Trump Nggak Happy Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Internasional

Trump Nggak Happy Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Rita Uli Hutapea - detikJogja
Senin, 09 Mar 2026 12:13 WIB
Presiden AS Donald Trump disebut tidak senang Ayatollah Mojtaba Khamenei terpilih jadi pemimpin baru Iran/
Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)
Jogja -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dsebut 'tidak senang' dengan terpilihnya Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Mojtaba Khamenei terpilih usai ayahnya Ali Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel ke Teheran pada akhir Februari lalu.

Dilansir Al Jazeera yang dikutip detikNews, Senin (9/3/2026), hal ini disampaikan pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade. Kilmeade menyebut jika Trump mengatakan kepadanya, "Saya tidak senang" dengan pilihan Iran atas Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara yang baru.

Sampai saat ini Trump belum berkomentar secara terbuka mengenai pemilihan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei dipilih Majelis Pakar Iran sebagai pemimpin tertinggi Iran.

ADVERTISEMENT

Majelis Pakar Iran ini beranggotakan 88 ulama senior yang telah memilih Mojtaba, ulama berusia 56 tahun, sebagai penerus mendiang ayahnya. Hal ini menandakan jika kelompok garis keras masih memegang kendali penuh atas Iran usai Khamenei wafat sepekan lalu.

Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah "dibenci oleh musuh".

"Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya," ucap Alekasir dalam pernyataan yang disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Mojtaba merupakan pilihan yang "tidak dapat diterima" baginya. Hal tersebut disampaikan Alekasir dalam sebuah video pada Minggu (8/3).

Mojtaba juga diketahui sebagai tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan Iran dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan. Dia menentang para reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat, dalam upaya mereka untuk mengekang program nuklir Irna.

Hubungan dekatnya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), memberikan pengaruh tambahan kepada Mojtaba di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran. Menurut sumber yang memahami latar belakangnya, Mojtaba juga telah membangun pengaruh di balik layar sebagai "penjaga gerbang" ayahnya.

Pemimpin tertinggi Iran memegang hak untuk mengambil keputusan akhir dalam urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran. Kekuatan Barat ingin mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir, dengan Iran berulang kali mengatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.




(ams/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads