. Kombinasi faktor inilah yang membuat suhu udara bisa berubah cukup drastis di siang dan malam hari.
Lalu, sebenarnya apa yang menyebabkan cuaca terasa lebih dingin saat musim kemarau? Berikut penjelasannya lengkap dengan tips menjaga kesehatan di tengah cuaca yang tidak menentu yang perlu detikers ketahui.
Mengenal Fenomena Bediding
Fenomena cuaca yang terasa dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau dikenal oleh masyarakat Jawa dengan istilah bediding. Kondisi ini umumnya lebih terasa pada puncak musim kemarau, ketika suhu udara turun cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasanya dan udara terasa lebih menusuk, terutama di malam hari.
Dikutip dari laman Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, fenomena bediding banyak dirasakan di Indonesia bagian selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena ini umumnya terjadi pada periode musim kemarau, terutama sekitar bulan Juli hingga Agustus yang merupakan puncak musim dingin di belahan Bumi selatan.
Dari sisi waktu, bediding biasanya paling terasa pada malam hingga dini hari, ketika tidak ada sinar Matahari dan suhu udara menjadi turun. Sementara pada siang hari, suhu bisa kembali meningkat karena paparan sinar Matahari yang lebih terasa akibat minimnya awan yang menutupi langit.
Secara ilmiah, seperti dijelaskan dalam buku Lingkungan Abiotik karya Sucipto Hariyanto dkk, fenomena ini berkaitan dengan rendahnya kandungan uap air di atmosfer saat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat pembentukan awan berkurang sehingga radiasi Matahari dapat masuk lebih leluasa ke permukaan bumi pada siang hari dan menyebabkan suhu terasa panas. Namun pada malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi dilepaskan kembali ke atmosfer tanpa hambatan, sehingga suhu udara turun lebih cepat dan terasa lebih dingin.
Mengapa Cuaca Lebih Dingin Saat Musim Kemarau?
Selain kondisi lokal atmosfer, fenomena bediding juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Berdasarkan artikel berjudul "Kenapa Saat Ini Suhu Udara Terasa Lebih Dingin di Bali?" oleh Kadek Setiya Wati dan I Nyoman Gede Wiryajaya serta penjelasan detikEdu, terdapat beberapa penyebab utama yang memengaruhi penurunan suhu udara saat musim kemarau. Berikut pemaparannya:
1. Peredaran Semu Matahari
Peredaran semu Matahari menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perubahan suhu udara saat musim kemarau. Pada bulan Juni, posisi semu Matahari berada di titik balik utara sekitar 23,5° LU. Kondisi ini menyebabkan belahan Bumi utara menerima sinar Matahari lebih besar, sementara wilayah Indonesia yang berada di selatan khatulistiwa mengalami penurunan sinar Matahari.
Meski demikian, penurunan suhu udara tidak terjadi secara langsung pada bulan Juni. Permukaan bumi membutuhkan waktu untuk melepaskan kembali energi panas yang telah diserap selama periode sebelumnya. Oleh karena itu, suhu udara terendah justru sering terasa pada bulan Juli hingga Agustus.
Proses pelepasan energi panas yang tertunda ini membuat perbedaan suhu antara siang dan malam menjadi lebih terasa saat musim kemarau. Siang hari tetap terasa panas, tetapi malam hari menjadi jauh lebih dingin karena tidak ada tambahan panas dari Matahari.
2. Angin Muson Australia
Angin Muson Australia merupakan faktor penting yang memengaruhi kondisi udara di Indonesia saat musim kemarau. Perbedaan tekanan udara antara Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin dan Benua Asia yang sedang musim panas menyebabkan aliran angin bergerak dari Australia menuju Asia.
Angin ini bersifat kering karena berasal dari wilayah gurun di Australia serta melewati laut yang relatif sempit. Akibatnya, kandungan uap air yang dibawa angin tersebut sangat rendah ketika memasuki wilayah Indonesia.
Kondisi udara yang kering ini berkontribusi terhadap menurunnya kelembapan udara dan berkurangnya pembentukan awan. Hal inilah yang kemudian membuat suhu udara terasa lebih dingin terutama pada malam hingga dini hari.
3. Musim Dingin Australia
Musim dingin di Australia juga turut berperan dalam memperkuat fenomena bediding. Pada periode ini, udara dingin dari wilayah kutub selatan bergerak dan membentuk sistem tekanan tinggi di atas Australia.
Massa udara dingin dan kering tersebut kemudian ikut terbawa dalam aliran Angin Muson Australia menuju wilayah Indonesia. Pergerakan ini membuat udara dingin dari selatan ikut memengaruhi suhu di wilayah yang dilaluinya.
Selain itu, perbedaan tekanan udara yang cukup besar antara Australia dan wilayah sekitarnya menyebabkan peningkatan kecepatan angin. Angin yang lebih kencang ini mempercepat proses pendinginan permukaan bumi, sehingga suhu udara terasa lebih rendah terutama pada malam hari.
4. Tutupan Awan Sedikit
Pada musim kemarau, kandungan uap air di atmosfer sangat rendah sehingga pembentukan awan menjadi sangat terbatas. Akibatnya, langit cenderung cerah baik pada siang maupun malam hari. Kondisi minim awan ini menyebabkan radiasi Matahari pada siang hari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal. Hal ini membuat suhu siang hari terasa panas karena tidak banyak penghalang yang mengurangi intensitas sinar Matahari.
Sebaliknya pada malam hari, tidak adanya awan membuat panas yang telah tersimpan di permukaan bumi lepas kembali ke atmosfer dengan cepat. Proses pelepasan panas yang tidak terhambat ini menyebabkan suhu udara turun lebih drastis dan terasa lebih dingin, terutama menjelang dini hari.
Tips Menjaga Kesehatan Saat Cuaca Dingin Musim Kemarau
Cuaca dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau sering membuat tubuh lebih rentan terserang penyakit, mulai dari flu, batuk, hingga penurunan daya tahan tubuh. Dirangkum dari laman Kementerian Kesehatan, berikut beberapa tips yang bisa detikers terapkan untuk tetap menjaga kesehatan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
1. Jaga Tubuh Tetap Terhidrasi
Saat cuaca dingin, tubuh terkadang tidak terlalu merasakan haus sehingga konsumsi air putih cenderung berkurang tanpa disadari. Padahal, kebutuhan cairan tubuh tetap sama seperti biasanya, terlepas dari kondisi cuaca.
Minum air putih sekitar 7-8 gelas per hari sangat penting untuk menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Asupan cairan yang cukup dapat membantu mendukung kinerja sistem imun, menjaga metabolisme, serta melindungi saluran pernapasan agar tetap lembap dan tidak mudah iritasi.
2. Gunakan Pakaian Hangat di Malam dan Pagi Hari
Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam saat musim kemarau dapat memengaruhi kondisi tubuh jika tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, penggunaan pakaian hangat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Jaket, sweater, atau pakaian berlengan panjang dapat membantu mengurangi paparan udara dingin langsung ke tubuh. Selain itu, membawa perlengkapan seperti payung atau jas hujan juga tetap diperlukan untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang tidak menentu.
3. Istirahat yang Cukup
Tidur memiliki peran penting dalam proses pemulihan dan regenerasi tubuh. Saat tidur, tubuh bekerja memperbaiki sel-sel yang rusak sekaligus memproduksi antibodi untuk memperkuat sistem kekebalan.
Kurang tidur dapat membuat tubuh lebih mudah lelah dan rentan terserang penyakit. Oleh sebab itu, disarankan untuk tidur selama 7-8 jam setiap malam dengan pola yang teratur serta menghindari penggunaan HP sebelum tidur agar kualitas istirahat lebih optimal.
4. Konsumsi Makanan Bergizi
Asupan nutrisi yang seimbang sangat dibutuhkan untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama saat cuaca tidak menentu. Vitamin C, vitamin D, dan zinc menjadi nutrisi penting yang berperan dalam menjaga fungsi sistem imun tetap optimal.
Nutrisi tersebut dapat diperoleh dari makanan sehari-hari seperti buah dan sayur segar, kacang-kacangan, serta ikan berlemak. Konsumsi makanan bergizi secara rutin membantu tubuh lebih kuat dalam menghadapi perubahan cuaca.
5. Sediakan Obat-Obatan
Menyediakan obat-obatan dasar di rumah merupakan langkah antisipasi yang penting, terutama saat kondisi tubuh mulai menurun akibat cuaca dingin. Obat seperti penurun demam, obat flu, atau vitamin dapat membantu penanganan awal sebelum kondisi menjadi lebih serius.
Dengan adanya persediaan obat, detikers tidak perlu panik saat gejala awal muncul. Namun, tetap dianjurkan untuk berkonsultasi ke tenaga medis jika kondisi tidak membaik atau justru semakin parah.
6. Terapkan Pola Hidup Sehat
Kebiasaan hidup bersih dan sehat memiliki peran besar dalam mencegah berbagai penyakit. Hal sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus dan bakteri.
Selain itu, menghindari menyentuh wajah secara berlebihan serta menggunakan masker di tempat ramai atau saat sedang sakit juga dapat membantu melindungi tubuh dari paparan penyakit. Kebiasaan kecil ini jika dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan.
7. Rutin Berolahraga
Olahraga ringan tetap penting dilakukan meskipun cuaca sedang dingin. Aktivitas fisik membantu melancarkan peredaran darah, meningkatkan metabolisme, serta memperkuat sistem imun tubuh. detikers tidak perlu melakukan olahraga berat, cukup aktivitas sederhana seperti jalan cepat, yoga, atau bersepeda santai selama 30 menit per hari. Kuncinya adalah konsistensi agar tubuh tetap bugar dan tidak mudah sakit.
Itulah penjelasan ilmiah mengapa udara terasa lebih dingin di malam hari ketika musim kemarau lengkap dengan tips agar tubuh tetap bugar meski cuaca terasa tidak menentu. Semoga artikel ini bermanfaat ya detikers!
Artiikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video Eksklusif: Nyeritain Konglomerat, 'THE SEASON' Relate Gak ke Penonton?"
(num/dil)