Malang Dingin Saat Kemarau, Apa Itu Fenomena Bediding?

Malang Dingin Saat Kemarau, Apa Itu Fenomena Bediding?

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Rabu, 03 Jun 2026 18:30 WIB
Ilustrasi bediding di wilayah Malang.
Ilustrasi bediding di wilayah Malang. Foto: Gemini AI
Malang -

Udara di Malang belakangan terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya, terutama saat malam hingga pagi hari. Banyak warga bahkan mengaku harus mengenakan jaket lebih tebal karena suhu terasa semakin menusuk, meski saat siang hari cuaca justru terik dan kering.

Kondisi ini dikenal sebagai fenomena bediding, sebuah fenomena alam yang umum terjadi saat musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Malang. Pada 2026, intensitasnya diperkirakan lebih kuat dari tahun-tahun sebelumnya. Lalu, apa sebenarnya bediding, penyebab, dan apakah fenomena ini berbahaya?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding atau bedhidhing merupakan istilah dari bahasa Jawa untuk menggambarkan kondisi udara yang terasa sangat dingin saat musim kemarau. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bediding merujuk pada masa peralihan menuju musim kemarau yang ditandai udara yang lebih dingin dibanding biasanya.

Sementara itu, menurut penjelasan BPBD Kota Probolinggo, bediding merupakan fenomena suhu udara dingin yang umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari, sementara siang harinya tetap terasa panas dan kering.

ADVERTISEMENT

Fenomena bediding lazim terjadi di wilayah Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa, mulai dari Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Di Jawa Timur, bediding biasanya terjadi di Malang dan sekitarnya.

Mengapa Fenomena Bediding Terjadi?

Fenomena bediding sebenarnya berkaitan erat dengan pola musim dan pergerakan angin di kawasan Australia dan Indonesia. Saat memasuki pertengahan tahun, Australia sedang mengalami musim dingin. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan udara di Benua Australia menjadi lebih tinggi dibanding wilayah Indonesia.

Perbedaan tekanan udara ini memicu terbentuknya angin muson timur atau muson dingin Australia yang bergerak dari Australia menuju Indonesia. Angin tersebut membawa massa udara yang lebih dingin dan kering, sehingga mempengaruhi suhu udara di wilayah selatan Indonesia.

Selain itu, posisi matahari yang berada jauh di utara garis khatulistiwa membuat wilayah selatan khatulistiwa menerima panas yang lebih sedikit. Akibatnya, suhu udara di wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi lebih rendah dibanding biasanya.

Kenapa Suhu Malam Saat Bediding Bisa Terasa Sangat Dingin?

Salah satu ciri khas bediding adalah perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam hari. Pada musim kemarau, jumlah awan di atmosfer cenderung lebih sedikit. Kondisi ini membuat panas matahari yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas kembali ke atmosfer saat malam tiba.

Akibatnya, suhu udara mengalami penurunan yang cukup drastis menjelang dini hari hingga pagi hari. Karena itulah masyarakat sering merasakan cuaca yang sangat panas saat siang hari, tetapi berubah menjadi dingin bahkan menusuk tulang ketika malam dan pagi hari.

Fenomena Bediding di Malang Tahun 2026 Diprediksi Lebih Ekstrem

Memasuki awal Juni 2026, BPBD Kota Malang mengingatkan masyarakat bahwa fenomena bediding tahun ini berpotensi terasa lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BPBD Kota Malang Prayitno menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi musim kemarau dan faktor iklim global yang memperkuat kekeringan udara.
Menurutnya, minimnya tutupan awan menjadi salah satu penyebab utama suhu malam hari turun lebih drastis.

"Mengapa suhu anjlok drastis, karena minimnya tutupan awan, panas bumi siang hari terlepas bebas ke angkasa saat malam, dan suhu permukaan menjadi anjlok," ujar Prayitno kepada wartawan detikJatim, Selasa (2/6/2026).

Prayitno juga menjelaskan bahwa angin muson timur yang berasal dari Australia membawa udara kering dan dingin menuju Indonesia, termasuk wilayah Malang Raya, yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

"Akibatnya, suhu udara pada dini hari hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya," jelasnya.

Apa Dampak Fenomena Bediding bagi Masyarakat?

Meski termasuk fenomena alam yang normal terjadi setiap musim kemarau, bediding tetap dapat menimbulkan sejumlah dampak yang perlu diwaspadai.

Udara dingin yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan seperti asma.

Menghadapi fenomena bediding sebenarnya tidak memerlukan langkah khusus yang rumit. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain menjaga suhu tubuh tetap hangat, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga daya tahan tubuh, serta rutin memantau prakiraan cuaca dari BMKG dan instansi terkait.

Bagi petani dan peternak di wilayah dataran tinggi, langkah mitigasi sejak dini juga penting dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman maupun ternak akibat suhu dingin ekstrem.

Ancaman Embun Upas di Wilayah Dataran Tinggi

Selain berdampak pada kesehatan, fenomena bediding juga dapat mempengaruhi sektor pertanian dan peternakan. Di wilayah dataran tinggi yang berada dekat kawasan pegunungan, suhu udara dapat turun hingga mendekati titik beku.

Kondisi ini berpotensi memunculkan embun upas atau embun es yang menempel pada permukaan tanaman. Menurut Prayitno, kondisi tersebut dapat menyebabkan tanaman mengalami kerusakan hingga gagal panen.

"Ancaman embun upas di dataran tinggi, suhu bisa mencapai 0 derajat, yang mana bisa memicu embun es pada daun. Kondisi itu bisa mengakibatkan tanaman membusuk dan mati kering atau gagal panen," katanya.

Fenomena serupa kerap muncul di sejumlah daerah dataran tinggi di Pulau Jawa, termasuk kawasan pegunungan yang memiliki suhu lebih rendah dibanding daerah sekitarnya.

Apakah Bediding Berbahaya?

Secara umum, bediding bukanlah fenomena cuaca yang berbahaya dan merupakan bagian normal dari siklus musim kemarau di Indonesia. BMKG menjelaskan bahwa suhu yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari merupakan karakteristik umum musim kemarau, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu menyesuaikan aktivitas dan menjaga kondisi tubuh saat fenomena bediding datang, agar tidak mudah terserang penyakit akibat perubahan suhu yang cukup ekstrem.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads