Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta (Satgas PPA DIY) telah memantau kondisi anak yang tangan, kaki hingga mulutnya dilakban di dalam kontrakan daerah Pleret, Bantul. Hasilnya, anak tersebut dalam kondisi baik dan masih dalam asuhan neneknya di Patuk, Gunungkidul.
"Dari UPTD PPA Gunungkidul sudah mendatangi ke tempat nenek yang ada di Patuk, atau orang tua dari bapaknya. Pagi tadi kondisi adiknya baik-baik saja," kata Koordinator Satgas PPA DIY, Yekti Utami kepada wartawan di Piyungan, Bantul, Kamis (4/6/2026).
Yekti juga mengatakan pihaknya akan mendampingi korban secara intensif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, kalau itu tetap intensif, makanya tadi pagi UPTD Kabupaten Gunungkidul sudah langsung ke rumah neneknya untuk mendampingi sekaligus melihat keadaan anak tersebut," ucapnya.
Selain itu, Satgas PPA DIY juga terus melakukan koordinasi dengan UPTD PPA Kabupaten Bantul agar kejadian serupa tak terulang.
"Selanjutnya kita tetap koordinasi terkait dengan keselamatan adiknya," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, balita perempuan ditemukan sendirian dalam kondisi terikat lakban di kamar kontrakan daerah Kedaton, Pleret, Bantul. Bayi itu ditinggalkan oleh ibunya yang diduga mengalami masalah kesehatan psikis.
Anak pemilik kontrakan sekaligus saksi, Mamat, menceritakan awalnya salah satu penghuni kontrakannya melihat ibu dari anak pergi mengendarai motor, Senin (1/6) sore. Adapun sang ibu tinggal bersama anaknya yang masih berusia tiga tahun, sedangkan suaminya merantau ke Jakarta sehingga jarang pulang.
"Kata tetangga kontrakannya itu ibunya pergi naik motor tapi tidak mengajak anaknya. Nah, setelah maghrib itu tetangga kosnya dengar suara anak nangis tapi hanya pelan," katanya kepada wartawan di Kedaton, Pleret, Bantul, Rabu (3/6).
Salah seorang penghuni kontrakan yang berulang kali mendengar suara tangisan anak-anak dari kontrakan sebelah kemudian menghubungi Mamat. Selanjutnya, sekitar pukul 21.00 WIB, Mamat mendatangi kontrakan.
"Lalu saya ketuk pintunya tidak ada yang membuka. Karena curiga, saya lalu ambil linggis dan mencongkel jendela kontrakannya," ujarnya.
Setelah jendela terbuka, Mamat menyuruh salah satu penghuni kontrakan untuk masuk ke dalam. Saat itulah warga menemukan bocah malang tersebut dalam kondisi mengenaskan.
"Tetangganya saya minta masuk karena badannya kecil. Sampai di dalam kamar ternyata di pojokan kamar ada anak hanya pakai baju dan pampers dengan kondisi kedua tangan, kedua kaki dan mulutnya terikat lakban warna bening," ucapnya.
Mamat melanjutkan, untungnya lakban pada mulut terbuka sedikit sehingga sang anak bisa menangis. Selain itu, AC dan kipas mengarah ke badan anak tersebut.
"Posisi AC dan kipas menyala di kamar saat itu menyala, untung saja ketahuan," ujarnya.
Setelah itu, warga membawa keluar anak berusia tiga tahun itu dari dalam kontrakan. Setelah sampai di luar, warga dan Mamat membuka lakban yang mengikat kedua tangan dan kaki anak tersebut.
"Dikeluarkan dulu baru dicopot lakbannya, setelah itu saya langsung bilang pak RT dan polisi," katanya.

Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Disdag Jogja Buka Suara soal Curhat Difabel Dilarang Jual Asongan di Ngasem
Hasil Piala Dunia 2026: Spanyol ke Final Usai Sikat Prancis 2-0