Apa Perbedaan El Nino dan La Nina? Kenali Dampaknya bagi Indonesia

Apa Perbedaan El Nino dan La Nina? Kenali Dampaknya bagi Indonesia

Khofifah Azzahro - detikJogja
Senin, 13 Apr 2026 12:11 WIB
Penjelasan Perbedaan El Nino dan La Nina Beserta Dampaknya Bagi Indonesia
El Nino dan La Nina. (Foto: Wikitxiki5/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0)
Jogja -

Fenomena iklim global seperti El Nino dan La Nina sering menjadi faktor utama di balik perubahan pola cuaca di Indonesia. Kedua fenomena ini tidak hanya memengaruhi suhu permukaan laut, tetapi juga berdampak luas pada curah hujan dan musim di Indonesia.

Memiliki nama yang mirip, kedua fenomena ini kerap ditafsirkan memiliki pengertian yang sama. Faktanya, El Nino dan La nina merupakan dua fenomena yang berbanding terbalik, baik pengertian maupun dampaknya bagi Indonesia.

Lantas, apa perbedaan dari El Nino dan La Nina? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak informasi berikut karena detikJogja telah merangkumnya dari laman BMKG, laman BRIN, dan laman Kementerian Kesehatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbedaan El Nino dan La Nina

Perbedaan utama antara El Nino dan La Nina terletak pada kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. El Nino ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut atau kondisi yang lebih hangat dari biasanya, sedangkan La Nina ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut hingga lebih dingin dari kondisi normal.

ADVERTISEMENT

Perbedaan suhu ini memengaruhi pola angin dan sirkulasi atmosfer, yang pada akhirnya berdampak pada distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Saat El Nino terjadi, Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan sehingga musim kemarau terasa lebih panjang dan kering. Sebaliknya, saat La Nina, curah hujan meningkat sehingga musim hujan bisa berlangsung lebih lama atau lebih intens.

Dengan kata lain, El Nino identik dengan kondisi kering, sementara La Nina identik dengan kondisi basah. Perbedaan ini menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana kedua fenomena tersebut memengaruhi iklim Indonesia.

Penyebab Terjadinya El Nino dan La Nina

Terjadinya El Nino dan La Nina tidak lepas dari dinamika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik timur dan tengah. Perubahan suhu ini berkaitan erat dengan kekuatan angin pasat yang bertiup dari timur ke barat di sekitar wilayah khatulistiwa.

El Nino terjadi ketika angin pasat melemah, sehingga air laut hangat yang biasanya terkumpul di wilayah barat Pasifik bergeser ke arah tengah dan timur. Akibatnya, suhu permukaan laut di wilayah tersebut meningkat dan memicu perubahan pola cuaca global.

Sebaliknya, La Nina terjadi ketika angin pasat menguat, sehingga mendorong lebih banyak air hangat ke wilayah barat Pasifik dan menyebabkan pendinginan di wilayah tengah hingga timur. Kondisi ini biasanya diikuti perubahan pada Sirkulasi Walker yang berperan dalam mengatur pola cuaca global.

Fenomena ini dapat terjadi secara berkala setiap beberapa tahun dan berlangsung dalam rentang waktu yang bervariasi, mulai dari beberapa bulan hingga dua tahun. Intensitasnya pun bisa berbeda-beda, mulai dari lemah hingga kuat, yang tentu saja memengaruhi besar kecilnya dampak yang ditimbulkan.

Dampak El Nino terhadap Indonesia

El Nino menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia. Pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON), hampir seluruh wilayah mengalami penurunan hujan yang cukup signifikan.

Kemudian, pada rentang periode Desember-Februari (DJF), dampak penurunan lebih terasa di wilayah tengah dan timur Indonesia, sedangkan pada Maret-Mei (MAM), dampaknya bervariasi.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada berkurangnya air, tetapi juga memicu kebakaran hutan dan lahan yang luas. Selain itu, kekeringan berkepanjangan juga berdampak pada sektor pertanian, ekonomi, hingga kondisi sosial masyarakat.

Apakah Saat El Nino Terdapat Hujan?

Banyak yang beranggapan bahwa saat El Nino terjadi, hujan akan hilang sepenuhnya. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. El Nino memang menyebabkan penurunan curah hujan yang cukup besar, bahkan bisa mencapai lebih dari 40% pada periode tertentu seperti Juni-Agustus dan September-November.

Namun, hujan tetap bisa terjadi di beberapa wilayah, terutama pada periode Desember-Februari dan Maret-Mei. Artinya, El Nino hanya mengurangi intensitas dan frekuensi hujan, bukan menghilangkannya sepenuhnya. Kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena penurunan hujan yang signifikan dapat memicu kekeringan.

Dampak La Nina terhadap Indonesia

Dampak La Nina di Indonesia umumnya berupa peningkatan curah hujan yang cukup signifikan. Pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA), hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami peningkatan hujan.

Kemudian pada September-Oktober-November (SON), peningkatan curah hujan lebih terasa di wilayah tengah hingga timur Indonesia. Sementara itu, pada periode Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM), peningkatan curah hujan terutama terjadi di wilayah Indonesia bagian timur.

Secara umum, curah hujan saat La Nina bisa meningkat sekitar 20-40% dibandingkan kondisi normal, bahkan lebih tinggi di beberapa wilayah tertentu. Peningkatan curah hujan ini tentu membawa risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hingga badai tropis. Bahkan, juga turut memengaruhi sektor pertanian, perikanan, dan ekosistem laut

Apakah Saat La Nina Bisa Kemarau?

Saat La Nina terjadi, bukan berarti Indonesia tidak mengalami musim kemarau. Musim kemarau tetap berlangsung, namun curah hujan cenderung lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Pada periode Juni-Agustus dan September-November, sebagian besar wilayah Indonesia tetap mengalami kemarau, tetapi dengan intensitas hujan yang lebih sering. Kondisi ini sering disebut sebagai "kemarau basah", karena meskipun secara kalender masuk musim kemarau, hujan masih kerap turun.

Itulah penjelasan lengkap mengenai El Nino dan La Nina, mulai dari perbedaan, sebab terjadinya, hingga dampaknya pada Indonesia. Semoga membantu, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads