Selain Istana Keraton Ngayogyakara Hadiningrat yang masih bisa kita jumpai di Jogja sampai hari ini, ternyata dulu pernah ada istana yang tak kalah megah. Keraton Kerta namanya, istana Kerajaan Mataram Islam era Sultan Agung di abad XVII.
Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Jogja, Keraton Kerta berjaya pada periode pemerintahan Sultan Agung tahun 1613-1646. Saat ini Kerta merupakan bagian dari wilayah Dusun Kerto dan Dusun Kanggotan, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul.
"Keraton Kerta dibangun pada 1617-1625 berdasarkan sumber Babad Momana dan Babad Ing Sekala. Tercatat Sultan Agung telah menempati Kerta pada tahun 1618," kata Arkeolog, Fahmi Prihantoro dihubungi detikJogja, Kamis (12/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keraton Kerta tidak digunakan pada 1647 ketika Sultan Agung Wafat," sambung Dosen Arkeologi UGM itu.
Sayangnya, tak banyak yang bisa dilihat dari Keraton Kerta saat ini. Hanya ada sisa-sisa bangunan yang menampilkan bekas komponen kompleks keraton di Situs Keraton Kerta, Desa Pleret, itu pun sudah tidak banyak yang tersisa.
Situs Kerta sendiri juga disebut sebagai Lemah Dhuwur yang juga diyakini sebagai bekas Sitinggil Keraton Kerta. Siiingil yang berarti tanah tinggi adalah bentuk areal tanah yang ditinggikan. Sitinggil ini menjadi salah satu komponen yang selalu ada di keraton-keraton kerajaan Mataram Islam.
Hal ini didasari dengan temuan hasil penggalian berupa struktur-struktur fragmentaris dari bata yang mengindikasikan bentuk talut, anak tangga, gapura, dan pagar cepuri. Serta stratigrafi yang menunjukkan peninggian permukaan lahan.
"Penelitian sebelumnya melihat kemungkinan bagian dari bangunan Sitiinggil Keraton Kerta dengan indikasi umpak batu yang ditemukan berukuran besar bahkan lebih besar dari bangunan di Keraton Yogyakarta sekarang," jelas Fahmi.
"Sementara reruntuhan yang ditemukan mengindikasikan adanya bagian dari struktur bangunan. Namun, hingga penelitian terakhir 2025 belum dapat mengungkap bagaimana bentuk atau denah bangunan pada masa itu," imbuh Ketua Departemen Arkeologi UGM itu.
Meski pernah berjaya dan berdiri gagah pada masanya, Keraton Kerta akhirnya runtuh. Bukan hanya karena wafatnya Sultan Agung yang jadi penyebab runtuhnya Keraton Kerta, namun perpindahan pusat pemerintahan ke Keraton Plered pada masa kepemimpinan Amangkurat I juga jadi penyebab Keraton Kerta tak tersentuh lagi.
"Faktor-faktor runtuhnya Keraton Kerta karena sudah tidak dipakai lagi. Raja pengganti Amangkurat I memindahkan pusat kerajaan ke Kraton Plered. Setelah lama tidak digunakan bekas Keraton Kerta tertimbun tanah karena proses alam," pungkasnya.
