Ketua BEM UGM Tiyo Ngaku Kena Teror, Dikuntit hingga Diancam Diculik

Ketua BEM UGM Tiyo Ngaku Kena Teror, Dikuntit hingga Diancam Diculik

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Jumat, 20 Feb 2026 11:45 WIB
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror.
Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto: Bagus Kurniawan/detikcom.
Sleman -

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror. Kejadian teror ini dialami usai Tiyo dan pengurus BEM UGM melayangkan surat ke UNICEF terkait peristiwa anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak mampu membeli pena dan buku.

Tiyo mengatakan terror tersebut terjadi sejak tanggal 9 Februari lalu. Dia mengaku mendapatkan berbagai pesan dari beberapa nomor luar negeri berisi ancaman pembunuhan hingga akan membuka aib.

"Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib," kata Tiyo kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).


Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2). Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai. Meksi saat itu sempat dikejar, namun para penguntit itu bisa pergi.

"Ada juga pengalaman sempat dikuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja," ujarnya.

Bukan hanya itu, Tiyo juga mendapati upaya untuk pembunuhan karakter dengan mengembuskan isu-isu tidak benar. Bahkan sampai ibu Tiyo pun mendapatkan pesan dari orang tidak dikenal.

Dia menilai rangkaian teror yang diterima ini adalah bentuk dari kepengecutan rezim hari ini.

"Karena bagi kami sampai hari ini rezim tidak menyampaikan pesan publik apapun yang mengatakan bahwa kebebasan akademik Anda dijamin, perlindungan dan keselamatan Anda akan difasilitasi oleh negara," tegasnya.

Terkait rangkaian teror yang diterima Tiyo, pihak kampus kemudian merespons. Melalui Juru BIcara UGM, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan bahwa pimpinan kampus telah berkomunikasi dengan Tiyo. Kampus juga telah menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk memberikan perlindungan.

"Pimpinan UGM telah melakukan komunikasi dengan Ketua BEM UGM, Sdr. Tiyo Ardianto, yang diberitakan mendapat teror dari pihak luar, dan menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan," kata Made Andi dalam keterangannya, Jumat (20/2).


Pada prinsipnya, lanjut Made Andi, kampus memiliki kewajiban untuk melindungi seluruh sivitas akademika UGM.

"Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun," pungkasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT




(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads