Udara dingin di malam hari sempat menusuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belakangan ini. Sampai kapan fenomena bediding terasa di Jogja?
Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG DIY, Reni Kraningtyas menyebut salah satu faktornya adalah pergerakan angin muson timur. Ia mengatakan angin muson timur dari Australi membawa massa udara yang lebih dingin dan kering ke arah Pulau Jawa.
"Penyebab malam hari di Yogyakarta terasa cukup dingin saat ini adalah fenomena bediding, yang umum terjadi pada musim kemarau. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, β angin monsun timur dari Australia membawa massa udara yang lebih dingin dan kering ke Pulau Jawa," ujar Reni saat dihubungi detikJogja, Senin (13/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata Reni, kondisi langit cerah pada malam hari turut menjadi faktor dinginnya udara. Saat langit minim tertutup awan, panas yang tersimpan di permukaan bumi saat siang lebih mudah dilepaskan ke atmosfer.
"β Langit cenderung cerah pada malam hari, sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat," tuturnya.
Reni juga mengungkapkan faktor lainnya terkait rendahnya kelembapan udara. Udara yang lebih kering membawa hawa dingin terasa lebih menusuk.
"Kelembapan udara rendah selama musim kemarau juga membuat udara terasa lebih sejuk, terutama menjelang dini hari," jelasnya.
Reni pun menyebut fenomena bediding ini merupakan hal normal saat musim kemarau. Ia memprediksi hawa dingin akan berlangsung pada periode Juli hingga Agustus.
"Untuk puncak cuaca dingin, berdasarkan pola klimatologis BMKG, biasanya terjadi pada Juli hingga Agustus, bersamaan dengan puncak musim kemarau di wilayah DIY," pungkasnya.

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman