Kabupaten Bantul memiliki 75 kalurahan yang tersebar di 17 kapanewon. Dari 75 kalurahan tersebut ada satu yang memiliki nama unik yakni Kalurahan Terong. Ada cerita tersendiri di balik pemberian nama tersebut.
Seperti halnya di daerah-daerah lain, di Kalurahan Terong ini juga ada sebuah ikon yang menjadi penanda yakni tugu terong. Pantauan detikJogja, patung terong atau terung berukuran besar berada di atas tugu di tengah simpang empat Terong, Dlingo, Bantul. Selain itu terdapat tulisan 'Kalurahan Terong' di bawah patung tersebut.
Lurah Terong, Sugiyono, mengungkap kisah di balik penamaan kalurahan tersebut. Sugiyono menjelaskan usai geger Suroyudo di Kerajaan Mataram, salah seorang prajuritnya bernama Ki Potrojiwo menyingkir ke sisi timur wilayah kerajaan Mataram yang saat ini disebut Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Saat itu, Ki Potrojiwo membawa istri dan anak perempuannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak perempuan Ki Potrojiwo itu namanya Nyi Jopotro, nah Nyi Jopotro saat pelarian itu juga membawa anaknya bernama Trononggo," katanya kepada detikJogja di Terong, Dlingo, Bantul, Rabu (1/4/2026).
Kalurahan Terong, Dlingo, Bantul, Rabu (1/4/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Setelah tinggal di Sitimulyo, Ki Potrojiwo meninggal akhirnya dimakamkan di Gunung Sentono, Piyungan, Bantul. Karena ayahnya sudah meninggal dunia, Nyi Jopotro bersama Trononggo berpindah lagi hingga ke hutan belantara yang saat ini dikenal dengan nama Cinomati.
"Sampai Cinomati itu Nyi Jopotro melakukan perjalanan lagi sampai di sini (Terong). Selama perjalanan, Nyi Jopotro hanya menemui semak belukar yang banyak ditumbuhi terong hutan, karena itu Nyi Jopotro menamai alas itu dengan nama Alas Terong," ujarnya.
Akhirnya, Nyi Jopotro dan anaknya memutuskan tinggal di Alas Terong. Keduanya lantas membersihkan alas tersebut dan mendirikan tempat tinggal.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang berdatangan ke Alas Terong. Alhasil, mereka mendirikan permukiman dan mulai tinggal di alas tersebut bersama Nyi Jopotro dan Trononggo.
"Karena saling berinteraksi, akhirnya Trononggo menikahi seorang perempuan dan memiliki dua orang anak, yaitu Trosentono dan Tromenggolo," ucapnya.
Ketika memasuki usia lanjut, Trononggo menunjuk Trosentono menjadi pemimpin masyarakat Alas Terong yang disebut Bekel. Trosentono sendiri menjadi Bekel di Terong yang pertama mulai tahun 1912 hingga 1930.
Kalurahan Terong, Dlingo, Bantul, Rabu (1/4/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Selanjutnya tahun 1930 kedudukan Bekel Terong digantikan oleh Demang Harjoutomo. Adapun Demang Harjoutomo adalah anak laki-laki Trosentono, saat itu Harjoutomo menjadi Bekel hingga tahun 1951.
"Setelah Demang Harjoutomo purna digantikan oleh Joyo Wiyarjo anak Mertomenggolo atau cucu dari Tromenggolo. Nah, sejak kepemimpinan Joyo Wiyarjo maka sebutan Bekel berubah menjadi lurah. Lurah Joyo Wiyarjo menjabat mulai tahun 1951 sampai 1963," katanya.
Kalurahan Terong, Dlingo, Bantul, Rabu (1/4/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Sugiyono menambahkan, bahwa saat ini Kalurahan Terong memiliki sembilan Pedukuhan. Sedangkan jumlah penduduknya sekitar lima ribu jiwa.
"Untuk profesi warga paling banyak tetap petani karena di Terong ini lahan pertaniannya luas sekali. Selain jadi petani, warga juga berprofesi sebagai tukang mebel," ujarnya.
Pria berkacamata ini juga mengungkapkan bahwa Terong memiliki beberapa tempat wisata. Di mana beberapa di antaranya adalah Gunung Mungker dan Tebing Watu Mabur.
"Lalu Pinus Pengger itu juga masuk wilayah Terong," ucapnya.
(apl/ahr)















































Komentar Terbanyak
Lagi! Serangan Israel Tewaskan 2 Prajurit TNI Penjaga Perdamaian di Lebanon
Suasana Kirab Peringati HUT Ke-80 Sultan HB X Pagi Ini
Kata SMA Muhammadiyah 3 Jogja soal Viral Ketua OSIS Lengser Usai Kritik MBG