Respons Presiden Venezuela soal Rencana Trump 'Caplok' Negaranya

Internasional

Respons Presiden Venezuela soal Rencana Trump 'Caplok' Negaranya

Tim detikcom - detikNews - detikJogja
Rabu, 13 Mei 2026 00:05 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melempar gagasan menjadikan Venezuela sebagai bagian dari wilayah AS.
Ilustrasi Venezuela. Foto: Leonardo Guillen/Unsplash
Jogja -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melempar gagasan menjadikan Venezuela sebagai bagian dari wilayah AS. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pun menyatakan pemerintahnya "tidak pernah" mempertimbangkan jadi negara bagian ke-51 AS.

Dilansir detikNews, hubungan AS dan Venezuela diketahui memanas setelah tentara AS menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Ciracas, Venezuela, pada 3 Januari 2026.

Penangkapan itu digunakan Trump untuk menguasai kekayaan alam Venezuela, khususnya minyak. Trump juga mengunggah pesan kontroversial pada Maret 2026 terkait wacana menguasai wilayah Venezuela.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Maret lalu, Trump menulis di platform Truth Social miliknya: "Hal-hal baik terjadi pada Venezuela akhir-akhir ini! Saya bertanya-tanya tentang keajaiban apa ini? KEBANGSAAN, #51, ADA YANG TERTARIK?"

ADVERTISEMENT

Trump dilaporkan mengatakan kepada Fox News pada hari Senin (11/5) waktu setempat, bahwa ia "serius" mempertimbangkan untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS.

Merespons itu, presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez menegaskan bahwa pemerintahnya "tidak pernah" mempertimbangkan untuk menjadi negara bagian AS.

Hal ini disampaikan Rodriguez setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya serius mempertimbangkan untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian AS, menyusul penangkapan presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

"Itu tidak akan pernah dipertimbangkan, karena jika ada satu hal yang dimiliki oleh kami, kaum pria dan wanita Venezuela, adalah bahwa kami mencintai proses kemerdekaan kami, kami mencintai para pahlawan pria dan pahlawan wanita kemerdekaan kami," kata Rodriguez kepada wartawan saat meninggalkan sidang di Mahkamah Internasional di Den Haag, dilansir kantor berita AFP, Selasa (12/5/2026).

Saat ditanya tentang prospek status negara bagian AS, Rodriguez menegaskan bahwa pemerintahannya sedang bekerja dengan "agenda kerja sama diplomatik" dengan Amerika Serikat.

Diketahui, sejak mengambil alih kekuasaan dari Maduro yang telah lama berkuasa, Rodriguez telah memimpin pencairan hubungan dengan Washington di bawah tekanan berat untuk memenuhi tuntutan Trump untuk akses ke cadangan bahan bakar fosil Venezuela yang sangat besar.

Trump telah berulang kali memuji Rodriguez yang telah mengesahkan reformasi yang membuka sektor pertambangan dan minyak Venezuela bagi perusahaan asing, terutama dari AS.

Rodriguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden Maduro, juga telah mendorong pengesahan undang-undang amnesti yang menyebabkan pembebasan ratusan tahanan politik, meskipun sekitar 500 orang masih berada di tahanan.




(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads