Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia identik dengan berbagai tradisi yang khas dan penuh makna. Selain upacara keagamaan, berbagai kesenian hingga kuliner khas perayaan Imlek juga selalu dinantikan banyak orang, terutama masyarakat Tionghoa. Salah satu kudapan yang hampir selalu ada tiap perayaan Imlek adalah kue keranjang.
Kue keranjang pada dasarnya merupakan kue berwarna coklat dengan tekstur yang kenyal. Kue ini berasal dari Cina dan hingga kini masih dengan mudah ditemui di pasaran, terlebih menjelang perayaan Imlek. Di balik tampilannya yang sederhana, kudapan satu ini menyimpan sejarah dan filosofi yang berkaitan dengan budaya Tionghoa.
Seperti apa asal usul kue keranjang yang dianggap penting dalam perayaan Imlek dan seperti apa filosofi di baliknya? Simak penjelasan berikut untuk informasi lebih lanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Kue Keranjang?
Kue keranjang adalah sebuah kudapan tradisional Tionghoa yang terbuat dari tepung ketan dan gula. Campuran bahan-bahan tadi kemudian dikukus hingga menghasilkan tekstur yang lengket dan kenyal. Di Indonesia sendiri, kue ini umumnya dicetak menggunakan wadah kecil yang bentuknya mirip keranjang. Itulah sebabnya kue ini diberi nama kue keranjang.
Ciri khusus yang membedakan kue keranjang dengan kue tradisional lainnya adalah teksturnya. Tekstur lengket dan kenyal itu biasanya didapatkan saat kue keranjang masih baru. Setelah beberapa waktu, tekstur kue keranjang akan semakin keras.
Sejarah Kue Keranjang
Kue keranjang dipercaya telah ada sejak ribuan tahun silam. Dalam bahasa Mandarin, kue keranjang disebut dengan Nian Gao. Dikutip dari jurnal Makna Serta Interaksi Sosial Tentang Kue Keranjang Perayaan Imlek di Indonesia oleh Kelvin Carrie dan Suwandi, penyebutan ini berasal dari kata η² (niΓ‘n) yang berarti 'lengket' dan memiliki pelafalan yang persis sama dengan kata εΉ΄ yang berarti 'tahun'. Sedangkan kata η³ (gΔo) memiliki arti 'kue'.
Dilihat dari asal namanya, Nian Gao dimaknai sebagai kue yang dibuat setahun sekali saat perayaan Tahun Baru Imlek. Niao Gao disebut sebagai kue keranjang karena saat proses pembuatannya, adonannya kerap dicetak dalam wadah yang bentuknya menyerupai keranjang.
Menurut Mitologi Cina, kata 'nian' dalam Nian Gao merujuk pada sebuah makhluk bernama Nian. Menurut penjelasan dari laman resmi Sastra Cina Universitas Brawijaya, Nian adalah seorang raksasa yang tinggal di gua dan hanya akan keluar dari persembunyiannya ketika ia ingin berburu makanan selama musim dingin. Keberadaan Nian yang kerap memangsa hewan-hewan di sekitar desa, membuat warga desa merasa takut padanya.
Hingga pada suatu masa, seorang warga bernama Gao berinisiatif membuat kudapan yang manis dan lengket untuk dijadikan santapan Nian. Ajaibnya, kudapan itu disantap habis oleh Nian hingga membuatnya kekenyangan. Karena sudah merasa kenyang, Nian mengurungkan niatnya untuk berburu hewan dan kembali masuk ke gua. Mendengar hal itu, warga desa berusaha untuk membuat kudapan yang sama tiap kali musim dingin tiba. Mereka lantas menaruhnya di depan gua agar Nian dapat memakannya dan tidak lagi berkunjung ke desa.
Kudapan yang dibuat oleh warga desa tersebut, lambat laun diberi nama Nian Gao untuk mengenang peristiwa di masa lalu. Nian merujuk pada sang raksasa yang tinggal di hutan, sedangkan Gao merujuk pada orang yang pertama kali membuat kudapan tersebut.
Makna Filosofis Kue Keranjang
Filosofi kue keranjang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Dalam perayaan Imlek, kue keranjang dimaknai sebagai simbol harapan dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun baru. Kue ini umumnya dijadikan makanan perayaan sekaligus sesaji untuk para leluhur.
Selain itu, tekstur kue keranjang yang lengket juga melambangkan rasa persaudaraan yang kuat. Harapannya, hubungan kekeluargaan dan kebersamaan di antara mereka dapat selalu terjaga. Rasa manis yang dominan dari kudapan ini juga menunjukkan harapan akan kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan sepanjang tahun.
Tak hanya tentang rasa dan teksturnya saja, di balik bentuk kue keranjang yang bulat, terdapat pula makna filosofis tersendiri. Bentuk ini melambangkan hubungan yang tidak terputus di antara keluarga dan kerabat, serta melambangkan kehidupan yang terus berlanjut. Kue keranjang juga biasanya disajikan dengan cara ditumpuk. Hal ini melambangkan rezeki yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, terdapat aturan yang menyatakan bahwa kue keranjang tidak boleh dikonsumsi selama 30 hari saat perayaan Imlek. Selain sebagai tradisi, aturan ini juga menyiratkan bahwa kue keranjang perlu diberikan pada orang lain agar lebih cepat 'habis' dan tidak menumpuk di rumah. Aturan ini mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Demikian penjelasan tentang pengertian, sejarah, hingga makna filosofis kue keranjang. Semoga bermanfaat, ya!
Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(par/par)












































Komentar Terbanyak
Kala Bos Rokok HS Minta Maaf ke Pemotor Jupiter Usai Laka Vs Mogenya
Tak Ada Kapoknya Ulah Jukir Liar di Malioboro, Kali Ini Tarik Tarif Dobel gegara Ganti Sif
Iran Klaim Sukses Tembakkan Drone ke Kapal Induk USS Abraham Lincoln