Keraton Kerta adalah Istana kerajaan Mataram Islam era Sultan Agung di abad XVII yang kini bagian dari wilayah Dusun Kerto dan Dusun Kanggotan, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul. Secuil reruntuhannya kini masih bisa ditemui di Situs Keraton Kerta, di Pleret, Bantul.
Arkeolog yang juga Dosen Arkeologi UGM, Fahmi Prihantoro mengatakan reruntuhan yang kelak menjadi Situs Keraton Kerta ini pertama kali ditemukan pada tahun 1889 oleh peneliti asal Belanda G.P Rouffaer.
"G.P Rouffaer telah membuat sketsa adanya keraton Plered termasuk Kerta," jelas Fahmi saat dihubungi detikJogja, Kamis (12/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keraton Kerta Jogja Foto: Adji Ganda Rinepta/detikjogja |
Pantauan detikJogja di Situs Kerta, terlihat satu galian utama di tengah Situs dengan beberapa galian-galian di sekitar galian utama. Galian utama berukuran cukup luas, di dalamnya terlihat beberapa bekas reruntuhan bangunan yang konstruksinya dari susunan batu bata berukuran besar.
Selain itu, juga terdapat batu-batu berukuran cukup besar yang materialnya serupa dengan batuan candi. Batuan-batuan ini berjumlah cukup banyak dengan bentuk yang beranekaragam.
"Pusat Penelitian Purbakala 1976 dan 1978 melakukan survei dan ekskavasi dan menemukan 3 umpak bangunan Keraton Kerta," jelas Fahmi.
"Selain itu juga menemukan struktur batu bata yang merupakan bagian dari struktur bangunan kraton Kerta. Untuk umpak fungsinya sebagai landasan tiang sokoguru bangunan utama," sambung Ketua Departemen Arkeologi UGM itu.
Situs Kerta sendiri juga disebut sebagai Lemah Dhuwur yang juga diyakini sebagai bekas Sitiinggil Keraton Kerta. Sitiingil yang berarti tanah tinggi, adalah bentuk areal tanah yang ditinggikan yang menjad salah satu komponen yang selalu terdapat pada keraton-keraton kerajaan Mataram Islam.
Hal ini didasari dengan temuan hasil penggalian berupa struktur-struktur fragmentaris dari bata yang mengindikasikan bentuk talut, anak tangga, gapura, dan pagar cepuri. Serta stratigrafi yang menunjukkan peninggian permukaan lahan.
"Penelitian sebelumnya melihat kemungkinan bagian dari bangunan Sitiinggil Keraton Kerta dengan indikasi umpak batu yang ditemukan berukuran besar bahkan lebih besar dari bangunan di Keraton Yogyakarta sekarang," jelas Fahmi.
"Sementara reruntuhan yang ditemukan mengindikasikan adanya bagian dari struktur bangunan. Namun hingga penelitian terakhir 2025 belum dapat mengungkap bagaimana bentuk atau denah bangunan pada masa itu," imbuhnya.
Reruntuhan yang sudah ditemukan saat ini, kata Fahmi, sudah tergolong cukup lengkap untuk sebuah Sitiinggil Keraton. Namun menurutnya, temuan saat ini hanya sebagian kecil dari sebuah kompleks Keraton.
"Reruntuhan yang ditemukan saat ini hanya sebagian kecil dari komplek Keraton Kerta, tetapi sebagai sebuah bangunan situs sitiinggil Keraton Kerto relatif cukup banyak sehingga dapat mengasumsikan sebagai sebuah bangunan sitinggil dengan ditemukan umpak sokoguru," paparnya.
Untuk itu, hingga kini proses penggalian situs Kerta masih terus dilakukan. Fahmi bilang, bukan tidak mungkin reruntuhan-reruntuhan bekas Keraton Kerta juga berada di bawah rumah-rumah penduduk desa Pleret.
"Penggalian yang dilakukan yang terus dilakukan untuk mengungkap bagian bangunan lebih jauh. Kemungkinan besar keraton Kerta cukup besar bagian-bagiannya yang tersebar di beberapa area disekitar situs keraton Kerta sekarang," ujarnya.
"Masih sangat mungkin bagian bagian dari keraton yang berada di perkampungan dengan asumsi sebuah keraton memiliki beberapa bangunan pendukung," pungkas Fahmi.
Simak Video "Video Uya Kuya Lulus Magister, Tesisnya soal Kasus Penjarahan Rumahnya"
[Gambas:Video 20detik]
(par/aku)













































Komentar Terbanyak
Rismon Sianipar Kini Bilang Ijazah Jokowi-Gibran Asli, Begini Temuannya
Terungkap Alasan Alvi Tega Mutilasi Kekasih Jadi Ratusan Potong
Warga Sleman Serahkan Kucing Kuwuk ke BKSDA Usai Adopsi 3 Pekan