Mengapa Bulan Mei Dijuluki Bulan Maria? Ini Penjelasan Sejarahnya

Mengapa Bulan Mei Dijuluki Bulan Maria? Ini Penjelasan Sejarahnya

Arum Sekar Pertiwi - detikJogja
Selasa, 19 Mei 2026 12:59 WIB
Mengapa Bulan Mei Dijuluki Bulan Maria? Ini Penjelasan Sejarahnya
Foto: Mateus Campos Felipe/Unsplash
Jogja -

Salah satu bulan penting bagi umat Katolik adalah bulan Mei yang dijuluki sebagai Bulan Maria. Bulan ini menjadi momen devosi kepada Bunda Maria dan biasa diisi dengan berdoa Rosario.

Dikutip dari laman Catholic Culture, bulan Mei secara khusus didedikasikan oleh kesalehan umat kepada Bunda Maria, ibu Yesus sekaligus figur ibu bagi Gereja. Selama Bulan Maria, umat Katolik melakukan penghormatan kepada Maria melalui doa, baik di rumah maupun di Gereja, sekaligus merenungkan rangkaian misteri Rosario terkait kehidupan Yesus.

Lantas, mengapa bulan Mei bisa menjadi Bulan Maria? Sejak kapan tradisi ini dimulai? Simak ulasan tentang sejarah bulan Mei sebagai Bulan Maria yang dirangkum dari laman Cross Catholic Outreach, Catholic Culture, Keuskupan Atambua, dan Paroki Sedayu di bawah ini!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Bulan Mei sebagai Bulan Maria

Penghormatan kepada Maria di bulan Mei dimulai sejak akhir abad ke-13. Pastor Latomia dari Roma dianggap sebagai orang yang memulai devosi Maria di bulan Mei. Kala itu, ia ingin mencegah kemaksiatan dan mengarahkan perhatian para siswa kepada devosi Maria. Dari Roma, praktik ini kemudian menyebar ke kolese-kolese Yesuit lainnya dan sangat populer pada tahun 1700-an. Praktik ini kemudian menyebar hingga ke seluruh gereja.

ADVERTISEMENT

Tahun 1815, praktik ini didorong oleh Paus Pius VII dengan memberikan indulgensi parsial kepada umat yang menghormati Maria dengan doa-doa khusus selama bulan Mei. Tahun 1859, Paus Pius IX menetapkan indulgensi penuh untuk devosi Maria. Selanjutnya, Paus Pius XII menetapkan bulan Mei sebagai bulan devosi kepada Maria pada tahun 1945.

Paus Pius XII sendiri kerap membicarakan devosi Maria pada bulan Mei. Dalam ensiklik Mediator Dei, ia juga menyebut devosi Maria di bulan Mei sebagai latihan kesalehan lain yang tidak sepenuhnya termasuk dalam Liturgi Suci, tetapi memiliki arti dan martabat khusus hingga bisa dianggap sebagai tambahan ibadah liturgi.

Selanjutnya, Paus Paulus VI juga menuliskan tentang devosi Bulan Maria sebagai sarana untuk mendapatkan doa perdamaian dalam ensiklik Mense Maio yang diterbitkan tahun 1965. Ia menyebutkan bahwa bulan Mei adalah bulan kesalehan umat beriman yang telah lama didedikasikan kepada Maria, Bunda Allah. Ia juga mendorong praktik yang lebih hangat, menyenangkan, dan menghibur untuk menghormati Maria dan memperkaya umat Kristiani dengan karunia rohani.

Penulisan ensiklik Mense Maio tersebut sebenarnya berkaitan dengan kondisi gereja dan situasi politik pada masa tersebut. Paus Paulus VI menulis ensiklik tersebut saat Konsili Vatikan II sedang menuju tahap akhir dan Gereja sedang bergumul dengan pembaruan besar dalam kehidupan liturgis, pastoral dan misioner. Ajakan untuk berdoa melalui perantaraan Maria ditujukan agar karya Konsili berbuah keselamatan bagi Gereja.

Kondisi dunia dalam situasi politik yang dipenuhi ancaman perang, kekerasan, konflik, dan penderitaan di masa tersebut juga menjadi perhatian Paus Paulus VI. Oleh karena itu, momen Bulan Maria tersebut sekaligus menjadi momen untuk memohon perdamaian, pertobatan, dan pembaruan hidup.

Paus Paulus VI pun meminta seluruh keuskupan dan paroki untuk menggelar doa khusus selama bulan Mei dan menegaskan pentingnya Doa Rosario sebagai bentuk penghormatan terhadap Bunda Maria.

Hingga saat ini, paroki dan Gereja Katolik pun terus menjadikan bulan Mei sebagai bulan Maria dan merayakannya dengan liturgi, katekese, dan pastoral yang penuh devosi.

Praktik Devosi Maria di Bulan Mei

Bentuk penghormatan kepada Maria dilakukan dalam berbagai bentuk devosi. Tahun 1600-an, bentuk penghormatan tersebut dilakukan dengan memahkotai patung dan lukisan Maria dengan bunga atau hiasan emas sederhana. Tradisi ini diprakarsai oleh Paus Clement VII dengan menambahkan 2 mahkota pada Salus Populi Romani, sebuah lukisan Maria yang sedang menggendong bayi Yesus.

Tahun 1838, Paus Gregorius XVI mengembalikan tradisi tersebut dan mempopulerkan praktik memahkotai Maria. Praktik ini kemudian diadopsi oleh Gereja-gereka di barat selama abad ke-19.

Prosesi pemahkotaan Maria di bulan Mei sendiri biasanya diawali dengan membawa patung Maria ke jalan-jalan paroki atau di sekitar Gereja. Orang-orang kemudian membawa patung yang dimahkotai ke Gereja sambil menyanyikan himne atau melafalkan Rosario.

Praktik lain yang biasa dilakukan selama Bulan Maria adalah berdoa Rosario dan melakukan ziarah ke lokasi penampakan Maria.

Doa Rosario Selama Bulan Maria

Rosario merupakan doa yang sumber dari tradisi doa Gereja dan berkembang dalam kesalehan umat. Doa ini merupakan doa Injili dengan Salam Maria yang berakar pada Sabda Allah. Selain itu, Doa Rosario juga merupakan doa Kristologis karena Salam Maria adalah nama Yesus dan seluruh misteri Rosario berkaitan dengan peristiwa hidup Yesus.

Dalam Mense Maio, Paus Paulus VI menegaskan bahwa Maria menuntun umat kepada Kristus. Doa Rosario pun dipraktikkan di bulan Mei sebagai doa untuk memandang wajah Kristus bersama Maria. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Paus Yohanes Paulus II dalam Rosarium Virginis Mariae yang menyebutkan Rosario sebagai doa yang dicintai banyak orang kudus, dianjurkan oleh Magisterium, dan menjadi sarana untuk memandang wajah Kristus bersama Maria.

Rosario sendiri disebut sebagai doa kontemplatif, sehingga tidak bisa sekadar diulang dan perlu dilakukan dengan kontemplasi. Artinya, memperbanyak Rosario tidak hanya dilakukan dengan menambah jumlah doa, tetapi juga dibarengi dengan memperdalam cara beriman, merenungkan hidup Kristus, belajar dari iman Maria, memohon damai, hingga memperbarui komitmen hidup sebagai murid Kristus.

Ziarah ke Gua Maria

Selain Doa Rosario, praktik devosi Maria di bulan Mei juga kerap dilakukan dengan berdoa di Gua Maria atau tempat ziarah Maria. Tempat tersebut membantu umat untuk memasuki suasana hening, bertobat, menyampaikan pergumulan hidup, hingga belajar memandang Kristus bersama Maria.

Praktik berziarah di Gua Maria oleh umat Katolik terinspirasi dari penampakan Bunda Maria di Lourdes, Prancis pada tahun 1858. Kala itu, seorang anak perempuan bernama Bernadette Soubirous menyaksikan penampakan Maria di Gua Massabielle. Sejak saat itu, gua tersebut menjadi pusat ziarah dan praktik devosi di gua atau tempat ziarah Maria pun menyebar ke seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, perkembangan Gua Maria berkaitan dengan beberapa faktor. Pertama, Gua Maria memenuhi kebutuhan umat Katolik yang tinggal jauh dari pusat gereja dan kota besar. Kedua, Gua Maria di Indonesia banyak dibangun oleh para misionaris Eropa untuk memperkenalkan iman Katolik secara sederhana dan menyentuh umat.

Ketiga, Gua Maria menjadi bentuk perpaduan iman dan budaya lokal, misalnya Gua Maria Sendangsono yang kental dengan budaya Jawa. Selain itu, beberapa Gua Maria juga dipercaya sebagai tempat terkabulnya doa atau menghasilkan pengalaman rohani yang mendalam.

Demikian penjelasan tentang sejarah bulan Mei sebagai Bulan Maria beserta praktik devosinya. Semoga menjawab, ya!

Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



(sto/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads