Reporter Ngomong 'Matilah Khamenei', Bos TV Iran Langsung Dipecat

Internasional

Reporter Ngomong 'Matilah Khamenei', Bos TV Iran Langsung Dipecat

Novi Christiastuti - detikJogja
Jumat, 13 Feb 2026 19:45 WIB
Bos TV di Iran dipecat setelah wartawannya malah salah ucap seruan agar Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mati.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: dok. Reuters
Jogja -

Seorang direktur televisi di Iran dipecat seketika. Sebab, salah satu satu reporternya tampaknya 'keseleo lidah', dan mengucapkan seruan kematian bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, saat siaran langsung.

Dilansir AFP via detikNews Jumat (13/2/2026), insiden ini terjadi saat siaran langsung peringatan 47 Tahun Revolusi Islam di tenggara Provinsi Sistan-Baluchistan, Rabu (11/2) waktu setempat.

Saat itu, seorang wartawan Provinsi Hamoun bernama Musab Rasoulizad dalam siaran langsungnya menggambarkan jumlah peserta yang hadir dalam aksi massa. Rasoulizad juga mengulangi lagi seruan-seruan yang diteriakan massa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia kemudian menyerukan "Marg bar Khamenei" yang berarti "Matilah Khamenei", bukan seruan-seruan yang biasanya terdengar di aksi massa yang digelar pemerintah seperti "Matilah Amerika" atau "Matilah Israel".

ADVERTISEMENT

Dampak karena salah ucap Rasoulizad itu berbuntut panjang nan fatal. Otoritas Iran langsung memecat direktur TV Hamoun dan menjatuhkan sanksi disiplin kepada orang-orang yang terlibat siaran langsung tersebut.

"Direktur siaran saluran TV provinsi Hamoun telah dipecat menyusul kesalahan yang terjadi di jaringan provinsi," kata televisi pemerintah Iran dalam pengumuman pada Rabu (11/2) waktu setempat. Tidak disebutkan nama direktur siaran yang dipecat itu.

"Operator transmisi dan pengawas siaran dinonaktifkan. Para staf lainnya yang terbukti bersalah juga dirujuk ke komite disiplin," imbuh pengumuman tersebut.

Ditambahkan juga bahwa keputusan tersebut dibuat untuk "menjaga disiplin profesional dan melindungi reputasi media".

Minta Maaf

Dalam video yang dirilsi usai insiden, Rasoulizad meminta maaf atas "kesalahan ucapan dan kekeliruan yang disiarkan dan menjadi dalih bagi anti-revolusioner".

Aksi massa itu digelar beberapa minggu setelah unjuk rasa antipemerintah berlangsung secara besar-besaran di berbagai wilayah Iran, yang dipicu protes kenaikan biaya hidup namun meluas menjadi tuntutan lengsernya pemerintahan ulama di negara tersebut.

Unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan dan penindakan keras oleh aparat Teheran terhadap demonstran, dengan otoritas Iran mengakui lebih dari 3.000 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan. Pemerintah Iran mengaitkan kematian itu dengan "tindakan teroris" asing.

Data terpisah dari organisasi-organisasi internasional menyebutkan jumlah korban yang jauh lebih tinggi. Salah satunya dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS), yang melaporkan sedikitnya 7.002 orang, termasuk 6.506 demonstran, tewas selama unjuk rasa berlangsung.




(apu/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads