Silsilah Adipati Paku Alam dari Awal Berdiri hingga Sekarang Beserta Profilnya

Silsilah Adipati Paku Alam dari Awal Berdiri hingga Sekarang Beserta Profilnya

Ulvia Nur Azizah - detikJogja
Selasa, 03 Feb 2026 11:39 WIB
calon pengantin dhaup ageng puro pakualaman
Puro Pakualaman. (Foto: Dok. Panitia Dhaup Ageng Puro Pakualaman)
Jogja -

Silsilah Adipati Paku Alam selalu menarik dibahas karena garis kepemimpinannya merekam perjalanan politik, budaya, dan kekuasaan Jawa sejak awal abad ke-19. Dimulai dari Paku Alam I yang diangkat pada 1813, dinasti Pakualaman tumbuh sebagai entitas penting di Jogja dengan karakter pemimpin yang berbeda pada tiap generasi.

Dari pujangga istana, pembaharu pendidikan, mediator politik, hingga tokoh vital dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, masing-masing adipati meninggalkan jejak yang membentuk wajah Pakualaman hari ini. Kepemimpinan Paku Alam VIII dan IX, hingga era modern Paku Alam X, memperlihatkan kesinambungan nilai tradisi yang berjalan seiring modernitas.

Mari kita telusuri perjalanan lengkap 10 generasi Paku Alam berikut ini untuk memahami bagaimana sebuah kadipaten kecil mampu bertahan, bertransformasi, dan tetap relevan hingga sekarang. Jangan lewatkan penjelasan lengkapnya, detikers!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin utamanya:

  • Dinasti Paku Alam berdiri sejak 1813 dan telah dipimpin sepuluh adipati dengan karakter serta kontribusi berbeda.
  • Perannya bergerak dari pusat sastra dan budaya, hingga menjadi bagian penting sejarah politik dan pemerintahan Indonesia modern.
  • Kini, Pakualaman dipimpin oleh Adipati Paku Alam X yang naik takhta pada 2016.

ADVERTISEMENT

Silsilah Adipati Paku Alam dari Awal Berdiri hingga Sekarang

Dihimpun dari buku Entitas-entitas Baru Eks Mataram karya Richard Samuel, Ensiklopedi Raja-Raja dan Istri-Istri Raja di Tanah Jawa dari Wangsa Sanjaya hingga Hamengku Buwono IX karya Krisna Bayu Adji, serta Mengenal Budaya Nasional "Trah Raja-raja Mataram di Tanah Jawa" karya Joko Darmawan, berikut silsilah Adipati Paku Alam berikut profilnya.

1. KGPAA Paku Alam I (1813-1829)

Lahir dengan nama GPH Notokusumo, ia merupakan putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono I dan selir Raden Ayu Srenggoro. Notokusumo resmi diangkat menjadi raja merdeka di Kadipaten Pakualaman pada 17 Maret 1813 berkat jasa-jasanya kepada pemerintah Inggris di bawah kepemimpinan Sir Thomas Stamford Raffles.

Kekuasaannya mencakup wilayah Kemantren Pakualaman di Jogja dan daerah Karang Kemuning (Adikarto) di pesisir selatan Kulon Progo. Notokusumo dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai sastra dan tercatat sebagai seorang pujangga.

Beberapa karya sastranya yang terkenal antara lain Kitab Kyai Sujarah Darma Sujayeng Resmi, Serat Jati Pustaka, serta pedoman etika dalam Serat Rama dan Serat Piwulang. Selama masa kepemimpinannya, ia bersikap netral dalam kemelut politik Perang Jawa dan lebih memilih peran sebagai mediator.

2. KGPAA Paku Alam II (1829-1858)

Raden Tumenggung Notodiningrat naik takhta menggantikan ayahnya dengan gelar Paku Alam II. Sebelum menjadi penguasa, ia sempat dipercaya menjabat sebagai sekretaris istana oleh Sultan Sepuh. Kepemimpinannya ditandai dengan apresiasi yang sangat tinggi terhadap perkembangan seni budaya, musik, serta drama modern di lingkungan Pura Pakualaman.

Darah seni yang mengalir dari ayahnya terus dikembangkan melalui karya-karya sastra besar. Bersama sang ayah, ia menulis Serat Barata Yuda dan Serat Dewaruci. Ia memimpin Kadipaten selama hampir tiga dekade sebelum akhirnya mangkat pada tahun 1858 dan dimakamkan di Kotagede.

3. KGPAA Paku Alam III (1858-1864)

GPH Sasraningrat adalah putra Paku Alam II yang lahir pada 20 Desember 1827. Ia memimpin dalam waktu yang relatif singkat, yakni enam tahun. Meski begitu, ia dikenal luas sebagai pujangga besar yang produktif. Karya-karya monumentalnya meliputi Serat Dharma Wirayat, Serat Piwulang, dan Serat Abiya Yusup yang merupakan saduran cerita Amir Hamzah.

Selain warisan sastra, sosok ini memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Salah satu putranya, Pangeran Soerjaningrat, merupakan ayah dari Ki Hajar Dewantara yang kelak dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Paku Alam III mangkat pada 1864 dan menjadi penguasa terakhir yang dimakamkan di Kotagede sebelum pemakaman dinasti dipindahkan.

4. KGPAA Paku Alam IV (1864-1878)

Raden Mas Nataningrat naik takhta di tengah situasi ekonomi dan politik Kadipaten yang mulai mengalami kemunduran. Berdasarkan perjanjian politik tahun 1870, kekuatan militer Pakualaman dikurangi secara signifikan hingga hanya memiliki setengah batalion infanteri dan satu kompi kavaleri. Meski demikian, ia tetap menaruh perhatian besar pada bidang pendidikan dan kesenian.

Salah satu jasanya yang dikenang adalah rehabilitasi Bangsal Sewotomo di Pura Pakualaman. Bangunan utama tersebut sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi besar yang melanda Jogja pada tahun 1864. Setelah memerintah selama 14 tahun, ia mangkat pada September 1878.

5. KGPAA Paku Alam V (1878-1900)

KPH Suryodilogo tercatat sebagai pelopor modernisasi di lingkungan Pura Pakualaman. Ia memikul beban berat karena harus melunasi utang-utang pendahulunya serta menegakkan kembali ketertiban di wilayah kekuasaannya.

Langkah revolusionernya di bidang pendidikan adalah dengan mengirimkan kerabat-kerabat Pakualaman untuk menempuh studi di sekolah-sekolah Belanda. Upaya ini ditempuh guna meningkatkan taraf intelektual keluarga kerajaan.

Selain mereformasi sistem ekonomi dan membentuk legiun militer, ia tetap melestarikan tradisi seni dengan mengadopsi cerita-cerita tradisional ke dalam pertunjukan musik dan drama. Paku Alam V merupakan penguasa pertama yang dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Girigondo di Adikarto, Kulon Progo.

6. KGPAA Paku Alam VI (1901-1902)

KPH Notokusumo merupakan pemimpin dengan masa jabatan paling pendek dalam sejarah Kadipaten Pakualaman, yakni hanya sekitar satu tahun. Meski memiliki gelar militer Kolonel Tituler dari pemerintah Hindia Belanda, kondisi kesehatannya yang sering menurun membuatnya tidak bisa menjalankan tugas secara maksimal.

Karena kondisi fisiknya yang kurang sehat, banyak tugas pemerintahan harian yang didelegasikan kepada adiknya, KPH Notodirojo. Ia mangkat pada Juni 1902 karena sakit dan dimakamkan di Astana Girigondo.

7. KGPAA Paku Alam VII (1903-1938)

Setelah kepergian ayahnya yang baru naik takhta setahun, BRMH Surarjo naik menjadi Adipati Paku Alam selanjutnya. Paku Alam VII dikenal sebagai menantu kesayangan Sri Susuhunan Paku Buwono X dari Kasunanan Solo. Ia merupakan pribadi yang sangat santun dan selalu bertutur kata menggunakan bahasa Jawa halus (kromo inggil) kepada siapa pun.

Di bawah kepemimpinannya, wilayah Kulon Progo (Adikarto) mengalami kemajuan pesat. Pembangunan infrastruktur publik seperti bendungan, saluran irigasi, pasar, jembatan, hingga pabrik gula di Sewugalur diselesaikan pada masa kepemimpinannya.

Selain mereformasi birokrasi dengan menerbitkan Rijksblad (lembaran resmi), ia juga sangat memperhatikan kelestarian seni wayang wong dan tari klasik. Sebuah paviliun bernama Purworetno di Pura Pakualaman merupakan hadiah istimewa dari ayah mertuanya sebagai simbol kasih sayang.

8. KGPAA Paku Alam VIII (1938-1998)

Lahir dengan nama BRMH Sularso Kunto Suratno, ia tercatat sebagai penguasa Pakualaman dengan masa jabatan terlama. Sosok ini memiliki peran krusial dalam sejarah kemerdekaan Indonesia karena bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ia mengeluarkan maklumat pada 5 September 1945 yang menyatakan Kadipaten Pakualaman sebagai bagian dari Republik Indonesia. Langkah politik berani ini menyelamatkan status dan citra Kadipaten hingga masa modern.

Ia juga berhasil melakukan normalisasi hubungan dengan Keraton Jogja yang sempat terputus sejak masa Paku Alam I. Paku Alam VIII menjadi Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak kemerdekaan, mendampingi Sultan Hamengku Buwono IX.

Setelah mengabdi lama sebagai Wakil Gubernur DIY, ia diangkat menjadi Gubernur DIY menggantikan Sultan Hamengkubuwono IX yang mangkat pada 1988. Hingga akhir hayatnya pada 1998, ia terus mendukung gerakan reformasi damai demi keutuhan bangsa.

9. KGPAA Paku Alam IX (1999-2015)

BRMH Ambarkusumo dinobatkan sebagai penguasa Pakualaman pada 26 Mei 1999. Sebagaimana pendahulunya, ia menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY dan mendapatkan dukungan kuat dari masyarakat, terutama warga Kulon Progo yang merasa mendapatkan banyak berkah di bawah kepemimpinannya. Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tidak menggunakan politik uang untuk mendapatkan dukungan massa.

Meskipun masa kepemimpinannya sempat diwarnai polemik klaim takhta dari pihak lain pada tahun 2012, posisi resminya tetap diakui oleh pemerintah berdasarkan UU Keistimewaan DIY. Ia mangkat pada November 2015 di RSUP Dr. Sardjito dan dimakamkan dengan khidmat di Astana Girigondo.

10. KGPAA Paku Alam X (2016-Sekarang)

Lahir dengan nama BRMH Wijoseno Hario Bimo, ia merupakan putra tertua Paku Alam IX. Sebelum naik takhta, ia berkarier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan jabatan Kepala Biro Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat di Pemda DIY. Demi menjalankan tugas sebagai adipati sesuai aturan UU Keistimewaan, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari status PNS.

Paku Alam X dikenal sebagai sosok yang modern, gemar membaca, otomotif, dan aktif di berbagai organisasi sosial maupun seni budaya. Tutur sapanya yang menyejukkan serta sifatnya yang mudah bergaul membuatnya memiliki kedekatan emosional yang baik dengan masyarakat luas. Ia resmi dinobatkan pada 7 Januari 2016 di Bangsal Sewotomo dengan gelar lengkap KGPAA Paku Alam X.

Itulah tadi profil singkat dari Paku Alam I hingga Paku Alam X yang kini bertakhta. Semoga bermanfaat!

FAQ

Paku Alam keturunan siapa?

Paku Alam berasal dari trah Kesultanan Jogja. Pendiri dinasti ini, KGPAA Paku Alam I (GPH Notokusumo), merupakan putra Sultan Hamengkubuwono I dari seorang selir, Raden Ayu Srenggoro. Sejak 1813, garis keturunannya menjadi penerus resmi Kadipaten Pakualaman.

Apa beda Pakualaman dan Hamengkubuwono?

Pakualaman adalah kadipaten yang statusnya berada di dalam wilayah Jogja, sedangkan Hamengkubuwono adalah gelar raja yang memimpin Kesultanan Jogja. Kadipaten Pakualaman memiliki otoritas politik sendiri, namun tetap berada dalam struktur keistimewaan DIY bersama Kesultanan. Keduanya memiliki peran administratif dan adat yang berbeda, tetapi sama-sama merupakan bagian dari pemerintahan DIY sejak 1945.

Siapa Adipati Pakualaman?

Adipati Pakualaman adalah pemimpin Kadipaten Pakualaman. Saat ini, gelar tersebut dipegang oleh KGPAA Paku Alam X, yang dinobatkan pada 7 Januari 2016 sebagai penerus ayahnya, Paku Alam IX. Ia menjalankan fungsi adat sekaligus peran pemerintahan sebagai Wakil Gubernur DIY sesuai UU Keistimewaan.



(sto/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads