Beberapa profesi harus rela tak menikmati libur bahkan hingga hari raya Lebaran untuk memastikan para pemudik bisa pulang dengan aman dan selamat. Salah satunya petugas pemeriksa jalur (PPJ) Kereta Api (KA) yang harus berjalan kaki bahkan saat menjalani ibadah puasa.
Rahmat Haryanto (36), seorang PPJ KA yang kini bertugas di wilayah Daop 6 Jogja, membagikan pengalamannya selama 13 tahun menjalani profesi itu. Mulai dari tugasnya yang harus jalan kaki belasan Km per hari saat berpuasa hingga harus menerjang hujan lebat disertai petir.
Rahmat memulai ceritanya dengan menjelaskan tugas pokok PPJ yang secara kasat mata hanya jalan kaki menelusuri rel KA. Ternyata selama jalan kaki itu, mata Rahmat tak berhenti memeriksa dan memastikan jalur itu aman untuk dilewati KA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemeriksaan saya itu meliputi jalan rel, bantalan, balas, terus bangunan yang ada di sekitar jalur, gitu, dan itu wajib tidak ada di area dekat dengan jalur," jelas Rahmat saat ditemui di Stasiun Lempuyangan Kota Jogja, Selasa (24/2/202).
"Paling sering (menemui kerusakan) itu paling ini ya, penambat kendor gitu ya, cuma penambat kendor aja. Itu (dikencangkan) pakai kunci inggris," sambungnya.
13 tahun menjadi PPJ, Rahmat banyak menyusuri berbagai jalur KA di Solo, Jawa Tengah. Mulai dari Stasiun Masaran, Stasiun Kemiri, Stasiun Palur, Stasiun Jebres, Stasiun Kadipiro, Stasiun Solo Balapan, Purwosari, Solo Kota, dan Stasiun Gawok.
Rahmat pun kemudian mencicipi jalur Jogja pertama kali saat ditugaskan di petak Patukan sampai Lempuyangan. Kini, berbekal kunci inggris di tangan, hari-hari Rahmat diisi dengan menyusuri petak Lempuyangan-Maguwo.
"Untuk petak ini Lempuyangan-Maguwo itu sepanjang 6,8 km untuk sekali jalan dan pemeriksaan saya pulang pergi itu berarti sekitar 13,6 km," ungkap Rahmat.
"Kita dituntut konsentrasi penuh untuk tetap fokus memeriksa jalur jangan sampai temuan kecil itu tidak terekspos, tidak terlaporkan ke KUPT. Takutnya begitu kita melewati temuan itu semakin membahayakan dan juga membahayakan perjalanan kereta api," lanjutnya.
Tak peduli cuaca panas atau hujan, Rahmat tetap meniti rel untuk memastikan keselamatan. Pun di bulan puasa seperti sekarang ini. Menahan lapar dan dahaga bak menjadi tambahan tugas yang harus dia lakukan tiap harinya.
Rahmat Haryanto (36), seorang petugas pemeriksa jalur (PPJ) Kereta Api (KA) saat memeriksa jalur di Stasiun Lempuyangan, Selasa (24/2/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Jika bertugas saat hujan, payung dan jas hujan menjadi seragam tambahan Rahmat. Nah kalau bertugas saat berpuasa, kiat Rahmat adalah dengan mencukupi kebutuhan istirahat dan vitamin-vitamin.
"Kalau hujan kita tetap dinas ya. Kita menggunakan mantel, jas hujan dan juga pakai payung untuk antisipasi kalau misalnya nanti hujan petir gitu. Hujan petir itu yang paling berbahaya," ungkapnya.
"Istirahat cukup, kita memaksimalkan waktu sahur ya dan mengisi tenaga lagi waktu berbuka puasa. Jangan lupa juga mengonsumsi vitamin gitu," ujar Rahmat.
Rahmat hanya mendapat sekali libur sepekan. Sedangkan untuk Lebaran, ia juga harus rela tak menikmati waktu bersama keluarga lantaran harus tetap bertugas demi keselamatan kereta.
"Dalam satu minggu itu saya libur satu hari. Untuk pemeriksaan sore dikasih waktu 1 jam 40 menit. Untuk yang pemeriksaan malam diberi waktu 2 jam," papar Rahmat.
"Kalau untuk operasional, temen-temen tetap standby sesuai jadwal dinasan masing-masing, meskipun lebaran, intinya mengikuti jadwal dinasan yang berlaku," pungkasnya.
(aku/apl)













































Komentar Terbanyak
Ketua BEM UGM Tiyo Ngaku Kena Teror, Dikuntit hingga Diancam Diculik
Sederet Alasan Agrinas Mau Impor 105.000 Pikap India buat Koperasi Merah Putih
105.000 Pikap Bakal Diimpor dari India Buat Kendaraan Koperasi Merah Putih