Iran Peringatkan Warga Timur Tengah Segera Jauhi Lokasi Dekat Pasukan AS

Internasional

Iran Peringatkan Warga Timur Tengah Segera Jauhi Lokasi Dekat Pasukan AS

Rita Uli Hutapea - detikJogja
Jumat, 27 Mar 2026 18:23 WIB
Iranian IRGC cadets attend the funeral of Razi Mousavi, a senior commander in the IRGC’s Quds Force who was killed on December 25 in an Israeli strike in Syria, in Tehran, on December 28, 2023. (AFP)
Ilustrasi Pasukan Garda Revolusi Iran. (Foto: dok. AFP)
Jogja -

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan warga sipil di seluruh kawasan Timur Tengah untuk menjauhi kawasan yang berada dekat dengan pasukan Amerika Serikat (AS). Peringatan ini disampaikan setelah perang dengan Amerika dan Israel berlangsung nyaris sebulan lamanya.

IRGC menuduh pasukan Israel dan AS menggunakan 'perisai manusia'.

"Pasukan Amerika-Zionis yang pengecut... sedang berusaha menggunakan lokasi sipil dan orang-orang tak berdosa sebagai perisai manusia," kata Garda Revolusi Iran dalam sebuah pernyataan di situs web mereka, Sepah News, dilansir detikNews, Jumat (27/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menyarankan Anda untuk segera meninggalkan lokasi tempat pasukan Amerika ditempatkan agar tidak membahayakan Anda," imbuhnya, dilansir kantor berita AFP, Jumat (27/3).

ADVERTISEMENT

Seruan ini disampaikan beberapa jam setelah militer Iran mengancam untuk menyerang hotel-hotel yang menampung tentara AS.

"Ketika semua pasukan Amerika masuk ke sebuah hotel, maka dari perspektif kami, hotel itu menjadi milik Amerika," kata juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi kepada televisi pemerintah Iran pada hari Kamis (26/3) waktu setempat.

"Apakah kita hanya akan diam dan membiarkan Amerika menyerang kita? Ketika kita merespons, tentu saja kita harus menyerang di mana pun mereka berada," imbuhnya, dilansir kantor berita AFP, Jumat (27/3).

Sebagai informasi, pasukan militer Israel dan Amerika Serikat menggempur Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Akibatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan itu dan memicu perang.

Perang itu kemudian menyebar hingga ke seluruh Timur Tengah. Iran meluncurkan serangan drone dan rudal terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Negara Teluk.

Pada Kamis (26/3) kemarin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh pasukan AS menggunakan orang-orang di negara Dewan Kerja Sama teluk (GCC) sebagai "perisai manusia".

"Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di negara-negara GCC untuk bersembunyi di hotel dan kantor," katanya dalam sebuah unggahan di media sosial X. Dia pun menyerukan kepada hotel-hotel di wilayah tersebut untuk menolak pemesanan kamar bagi pasukan AS.

Kantor berita Iran, Fars, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, mengatakan otoritas Iran telah mengirimkan "peringatan keras" kepada hotel-hotel di wilayah tersebut, khususnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Ditambahkan bahwa militer Iran telah mengidentifikasi pasukan AS yang menggunakan lokasi serupa di Suriah, Lebanon, dan Djibouti.



(ams/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads