Heboh Bocah Bantul Ogah Dibawa ke Balai Rehab hingga Ngumpet di Plafon

Heboh Bocah Bantul Ogah Dibawa ke Balai Rehab hingga Ngumpet di Plafon

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 11 Jul 2026 06:01 WIB
Ilustrasi Kenakalan Remaja
Ilustrasi kenakalan remaja. Foto: iStock
Bantul -

Bocah laki-laki di Bantul dibawa ke tempat rehabilitasi Sentra Antasena Magelang karena dianggap nakal oleh warga. Bocah berusia 15 tahun itu sempat menolak hingga ngumpet di plafon.

Peristiwa evakuasi bocah itu sempat menghebohkan warga dan viral di media sosial. Sebab, bocah itu menolak dan memilih ngumpet di plafon untuk menghindari petugas.

Peristiwa itu terjadi di Kalurahan Timbulharjo pada Rabu (8/7/2026) pukul 07.30 WIB. Meski bersikukuh menolak, bocah itu tetap dibawa warga ke balai rehabilitasi anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Betul, hari Rabu itu dari Kalurahan sampai Bhabinkamtibmas melakukan penjemputan terhadap seorang anak untuk dibawa ke Sentra Antasena Magelang," kata Lurah Timbulharjo, Anif Arkham Haibar kepada detikJogja di Timbulharjo, Sewon, Bantul, Jumat (10/7).


Kerap Ketahuan Mencuri

Arif menyebut warga ingin anak tersebut direhabilitasi karena kerap ketahuan mencuri. Bocah itu disebut telah putus sekolah sejak kelas 5 SD.

ADVERTISEMENT

"Dulu anak itu sekolah di SD sampai kelas 5, karena ketahuan mencuri uang dan akhirnya keluar. Nah, di rumah ternyata anak itu sering mencuri uang milik tetangganya," ucapnya.

Anif mengatakan, uang hasil curian bocah itu bisa mencapai jutaan rupiah. Uang itu digunakan untuk hobinya memelihara burung.

"Anaknya suka memelihara burung, buat kandang, ternyata uangnya dari hasil mencuri. Karena berulang kali akhirnya warga lapor ke Pak RT, Dukuh dan sampai ke Kalurahan," katanya.

Aksi bocah itu pun sering kepergok warga. Menurutnya, warga ingin dia direhabilitasi karena warga masih sayang kepada anak itu.

"Anak itu kerap mencuri dan ketahuan warga, tapi tidak ada yang melaporkan dan selesai secara kekeluargaan. Warga itu ngeman (sayang) dia, dan ingin agar saat sudah berumur nanti tidak melakukan tindakan kriminal," katanya.

Anak itu pun dinilai tak mendapat perhatian utuh dari orang tuanya. Dia disebut tinggal bersama kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya bekerja.

Sang ayah disebut merupakan pekerja bangunan dan sang ibu berdagang di pasar. Orang tuanya pun dinilai sudah kewalahan dengan perilaku anak tersebut.

"Jadi anak itu ketemu orang tuanya hanya saat sore hari, orang tuanya juga sudah meminta anak itu untuk sekolah tapi tidak mau," ujarnya.

Keputusan membawa anak itu ke panti rehabilitasi juga merupakan hasil dari diskusi panjang. Pihak RT, Dukuh dan Kalurahan disebut sudah berulang kali memberikan arahan kepada bocah itu dan memintanya agar mau bersekolah lagi. Namun bocah itu tetap ngeyel.

"Karena sering mencuri, kami konsultasi ke Dinsos dan akhirnya ada solusi kalau dibawa ke lapas anak di Wonosari atau dibina di Sentra Antasena Magelang. Nah, setelah koordinasi dengan orang tuanya, akhirnya sepakat agar anaknya dibawa ke Magelang," ujarnya.

Ngumpet di Plafon Saat hendak Dijemput

Dia mengatakan anak itu sempat tak menolak saat akan didaftarkan ke panti rehabilitasi anak. Akhirnya keluarga mengurus pendaftaran terkait pembinaan bocah itu di Sentra Antasena Magelang.

"Waktu itu anaknya oke, tapi saat hari Rabu itu kok tiba-tiba tidak mau, dan malah sembunyi di atas plafon," ucapnya.

Perangkat desa dan petugas pun mendatangi rumah bocah itu dalam rangka menjemputnya ke Antasena Magelang. Namun, bocah itu tidak terlihat di rumah dan ditemukan bersembunyi di plafon rumah.

"Saya ke sana jam 07.30 WIB ternyata dia sudah manjat lemari dan sembunyi di atas plafon rumah. Lalu saya membujuk anak itu, tapi tidak mau turun," ujar Anif.

Lebih lanjut, secara bergantian petugas naik ke atas plafon untuk membujuk bocah itu agar mau turun. Sekitar setengah jam kemudian, bocah itu akhirnya mau turun dari atas plafon.

"Akhirnya mau turun setelah dibujuk kalau di Sentra Antasena Magelang hobimu bisa tersalurkan. Tapi dia tetap tidak mau dibawa ke Magelang," ujarnya.

Akhirnya Anif kembali membujuk bocah itu dan mengajaknya berbincang. Selama perbincangan, Anif menyarankan agar bocah itu tidak mempersulit penjemputan karena semua demi kebaikannya. Apalagi, kedua orang tua bocah itu sudah pasrah dalam menghadapi kelakuan anaknya.

"Terus saya bilang kalau tidak mau, nanti kalau kepergok masyarakat lagi bisa dimassa. Karena selama ini masyarakat tidak pernah sampai menangani (main hakim sendiri) anak itu, tapi semua kan ada batasnya," ucapnya.

Setelah perbincangan tersebut, ternyata bocah itu tetap tidak mau berangkat ke Magelang. Namun, akhirnya petugas tetap membawanya ke Magelang.

"Tapi ya tetap tidak mau juga di meski sudah dibujuk sedemikian rupa, karena itu akhirnya anak itu tetap dijemput untuk dibawa ke Sentra Antasena Magelang. Bukan apa-apa, semua demi kebaikan anak itu," katanya.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads