Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mengkaji pengiriman tambahan 10 ribu personel militer ke Timur Tengah (Timteng). Kabar itu diembuskan media ternama AS, Wall Street Journal (WSJ), seiring meningkatnya spekulasi Washington mempersiapkan operasi darat ke Iran.
Jika kabar ini benar, pengerahan pasukan tambahan ini akan menjadi peningkatan signifikan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden Donald Trump bersikeras jika Iran ikut serta dalam pembicaraan damai dengan Washington untuk mengakhiri perang.
Dalam laporan WSJ, dilansir AFP via detikNews Jumat (27/6/2026), langkah ini bakal memberi Trump "lebih banyak pilihan" militer di Timur Tengah. Kawasan itu tengah bergejolak sejak AS dan sekutunya, Israel, membombardir Iran pada 28 Februari 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya, 10 ribu tentara tambahan itu bakal bergabung dengan ribuan personel terjun payung dan Korps Marinir yang sudah lebih dulu diperintahkan bergerak ke sana.
Seorang pejabat Iran pada Rabu (25/3) mengungkap, mereka akan membalas invasi darat AS dengan mengarahkan kelompok pemberontak di Yaman, Houthi. Houthi disebut bakal melancarkan serangan yang menyasar kapal-kapal di Laut Merah.
Balasan tersebut dinilai bakal membuka front baru dalam perang, sekaligus memberi dampak lebih luas bagi ekonomi, politik, dan militer.
Trump sendiri sudah berulang kali berkata jika dirinya tidak berencana mengerahkan pasukan darat untuk melawan Iran.
"Tidak jelas di mana tepatnya pasukan akan ditempatkan di Timur Tengah, tetapi kemungkinan besar mereka akan berada dalam jangkauan serangan Iran dan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak penting di lepas pantai Iran," tulis Wall Street Journal dalam laporannya.
Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Pentagon mengenai laporan ini.
Baca juga: Trump Kecewa NATO Tak Bantu AS Perangi Iran |
Saat ini, Trump telah menunda serangannya terhadap aset-aset energi Iran, dan menyatakan jika pembicaraan untuk mengakhiri perang "berjalan dengan sangat baik."
Sementara itu, militer Israel mengatakan pada Jumat pagi jika mereka telah melakukan "gelombang serangan skala besar yang menargetkan infrastruktur rezim Iran di jantung Teheran."
