Tekad Mardijiyono Kakek Asal Bantul Berangkat Haji di Usia 103 Tahun

Tekad Mardijiyono Kakek Asal Bantul Berangkat Haji di Usia 103 Tahun

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Rabu, 22 Apr 2026 17:57 WIB
Calon jemaah (calhaj) asal Kabupaten Bantul, Mardijiyono Karto Sentono (103) di rumahnya, Rabu (22/4/2026).
Calon jemaah (calhaj) asal Kabupaten Bantul, Mardijiyono Karto Sentono (103) di rumahnya, Rabu (22/4/2026). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja)
Bantul -

Seorang kakek asal Randusari, Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, Bantul menjadi calon jemaah (calhaj) tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kakek berusia 103 tahun ini sudah sejak lama menabung hingga menjual sapi untuk biaya berangkat haji.

Kakek bernama Mardijiyono Karto Sentono itu mengaku sangat senang akhirnya bisa berangkat haji tahun ini. Mardijiyono tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah SWT.

"Rasanya senang, sama Allah alhamdulillah diberi umur panjang," katanya saat ditemui di kediamannya, Randusari, Bantul, Rabu (22/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait persiapannya untuk berangkat ke Tanah Suci, pria yang mengenakan kopiah ini mengaku tidak ada yang khusus. Mardijiyono menyebut hanya menjaga kesehatan saja.

"Persiapannya sehat, sing penting sehatke awak dan niat (yang penting sehatkan badan dan mengumpulkan niat)," ujar kakek yang memasuki usia 103 tahun pada bulan Desember 2025 ini.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi, Mardijiyono sudah mengalami masalah pendengaran sehingga anak keduanya yang melanjutkan perbincangan. Anak kedua Mardjijiyono, Warjiyem (64) menceritakan bahwa sang ayah sudah memiliki keinginan untuk naik haji sejak lama.

"Bapak dari dulu selalu bilang ingin naik haji, sampai bilang 'aku sesok iso komanan ora yo naik haji' (Aku besok masih sampai umurnya untuk naik haji tidak ya)," ujarnya.

Hingga akhirnya Mardjijiyono yang sehari-hari petani ini bilang kepada Warjiyem jika memiliki tabungan Rp 10 juta. Selanjutnya, Warjiyem mendaftar sang ayah naik haji pada pertengahan tahun 2029.

"Ibu saya juga minta kalau bapak segera mendaftar haji saja, ternyata ibu meninggal dunia akhir tahun 2019. Mungkin dari kata-kata ibu saat itu membuat bapak seperti dapat amanah untuk naik haji," ucapnya.

Setelah mendaftar itu, ternyata harus menyetorkan uang Rp 25 juta. Alhasil, Mardijiyono menjual seekor sapinya agar biaya tersebut tercapai.

"Bapak sehari-hari petani sama memelihara sapi, nah pas daftar itu ternyata beli kursi harganya Rp 25 juta. Karena uangnya kurang, bapak lalu menjual sapinya satu dan laku Rp 15 juta," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata sang ayah baru bisa berangkat haji tahun 2045. Oleh sebab itu, anak Warjiyem bertanya kepada petugas haji terkait apakah ada program khusus untuk calhaj usia lanjut.

"Anak saya tanya ke sana (petugas haji) dan ternyata ada program khusus untuk calhaj yang usianya sangat tua. Akhirnya sana bilang bisa berangkat tahun 2026 tapi harus melunasi biaya, dan saat itu kurang Rp 26 juta," katanya.

Mendengar hal tersebut, Mardjijiyono langsung berupaya untuk melunasi biaya berangkat haji. Bahkan, Mardjijiyono sampai menjual lagi sapinya.

"Bapak akhirnya jual sapi dua ekor untuk pelunasan Rp 26 juta," ujarnya.

Akan tetapi, tahun 2022, Mardjijiyono sempat jatuh di kamar mandi dan kakinya mengalami cedera. Beruntung kakinya bisa sembuh dan tahun 2023 Mardijiyono berangkat umrah.

"Lalu tahun 2025 bapak sempat masuk rumah sakit, tapi diberi tahu kalau tahun depan berangkat haji lalu semangat dan pulih kembali," ucapnya.

Akhirnya Mardjijiyono menjalani pemeriksaan kesehatan dan layak untuk berangkat haji. Warjiyem merasa sangat senang karena sang ayah akhirnya bisa berangkat haji.

"Saya sangat mendukung bapak naik haji, bahkan sudah membayar pendamping untuk di tanah suci," katanya.

Warjiyem menambahkan, bahwa Mardijiyono berangkat ke embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) tanggal 2 Mei 2026. Warjiyem mengaku tidak khawatir dengan keberangkatan ayahnya karena naik haji adalah keinginan sang ayah sejak lama.

"Yang jelas saya sudah percaya sama orangnya dan selalu berdoa agar bapak diberikan kesehatan, kemudahan dan berangkat serta pulang ke Indonesia dalam kondisi selamat," ujarnya.

Terkait apa yang membuat sang ayah panjang umur, Warjiyem mengaku tidak ada hal khusus. Mengingat hingga saat ini tidak ada pantangan makanan untuk Mardijiyono.

"Umur bapak saya sekarang 103 tahun. Kalau yang membuat panjang umur tidak tahu, tidak ada pantangan makan, tapi kalau makanan dalam kondisi hangat. Bahkan, tongseng kambing juga masih makan bapak itu, makanan pedas juga," ucapnya.



(aku/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads