Warga Sekitar TKP Senopati Sambat Omzet Turun, Walkot Hasto Bilang Gini

Warga Sekitar TKP Senopati Sambat Omzet Turun, Walkot Hasto Bilang Gini

Adji Ganda Rinepta - detikJogja
Kamis, 09 Apr 2026 16:19 WIB
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (9/4/2026).
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (9/4/2026). Foto: Adji Ganda Rinepta/detikjogja
Jogja -

Warga yang sehari-hari mencari nafkah di Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati, Gondomanan, Kota Jogja, mengungkapkan keluh kesahnya usai kebijakan bus pariwisata dilarang parkir di TKP Senopati. Terkait itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan Pemkot Jogja juga merasakan dampaknya.

Para warga TKP Senopati sendiri mengeluhkan pendapatan yang turun drastis akibat kebijakan ini. Namun kata Hasto, kebijakan ini harus diambil karena ketentuan dari mandat penetapan Sumbu Filosofi Jogja.

"Sumbu Filosofi kan sudah tegas kebijakannya, bahwa arahan untuk mengondisikan Sumbu Filosofi itu tidak ada parkir-parkir di core zone, termasuk Senopati. Oleh karena itu kami taat," ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait dampak yang dirasakan para warga TKP Senopati, Hasto bilang, Pemkot Jogja juga berpotensi mengalami penurunan pendapatan daerah dari destinasi wisata Taman Pintar.

ADVERTISEMENT

Diketahui, Taman Pintar yang berada tepat di sebelah utara TKP Senopati menjadi jujukan wisata favorit studi tour dari sekolah-sekolah. Untuk itu, kata Hasto, pihak Taman Pintar juga harus putar otak menyikapi kebijakan Bus dilarang parkir di TKP Senopati.

"Sebenarnya yang berkorban bukan cuma dia (warga TKP Senopati), kami di Balai Kota juga berkorban, karena Taman Pintar itu kan omzetnya setahun bisa Rp 16 Miliar, kalau tidak ada bus ke situ bisa turun," ujar Hasto.

"Ya ini lah, Taman Pintar harus berkreasi untuk membuat shuttle, jadi kalau orang-orang yang mau ke Taman Pintar ditangkap di (TKP) Ngabean atau Menara Kopi terus dibawa pakai bus kecil lah," sambungnya.

Sebelumnya, pantauan detikJogja siang hari ini di TKP Senopati tampak sepi dengan hanya beberapa mobil hingga minibus yang terparkir. Pedagang suvenir yang lapaknya di sisi utara pun tak ada yang buka, hanya 1-2 penjual makanan di sisi selatan yang masih menjajakan dagangannya.

"Keadaannya kalau siang kayak gini kalau malam kayak kuburan," terang salah satu juru parkir, Slamet saat dijumpai di TKP Senopati, Kamis (9/4/2026).

Pemerintah Kota Jogja sendiri mengumumkan pelarangan bus parkir di TKP Senopati terhitung tanggal 14 Februari 2026 dengan tajuk uji coba. Namun di setiap sudut simpang Gondomanan sudah terpampang pengumuman pelarangan tersebut.

Slamet mengatakan, kebijakan ini meruntuhkan harapannya bersama segenap warga TKP Senopati untuk bisa meraup pendapatan saat libur Lebaran.

"Dari puasa sudah nggak ada pemasukan, Lebaran tadinya mau 'balas dendam', eh malah keadaannya kayak gini, wah neng ati ki seeek ngono (di hati nyesek)," ujar Slamet.

"Pemerintah itu H-berapa itu sudah (bilang) uji coba, ngomongnya uji coba. Kita maklum karena mungkin (soal) kemacetan Lebaran ya, tapi ternyata uji cobanya sampe sekarang, sampe kapan kita nggak tahu," sambungnya.

TKP Senopati sendiri sebenarnya tidak serta merta ditutup, mobil pribadi hingga minibus masih dibolehkan untuk parkir. Namun kata Slamet, hal itu sama sekali tak bisa membantu perekonomian warga TKP Senopati.

"Mobil itu aduh, sekolah rutinitas tiap hari aja nggak nganu, ora nutup. Bus itu ramai-ramainya kalau liburan bisa 100-150 bus per hari, keluar masuk. Kalau hari biasa, normal itu 20-30-an ada lah sehari," terang Slamet.

"Kalau yang masuk banyak ya ada lah. (Kalau sekarang?) saya kemarin nggak masuk 3 hari, saya tanya teman saya berapa sehari, dari pagi sampai malam itu Rp 30 ribu, kadang nol," pungkasnya.



(par/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads