Polisi membatasi rute pesepeda Jogja Last Friday Ride (JFLR) yang melintasi kawasan Malioboro, Kota Jogja. Kebijakan itu diambil menyusul banyaknya keluhan dari pedagang yang menilai aktivitas rombongan pesepeda mengganggu kenyamanan pengunjung dan memicu kemacetan.
Hal itu disampaikan Kasat Lantas Polresta Jogja, AKP Alvian Hidayat. Ia menjelaskan kebijakan mengarahkan peserta JLFR agar tidak memasuki jalur utama Malioboro diambil setelah banyaknya keluhan dari masyarakat maupun wisatawan. Kebijakan tersebut merupakan hasil koordinasi antara pihak kepolisian dan Pemerintah Kota Jogja.
"Pada dasarnya kegiatan kita mengarahkan untuk tidak masuk Malioboro ini sudah berjalan lama, pasca kejadian yang edisi 184 atau 185. Kita ambil kebijakan sementara, karena kita sudah berupaya untuk komunikasi dengan teman-teman yang di JFLR tapi tidak ada jawaban, tidak ada tanggapan, ya akhirnya kalau untuk melarang secara total kan enggak bisa ya," ujar Alvian saat dihubungi detikJogja, Kamis 82/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang namanya orang mau sepedaan masak enggak boleh. Kita tidak bisa melarang secara total orang bersepeda. Akhirnya kita tidak perkenankan melalui jalur utama Malioboro," lanjutnya.
Alvian menyebut kebijakan itu sudah menunjukkan hasil. Jumlah pesepeda yang masuk ke jalur utama Malioboro kini jauh berkurang dibanding sebelumnya, meski masih ada sebagian yang masuk melalui jalur-jalur kecil.
"Langkah antisipasi kita mengupayakan ini di pintu masuk utama yang di depan Hotel De Djokja dan juga depan Pos Teteg yang Loco Cafe itu. Kita gelar personel di sana. Ketika ada teman-teman pesepeda kita arahkan untuk lurus ke barat, ke arah Pasar Kembang," tuturnya.
Alvian juga mengungkapkan salah satu kendala penataan JLFR adalah belum adanya organisasi atau penanggung jawab yang jelas sehingga komunikasi dengan penyelenggara sulit dilakukan.
"Jadi, pascaedisi tersebut, kita dengan Pemkot kan rapat dan kita sama-sama berupaya untuk menghubungi orang-orang yang mungkin mengetahui lah atau yang mungkin biasa terlibat di dalam, termasuk ibaratnya ya akun yang biasa memposting kegiatan ataupun rencana kegiatan. Memang akhirnya ya kesusahan karena tidak ada respons," ucapnya.
"Nah, ini yang memang akhirnya menjadi kendala dari sisi pemerintahan ini berkomunikasi dengan teman-teman di sana. Padahal semua itu kan perlu komunikasi, supaya semuanya nanti bisa tertata dengan baik, akhirnya tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan," jelasnya.
Sementara itu, pedagang asongan di kawasan Malioboro Jogja, Esti, mengatakan rombongan pesepeda yang melintas setiap akhir bulan sering memenuhi kawasan Malioboro. Menurutnya, selain menyebabkan macet, sebagian peserta juga dinilai kurang tertib.
"Sangat mengganggu. Bikin macet, urakan, suka teriak-teriak, pakai trotoar juga. Karena saking banyaknya, enggak bisa diatur, parkir sembarangan, naik sepedanya juga enggak sopan," ujarnya.," kata Esti saat ditemui di kawasan Malioboro Jogja hari ini.
Esti mengaku tidak mempermasalahkan kegiatan bersepeda selama dilakukan dengan tertib dan tidak mengganggu pengguna jalan maupun wisatawan. Menurutnya, rombongan pesepeda juga masih terlihat melintas di sekitar Malioboro pada pekan lalu meski polisi telah melakukan pembatasan.
"Olahraga boleh, cuma tertib. Jangan mengganggu kenyamanan umum. (Pekan lalu) Masih ada beberapa kelompok yang lewat. Harapannya lebih diperketat lagi pengarahannya supaya enggak bikin enggak nyaman," pungkasnya.
(aku/dil)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya