Cerita Pendamping Awal Mula Alumni SMAN 2 Bantul Jadi Korban Bullying

Cerita Pendamping Awal Mula Alumni SMAN 2 Bantul Jadi Korban Bullying

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 22 Jun 2026 21:30 WIB
SMAN 2 Bantul jadi klaster Corona. Sebanyak 46 murid dan 2 guru terpapar COVID-19, Jumat (11/2/2022).
SMAN 2 Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Pendamping alumni SMAN 2 Bantul yang mengaku jadi korban bullying, Dini Sandra, menjelaskan peristiwa yang menyebabkan korban kini mengalami gangguan mental. Dia menyebut semua berawal dari korban yang hendak membantu mengungkap kasus kobocoran soal.

Dini mengatakan, awalnya korban hanya memenuhi permintaan guru untuk mengungkap kasus kebocoran soal itu. Namun, setelah berhasil mengungkapnya, sang guru malah menyebut korban sebagai pelakunya.

Dini menyebut dirinya telah berkomunikasi dengan rekan korban baik di SMP dan SMA. Semua itu untuk mengetahui apa yang korban alami selama ini mulai kapan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku kan kebetulan sempat berkomunikasi dengan temannya di SMP dan SMA. Ternyata ada perbedaan kondisi, jadi saat SMP baik-baik saja dan SMA, tepatnya saat kelas 10 juga baik-baik saja," kata Dini kepada detikJogja, Senin (22/6/2026).

Dini melanjutkan, perbedaan korban mulai tampak ketika duduk di bangku kelas 11. Di mana saat itu salah satu guru meminta bantuan korban terkait adanya kebocoran soal ujian.

ADVERTISEMENT

"Lalu saat kelas 11, saat ujian berbasis komputer sempat ada kebocoran soal di SMAN 2 Bantul. Lalu anak ini, karena kebetulan Ketua Klub IT dimintai bantuan oleh salah satu guru," ujarnya.

"Dimintalah bisa tidak ini dicari siapa yang membocorkan pertama soal ini, soalnya itu bocornya dari SMAN 1 (Bantul)," lanjut Dini.

Saat itu korban mengiyakan permintaan itu. Bahkan, korban bisa menemukan siapa yang membocorkan soal tersebut.

"Nah, terus ketemu, dia bisa menemukannya," ucapnya.

Pembocor soal tersebut adalah seorang perempuan yang duduk di kelas 11. Selanjutnya, sekolah meminta siswi itu untuk mengundurkan diri.

"Karena kalau DO menjaga nama baik sekolah. Sehingga pihak sekolah tidak mau mengeluarkan atau melakukan DO. Jadi dipaksa anak itu keluar dan akhirnya pindah," katanya.

Setelah berhasil mengungkap siapa yang membocorkan soal ujian tersebut, korban bukannya mendapat ucapan terima kasih dari sang guru. Namun, yang korban dapatkan adalah fitnah.

"Pada akhirnya anak ini bukannya mendapat terima kasih dari gurunya, tapi malah disebarkan ke pihak guru, orang tua murid kalau anak ini yang membocorkan soal. Padahal anak ini yang membantu mencari tersangka utamanya," ujarnya.

Bahkan, hal tersebut berlanjut hingga grup perkumpulan orang tua (POT). Di mana sang guru meminta orang tua murid agar menjauhi korban.

"Mungkin di situ mentalnya anak kita tidak tahu ya, karena umurnya juga masih belasan tahun. Jadi dia merasa lah dari yang tadinya temannya banyak karena pintar IT, sering ditanya ini itu kok tiba-tiba menjauh ya, kenapa ya? Gitu," ucapnya.

Dini menyebut bahwa korban masih menyimpan bukti perbincangan tersebut. Selain itu, Dini juga mengungkapkan bahwa korban kerap bercerita soal satu guru yang kerap memandangnya sebelah mata.

"Dari guru-guru juga sering, yang sering dia bahas itu ada seorang guru yang sering ketemu dan bilang ke anak itu 'halah-halah mas aku ndelokke rupamu wae melas' (halah mas, saya lihat wajahmu saja kasihan sekali), gitu," katanya.

Meski mendapat perlakuan seperti itu, Dini mengatakan bahwa korban tetap mencoba bertahan dan berupaya menyelesaikan pendidikannya.

"Tapi anak itu mencoba untuk bertahan agar lulus dan berteman dengan satu dua orang yang masih mau berteman," ujarnya.

Hingga akhirnya setelah korban lulus barulah memeriksakan diri ke poli kejiwaan. Ternyata korban mengalami gangguan mental dan belum lama ini mencurahkannya ke media sosial.

"Setelah lulus, bulan Juni 2025 dia baru berani periksa ke poli jiwa," ucap Dini.

Sedangkan soal adanya korban lain, Dini belum bisa berbicara lebih jauh. Mengingat semua itu memerlukan pembuktian terlebih dahulu.

"Kalau itu harus ada bukti-bukti dulu baru bisa dijelaskan," katanya.

Untuk diketahui, cerita korban itu viral dimulai dari unggahan akun Threads @gh05tx0. Pihak sekolahan kemudian menanggapi lewat pernyataan yang diunggah lewat akun resmi instagram mereka.

Pihak SMAN 2 Bantul dalam keterangannya menyampaikan permintaan maaf atas kabar yang beredar dan melakukan investigasi dan evaluasi. Mereka juga siap bertanggung jawab jika terbukti.



(alg/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads