Gelombang Setinggi Gedung 11 Lantai Terdeteksi di Samudra Pasifik

Internasional

Gelombang Setinggi Gedung 11 Lantai Terdeteksi di Samudra Pasifik

Rachmatunnisa - detikJogja
Senin, 09 Feb 2026 10:22 WIB
Gelombang Setinggi Gedung 11 Lantai Terdeteksi di Samudra Pasifik
Ilustrasi gelombang tinggi. Foto: Gemini AI
Jogja -

Fenomena laut ekstrem yang sebelumnya hampir tak tertangkap pengamatan langsung kini bisa dilihat para ilmuwan. Menurut data dari satelit orbit Bumi, pada Desember 2024, gelombang setinggi sekitar 35 meter atau setara gedung 11 lantai terdeteksi di tengah Samudra Pasifik.

Gelombang raksasa itu terdeteksi di wilayah antara Hawaii dan Kepulauan Aleutian, yang merupakan bagian utara dari Samudra Pasifik. Dilansir detikInet dari Ecoticias, fenomena ini terjadi jauh dari jalur pelayaran dan pantai, sehingga hampir tak terlihat oleh manusia.

Disebutkan bahwa gelombang itu setara dengan bangunan 11 lantai jika diukur secara tegak lurus dari dasar laut ke puncaknya. Gelombang setinggi itu terbentuk akibat kombinasi badai besar, angin kencang, serta akumulasi energi yang masif di permukaan laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ilmuwan menganalisis bahwa fenomena ini berasal dari badai kuat yang melanda Samudra Pasifik utara pada Desember 2024, yang dikenal sebagai Storm Eddie, ketika rata-rata tinggi gelombang mencapai hampir 20 meter dan puncaknya diperkirakan menyentuh angka 35 meter.

ADVERTISEMENT

Para peneliti mengatakan dalam keterangannya kepada media luar negeri, bahwa pengukuran ini menunjukkan apa yang dulu hanya dianggap legenda pelaut kini dapat dipetakan secara ilmiah.

Mereka menjelaskan bahwa teknologi satelit, khususnya misi seperti satelit Surface Water and Ocean Topography (SWOT), bisa memetakan variasi permukaan laut jauh di tengah lautan, sehingga gelombang yang sangat besar ini akhirnya terlihat dari luar angkasa, memberikan wawasan baru tentang dinamika laut terbuka yang sebelumnya tidak terdeteksi.

"Gelombang ekstrem seperti ini, yang jauh dari pantai dan tidak terkait langsung dengan peristiwa darat seperti gempa atau tsunami, tetap menyimpan risiko tinggi bagi pelayaran jarak jauh, operasi laut lepas, dan infrastruktur lepas pantai," jelas para peneliti.

Disebutkan pula bahwa gelombang tersebut dapat bertindak seperti 'tembok air' mendadak yang sulit diprediksi tanpa data satelit.

Dengan pemantauan dari luar angkasa, kini lebih mungkin membangun peta risiko laut terbuka sebelum rute pelayaran dilewati kapal, meningkatkan peringatan dini, dan memperbaiki prakiraan laut ekstrem di masa mendatang.




(dil/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads