Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Gunung Merapi tiga kali memuntahkan awan panas guguran pada Minggu (12/4) pagi. Adapun aktivitas Gunung Merapi sudah terasa sejak Sabtu (11/4) malam.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan awan panas guguran di Gunung Merapi pagi ini pertama muncul pada pukul Pukul 05:45 WIB. Estimasi jarak luncur 1.500 meter dengan amplitudo maks 47,9 mm durasi 166,4 detik mengarah ke hulu Kali Boyong.
"(Kedua) Pukul 07:41 WIB, estimasi jarak luncur 1.400 m dengan amplitudo maks 18,2 mm durasi 132,1 detik mengarah ke hulu Kali Boyong," jelas Agus saat dihubungi, Minggu (12/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Ketiga) Pukul 08:21 WIB, estimasi jarak luncur 2.000 m dengan amplitudo maks 26,7 mm durasi 154,4 detik mengarah ke hulu Kali Boyong," sambungnya.
Sementara, dari pengamatan hingga Sabtu (11/4) pukul 24.00 WIB, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 475-525 m di atas puncak kawah.
"Teramati 2 kali awan panas guguran ke arah Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 1500 meter. Teramati 36 kali guguran lava ke arah Barat Daya (Kali Sat/Putih Kali Bebeng Kali Krasak Kali Boyong) dengan jarak luncur maksimum 2000 meter," papar Agus.
Selanjutnya pada pengamatan Minggu (12/4) selama pukul 00:00 hingga 06:00 WIB, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 500 m di atas puncak kawah. Teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 1500 m mengarah ke barat daya.
"Teramati 1 Kali Awan Panas Guguran ke arah (kali Boyong) dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter. Teramati 9 Kali Guguran lava ke arah Barat Daya (Kali Sat/Putih dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.900 meter," urai Agus.
Adapun tingkat Aktivitas Gunung Merapi saat ini SIAGA (Level III). Agus mengatakan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," pungkas Agus.
(apl/apl)












































Komentar Terbanyak
Trump Kecewa Sudah Kirim Senjata buat Demonstran Iran, Tapi...
Mojtaba Khamenei Disebut Kritis, Begini Kondisinya
3 Kepala Daerah di Jatim Kena OTT KPK, Ini Kata Gubernur Khofifah