Jalan Sunyi Menemukan Tuhan di Pesantren Tunarungu Darul Ashom Sleman

Jalan Sunyi Menemukan Tuhan di Pesantren Tunarungu Darul Ashom Sleman

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Minggu, 22 Feb 2026 03:15 WIB
Di sini, ayat-ayat suci tidak bergema di langit-langit ruangan melainkan menari dari ujung jari.
Kegiatan di Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Godean, Sleman, Jumat (20/2/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja.
Sleman -

Puluhan santri duduk bersila di sebuah ruangan berwarna krem. Mereka saling berhadap-hadapan, menyimak kitab suci Al Quran.

Bibir mereka tidak bergerak, tak ada suara yang keluar. Semuanya dalam sunyi yang khusyuk. Di sini, ayat-ayat suci tidak bergema di langit-langit ruangan melainkan menari di ujung jari.

Di sini, jemari setiap anak di ruangan itu yang bergerak mengikuti setiap huruf dalam ayat suci Al Quran. Gerakan tangan dan jemari itu merupakan suara lantang dari ratusan santri tuna rungu di Pesantren Tunarungu Darul Ashom, Sleman.

Ahmad (21) adalah satu di antara sekitar 180 santri di pondok itu. Perjalanannya dimulai pada tahun 2022. Saat dia bersama kakak kembarnya datang dari Bali untuk 'menemukan' Tuhan.

"Tahun 2022 datang ke sini. Dia ke sini bersama kakak kembarnya dari Bali," kata Ustaz Abu Kahfi, yang merupakan pendiri ponpes saat membuka perbincangan dengan wartawan, Jumat (20/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ustaz Abu Kahfi, yang merupakan pendiri ponpes Tuna Rungu Darul Ashom, Sleman.Ustaz Abu Kahfi, yang merupakan pendiri ponpes Tuna Rungu Darul Ashom, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja



Melalui bahasa isyarat yang kemudian diterjemahkan oleh Ustaz Abu, Ahmad menceritakan bahwa awalnya dia tak pernah belajar ilmu agama.

"Dulu di sekolah tidak ada yang mengajari saya ilmu agama, (pengetahuan agama saya) kosong waktu itu," ucapnya.

Pertemuannya dengan Ustaz Abu dan para santri tuli lain yang kemudian mengubah jalan hidupnya.

ADVERTISEMENT

"Dulu nggak pernah belajar agama. Di sini pertama kali belajar ilmu agama," ujar Ahmad.

Ahmad tak menyesali kondisinya yang lahir dalam kondisi tuli. Dia saat ini sudah berdamai dengan keadaan.

"Perasaan saya setelah belajar ilmu agama saya menjadi tambah yakin dengan Allah SWT," tegasnya.

Perjalannya menjadi tahfiz Quran tidak mudah. Selama empat tahun ini dia terus belajar. Mulai dari mengenal huruf hijaiyah hingga bisa lancar membaca Al Quran. Hingga akhirnya kini bisa hafal Al Quran sampai 3 juz.

"Alhamdulillah kemarin 2 juz sempurna sekarang mutqin 3 juz," katanya.

Kini Ahmad punya keinginan untuk menjadi seorang ustaz jika sudah lulus dari pondok. Dia ingin membantu sesama tunarungu untuk belajar agama lebih dalam.

"Saya mau jadi ustaz mengajarkan anak-anak tuli sampai ke luar negeri. Saya mau belajar agama sampai saya meninggal," ujarnya.

Kegiatan di Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Godean, Sleman, Jumat (20/2/2026).Kegiatan di Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Godean, Sleman, Jumat (20/2/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja



Perjalanan Ustaz Abu dalam syiar agama untuk sampai titik ini tidak mudah. Pria asal Bandung itu awalnya risau dengan pendidikan agama orang-orang tuli.

"Awal pertemuan saya dengan seorang tunarungu tahun 2009 akhir. Saya bertemu di Jakarta. Tunarungu wah seperti ini, cara komunikasi seperti ini, cara berpikir seperti ini. Saya berpikiran bagaimana agamanya," kata Ustaz Abu.



Titik balik perjuangannya untuk menggandeng tunarungu berawal dari pertemuan dengan seorang tunarungu di Jakarta. Dari situ, dia kemudian kembali ke Bandung dan membuat halaqoh di komunitas tunarungu.

"Setelah saya bongkar mereka kehidupan mereka ternyata nauzubillah. Mereka ternyata nol sekali agamanya," ujarnya.

Dari situ, dia lalu hijrah ke Jogja dan menemukan fenomena serupa. Akhirnya, mimpi mendirikan madrasah bagi tunarungu bisa terwujud.

Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom ini didirikan tahun 2019 oleh Ustaz Abu. Dulunya pesantren ini berada di Srandakan, Bantul, sebelum akhirnya pindah ke Kayen, Condongcatur, Sleman dengan mengontrak beberapa rumah pada 2021. Baru pada September 2025, para ustaz dan santri berpindah ke Sidomoyo, Godean.

Dari yang awalnya hanya dua santri, saat ini telah mencapai 180-an santri.

"Sekarang sudah ada 180-an santri dari berbagai provinsi di Indonesia. Kemarin juga ada santri dari luar negeri yang mendaftar dari Australia, Pakistan, dan Bangladesh," kata Ustaz Abu.

Dia berharap, kehadiran ponpes tunarungu ini bisa menginspirasi dan membuat orang lain tergerak. Sehingga keberadaan ponpes tunarungu yang mengajarkan agama Islam semakin banyak hadir di Indonesia.

"sekarang alhamdulillah banyak ustaz-ustaz yang mulai terinspirasi," pungkasnya.

Kegiatan di Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Godean, Sleman, Jumat (20/2/2026).Kegiatan di Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Godean, Sleman, Jumat (20/2/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja



(apl/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads