Kisah Kepemimpinan Sultan HB III, 2 Kali Naik Takhta-Bersahabat dengan Belanda

Kisah Kepemimpinan Sultan HB III, 2 Kali Naik Takhta-Bersahabat dengan Belanda

Anindya Milagsita - detikJogja
Jumat, 23 Jan 2026 08:00 WIB
Isi Perjanjian Giyanti, Cikal Bakal Perpecahan Keraton Jogja dan Solo
Keraton Jogja. (Foto: LBM1948/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0)
Jogja -

Saat mendengar nama Sri Sultan Hamengku Buwono, tidak sedikit orang langsung teringat akan Keraton Jogja. Sebab, sosok itulah yang menjadi titel raja bagi Keraton Jogja dari masa lampau hingga sekarang.

Ada begitu banyak kisah yang ditinggalkan oleh para raja dari Keraton Jogja. Termasuk Sultan Hamengku Buwono (HB) III yang disebut-sebut cukup dekat dengan pihak Belanda. Padahal seperti yang diketahui, Pemerintah Kolonial Belanda dikenal sebagai pihak yang telah melakukan penjajahan kepada rakyat yang tinggal di Nusantara.

Bahkan beberapa raja yang pernah memerintah Keraton Jogja menyatakan sikap yang cukup keras terhadap pihak asing, termasuk Belanda. Namun, bagaimana jadinya apabila seorang raja justru menjadi dekat dengan pihak Belanda? Ini yang disebut-sebut terjadi pada sosok Sultan HB III.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana kisahnya? Simak ulasan sejarah singkat masa kepemimpinan Sultan HB III berikut.

Poin Utamanya:

ADVERTISEMENT
  • Sultan HB III bernama kecil Raden Mas Surojo yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Ia merupakan putra Sultan Hamengku Buwono II dari Gusti Kanjeng Raden Ayu Kedaton dan sejak muda telah diangkat menjadi Putra Mahkota Keraton Jogja.
  • Sultan HB III dua kali naik takhta akibat konflik internal keraton dan campur tangan asing (VOC, Belanda, dan Inggris). Ia pertama kali diangkat menggantikan ayahnya yang diturunkan secara paksa, lalu kembali naik takhta setelah Sultan HB II diasingkan oleh Inggris di bawah Thomas Raffles.
  • Masa pemerintahannya dikenal lemah dan bergantung pada Inggris dengan banyak kebijakan keraton berada di bawah intervensi pihak asing. Hal ini menyebabkan isolasi kekuasaan Keraton Yogyakarta, baik dari sisi wilayah maupun kekuatan militer. Sultan HB III wafat pada tahun 1814 dan digantikan oleh anaknya yang masih berusia 10 tahun, yaitu Raden Mas Ibnu Jarot atau Sultan HB IV.

Siapa Sultan HB III?

Sri Sultan HB III memiliki nama kecil Raden Mas Surojo. Seperti halnya dijelaskan dalam buku 'Geger Sepoy Sejarah Kelam Perseteruan Inggris dengan Keraton Yogyakarta (1812-1815)' tulisan Lilik Suharmaji, Raden Mas Surojo atau Sultan HB III lahir pada tanggal 20 Februari 1769.

Ia adalah putra Sultan HB II dari seorang ibu bernama Gusti Kanjeng Raden Ayu Kedaton. Saat sang ayah bertakhta sebagai seorang Raja Keraton Jogja, Raden Mas Surojo sudah diangkat sebagai Putra Mahkota.

Sebagai Putra Mahkota, Raden Mas Surojo dikenal sangat tunduk kepada sang ayah. Sikap patuh inilah yang membuatnya dikenal sebagai sosok yang bisa dibilang cukup lemah. Tidak hanya ditunjukkannya saat masih berstatus sebagai seorang Putra Mahkota, tapi juga ketika sudah naik takhta sebagai raja.

Selanjutnya, dijelaskan dalam buku 'Kitab Terlengkap Sejarah Mataram' karya Soedjipto Abimanyu, Raden Mas Surojo hidup sebagai putra dari seorang raja di tengah-tengah konflik yang terjadi antara pihak keraton dan asing. Tepatnya adalah Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang berada di bawah naungan Belanda.

Akibat adanya permusuhan inilah yang membuat Raden Mas Surojo naik takhta sampai dua kali sebagai Raja Keraton Jogja. Inilah yang membuat suksesi Raden Mas Surojo alias Sultan HB III dipenuhi dengan lika-liku.

Kisah di Balik Suksesi Sultan HB III yang Penuh Lika-liku

Setelah menyandang status sebagai Pangeran Mahkota, Raden Mas Surojo secara mendadak diangkat sebagai Raja Keraton Jogja. Padahal saat hal tersebut terjadi, sang ayah yaitu Sultan HB II belum mangkat.

Masih mengacu dari buku yang sama, dijelaskan pada saat masa kepemimpinan Sultan HB II, banyak dipenuhi dengan campur tangan dari pihak asing. Terutama VOC, Kolonial Belanda, dan Inggris yang pada saat itu terus-menerus melakukan perlawanan dan bujukan agar mau diajak kerja sama.

Namun, sikap keras dan tegas terhadap para penjajah yang ditunjukkan oleh Sultan HB II justru membuatnya harus kehilangan takhtanya. Hingga akhirnya di bawah komando Daendels, VOC menurunkan paksa Sultan HB II dari takhta sebagai Raja Keraton Jogja dan menggantinya dengan sang Putra Mahkota yang dalam hal ini adalah Raden Mas Surojo.

Secara resmi Raden Mas Surojo menjadi Raja Keraton ke-3 menggantikan sang ayah dan mendapatkan gelar sebagai Sultan HB III. Namun demikian, kondisi ini tidaklah lama. Sebab, setahun setelahnya pada saat Inggris mulai menguasai di sekitar tahun 1811, Sultan HB II kembali mendapatkan takhtanya.

Dengan begitu, Raden Mas Surojo kembali ke posisinya sebagai Putra Mahkota. Meskipun sudah berhasil mendapatkan takhtanya, Sultan HB II tetap menunjukkan sikap yang tegas kepada pihak asing. Keputusan inilah yang membawanya kembali diturunkan dari takhta dan diasingkan ke Penang. Pada saat itu Inggris berada di bawah komando Raffles.

Sementara itu, Sri Wintala Achmad dalam bukunya 'Ilmu Bahagia Ki Ageng Suryomentaram: Sejarah, Kisah, dan Ajaran Kemuliaan' menyebut, setelah diasingkan ke Penang, takhta Sultan HB II kembali diwariskan untuk sang putra, yaitu Raden Mas Surojo. Thomas Raffles sendiri yang kembali mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Raja Keraton Jogja dengan gelar Sultan HB III.

Masa Kepemimpinan Sultan HB III yang 'Bersahabat' dengan Belanda

Meskipun dikenal sempat menunjukkan kepatuhannya kepada sang ayah, ternyata Sultan HB III atau Raden Mas Surojo justru menjadi salah satu orang yang menentang naiknya takhta Sultan HB II kembali untuk kedua kalinya. Dikisahkan dalam buku 'Konflik dan Taktik Perang Jawa 1825-1830 Menelusuri Jejak Jihad dan Pengorbanan Pangeran Diponegoro' tulisan Muhammad Muhibbuddin, setelah Sultan HB II kembali mendapatkan takhta sebagai raja, Raden Mas Surojo meminta gelarnya sebagai Putra Mahkota dikembalikan seperti semula.

Kendati begitu, setelah mendapatkannya, ada hal lain yang masih diharapkan oleh dirinya. Merasa tidak puas dengan kondisi tersebut, Sultan HB II menyampaikan surat kepada Thomas Raffles. Surat tersebut berisikan gambaran keadaan Keraton Jogja yang tidak terkendali di bawah kepemimpinan Sultan HB II.

Pihak pemerintah Inggris saat itu menyadari kepemimpinan Sultan HB II justru bertolak belakang dengan mereka. Terutama karena Sultan HB II kerap sulit untuk diajak kerja sama, sehingga cukup membuat pihak Inggris kesulitan untuk mewujudkan kepentingan politik mereka.

Hingga akhirnya Raffles mengambil sikap dengan mengirimkan pasukannya untuk menyerang Keraton Jogja dan memaksa agar Sultan HB II mundur dari takhtanya. Berkat desakan yang dilakukan oleh pihak Inggris dan keputusan pengasingan yang diberikan pada Sultan HB II, akhirnya Raja Keraton Jogja yang ke-2 ini melepaskan takhtanya.

Pada saat yang sama, Sultan HB III kembali mendapatkan tampuk kekuasaan yang sebelumnya sempat ia rasakan meski hanya sekejap. Inilah yang membuat suksesi Sultan HB III yang kedua kalinya disebut-sebut mendapatkan campur tangan dari pihak Inggris.

Tak hanya saat merebut kekuasaan saja, tapi juga selama masa kepemimpinan Sultan HB III menjadi cukup bergantung pada pihak asing. Dikatakan dalam buku yang sama, kekuasaan Sultan HB III ditopang oleh Inggris, sehingga kepemimpinannya cukup lemah. Sebab, sang raja tidak memiliki kedaulatan yang cukup jelas dan tegas dalam memimpin kerajaannya sendiri.

Terlebih lagi, pihak Inggris tak segan-segan melakukan intervensi terhadap kebijakan yang diambil oleh Sultan HB III. Bahkan ada waktu di mana setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Keraton Jogja harus berada di bawah kendali Inggris, tidak boleh bertentangan apalagi merugikan Inggris itu sendiri.

Ini dikarenakan pihak Inggris selalu mencari celah agar dapat memperoleh keuntungan atau mendukung kepentingan pribadi mereka di setiap pengambilan kebijakan. Inilah yang membuat Keraton Jogja justru bisa dibilang mengalami kemunduran.

Tidak hanya kehilangan sejumlah wilayah kekuasaannya, angkatan perang milik Keraton Jogja juga semakin menyusut. Bahkan untuk mengamankan area keraton saja, hanya ada segelintir tentara yang bertugas.

Masa kepemimpinan Raden Mas Surojo alias Sultan HB III terbilang singkat. Pada tahun 1814 atau beberapa tahun saja setelah naik takhta, Sultan HB III mangkat. Takhtanya sebagai Raja Keraton Jogja kemudian diwariskan kepada sang putra, yaitu Raden Mas Ibnu Jarot. Namun, pada saat wafat, sang putra masih berusia 10 tahun. Inilah yang membuat Raden Mas Ibnu Jarot atau Sultan HB IV dikenal sebagai salah satu Raja Keraton Jogja termuda.

Dengan mengetahui kisah Sultan HB III yang dulunya pernah memimpin Keraton Jogja diharapkan dapat memberikan gambaran tentang apa yang pernah terjadi di masa lampau. Semoga mampu menambah wawasan baru, ya.

FAQ

Sultan Hamengku Buwono III anak siapa?

Sultan Hamengku Buwono (HB) III adalah putra Sultan HB II, Raja Keraton Yogyakarta yang ke-2. Ia lahir dengan nama Raden Mas Surojo dan sejak muda ditetapkan sebagai Putra Mahkota, lalu naik takhta sebagai raja dengan gelar Sultan HB III.

Mengapa Sultan HB III naik takhta sampai dua kali?

Sultan HB III naik takhta dua kali karena konflik politik antara Keraton Yogyakarta dan kekuatan asing, khususnya VOC Belanda dan Inggris. Ia pertama kali diangkat saat ayahnya diturunkan paksa, lalu kembali menjadi Putra Mahkota, sebelum akhirnya diangkat lagi setelah Sultan HB II diasingkan ke Penang oleh Inggris.

Bagaimana kondisi Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan HB III?

Pada masa pemerintahan Sultan HB III, Keraton Yogyakarta berada dalam kondisi lemah dan sangat dipengaruhi pihak Inggris. Banyak kebijakan kerajaan yang berada di bawah intervensi asing, menyusutnya wilayah kekuasaan, dan kekuatan militer keraton mengalami penurunan yang signifikan.



(sto/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads