Sebuah video yang bernarasi Rara Istiati Wulandari atau kerap disapa Mbak Rara yang terkenal dengan aksi pawang hujannya, diusir saat mengikuti prosesi Labuhan Keraton Jogja di Parangkusumo, viral di media sosial. Keraton Jogja pun angkat bicara terkait video tersebut.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @haluandotco itu memperlihatkan Rara mengenakan kebaya hitam dan jarik batik lengkap dengan riasan dan sanggul. Dandanan Rara sepintas mirip dengan pakaian abdi dalem keraton dalam prosesi itu.
Dalam video tersebut terlihat Rara tengah terlibat pembicaraan dengan salah seorang abdi dalem. Rara tampak sibuk memegangi ponselnya seakan sedang menelpon seseorang. Lambat laun, beberapa abdi dalem lainnya tampak menghampiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hadir di Acara Keraton Jogja, Mbak Rara Pawang Hujan Diusir Abdi Dalem," tulis keterangan dalam unggahan tersebut dilihat detikJogja, Rabu (21/1/2026).
Dimintai konfirmasi mengenai kejadian tersebut, Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, GKR Condrokirono, tidak menjelaskan secara gamblang soal kejadian di video tersebut adalah aksi pengusiran.
Gusti Condro sapaannya, menjelaskan jika dalam hajad dalem Labuhan Parangkusumo pada Senin (19/1) lalu, hanya dilakukan oleh Abdi Dalem. Masyarakat hanya bisa menyaksikan dengan menjaga ketertiban.
"Jadi pada dasarnya semua pelaksanaan Hajad Dalem kemarin adalah dari Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Untuk agenda yang memang terbuka untuk umum, ini berarti masyarakat diperbolehkan untuk hadir menyaksikan dengan menjaga ketenangan dan ketertiban demi kelancaran acara, sesuai tata aturan yang berlaku pada agenda tersebut," jelasnya saat dimintai konfirmasi, hari ini.
"Kemudian, jika ada pihak luar baik perorangan/lembaga akan terlibat dalam agenda keraton, harus ada izin dari Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura," tegas Gusti Condro.
Diketahui, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar prosesi tahunan yakni peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X. Prosesi yang identik dalam hajad dalem ini adalah Labuhan.
Makna dari labuhan sejatinya berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Tujuan dari upacara labuhan ini adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk.
Dalam pelaksanaannya, Keraton Jogja melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Seperti songsong gilap (payung) hingga kambil watangan atau pelana kuda. Tingalan Jumenengan Dalem jatuh setiap tanggal 29 Rejeb dalam kalender Jawa Sultanagungan yang bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959. Tahun ini memperingati 38 tahun Sultan bertakhta.
Tahun ini, Labuhan Alit (Patuh) digelar di empat tempat yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, Gunung Lawu, dan Dlepih, Kabupaten Wonogiri.
(apl/ams)












































Komentar Terbanyak
Heboh Pengelola Pemancingan di Gunungkidul Dipolisikan Usai Tangkap Maling Ikan
Bawa-bawa Aturan, Pria Ini Larang Rombongan Wisata Ambil Foto di Parangtritis
Kata Menko Airlangga soal Iuran Board of Peace: Kita Bayar kalau Sudah Damai