- Sejarah Masjidil Aqsa dari Masa ke Masa 1. Masjid Kedua di Bumi 2. Masjid Al-Aqsa di Masa Romawi 3. Revitalisasi Kesucian Masjidil Aqsa pada Masa Penaklukan Islam 4. Pembangunan Besar dan Ekspansi Kawasan di Masa Umayyah 5. Masjid Al-Aqsa di Masa Ottoman 6. Konflik Al-Buraq dan Ketegangan Awal 7. Restorasi pada Masa Yordania 8. Pendudukan Israel dan Simbol Perlawanan
- Peran Masjidil Aqsa bagi Umat Islam 1. Masjidil Aqsa sebagai Situs Suci Ketiga dalam Islam 2. Masjidil Aqsa dalam Peristiwa Isra dan Miraj 3. Masjidil Aqsa sebagai Pusat Kehidupan Keagamaan Umat Islam
- 4. Masjidil Aqsa sebagai Simbol Identitas dan Ketahanan Umat Islam Palestina 5. Masjidil Aqsa dalam Dinamika Politik dan Konflik Modern 6. Masjidil Aqsa sebagai Warisan Umat Islam Dunia
- FAQ 1. Bagaimana sejarah Masjidil Aqsa? 2. Kenapa Masjidil Aqsa penting bagi umat Islam? 3. Kenapa Masjid Al-Aqsa diperebutkan?
Masjidil Aqsa bukan hanya bangunan bersejarah di Yerusalem, tetapi salah satu poros utama sejarah dan spiritualitas umat Islam. Jejaknya terbentang sejak masa para nabi, jauh sebelum era Nabi Muhammad SAW, hingga menjadi pusat dinamika keagamaan dan politik dunia modern.
Dalam lintasan sejarah, kawasan Masjidil Aqsa mengalami fase kehancuran, pengabaian, pemulihan, hingga pembangunan besar yang membentuk wajahnya seperti sekarang. Setiap periode meninggalkan lapisan makna, mulai dari masa Romawi, penaklukan Islam, Dinasti Umayyah, Ottoman, hingga era konflik kontemporer.
Hingga hari ini, Masjidil Aqsa tetap hidup sebagai ruang ibadah, simbol identitas, sekaligus titik sensitif yang menyatukan sejarah, iman, dan perjuangan umat Islam, khususnya di Palestina. Untuk memahami mengapa Masjidil Aqsa begitu penting dan terus menjadi sorotan dunia, simak penjelasan lengkapnya berikut ini, detikers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Masjidil Aqsa merupakan masjid kedua yang dibangun di bumi dan telah memiliki fungsi religius sejak masa para nabi, jauh sebelum Islam datang.
- Kawasan Masjidil Aqsa mengalami revitalisasi besar pada masa penaklukan Islam dan Dinasti Umayyah, yang menetapkan identitasnya sebagai pusat ibadah umat Islam.
- Hingga kini, Masjidil Aqsa berperan sebagai situs suci, pusat kehidupan keagamaan, simbol identitas Palestina, dan titik konflik politik global.
Sejarah Masjidil Aqsa dari Masa ke Masa
Masjidil Aqsa atau Masjid Al-Aqsa memiliki sejarah yang sangat panjang, mulai dari masa awal pembangunan hingga kini. Berikut perjalanannya dari masa ke masa yang dihimpun dari artikel The Second Mosque on Earth That Islamicjerusalem Forgot: Revealing the Ancient al-Aqsa Mosque oleh Haitham F Al-Ratrout, dokumen Palestinian Academic Society for the Study of International Affairs (PASSIA), serta laman Middle East Eye.
1. Masjid Kedua di Bumi
Dalam Islam, Masjidil Aqsa telah ada jauh sebelum masa Nabi Muhammad. Hal ini ditegaskan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dzar al-Ghifari, ketika Rasulullah menjelaskan bahwa masjid pertama yang dibangun di bumi adalah Masjidil Haram di Makkah, dan masjid kedua adalah Masjidil Aqsa, dengan selang waktu empat puluh tahun di antara keduanya. Berikut ini haditsnya:
"Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di bumi?"
Nabi menjawab: Al-Masjid al-Haram (di Makkah).
Abu Dzar bertanya lagi: "Lalu masjid apa?"
Nabi menjawab: Al-Masjid al-Aqsa
Abu Dzar bertanya: "Berapa jarak waktu antara keduanya?"
Nabi menjawab: Empat puluh tahun.
"Dan di mana pun waktu sholat tiba, sholatlah, karena di situlah keutamaannya."
Keberadaan Masjidil Aqsa juga ditegaskan dalam Al-Quran, tepatnya dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang menyebut perjalanan malam Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Ayat ini menunjukkan bahwa pada saat peristiwa Isra terjadi, Masjidil Aqsa sudah dikenal sebagai tempat ibadah yang memiliki identitas religius yang jelas.
Secara arsitektural dan geometris, tata letak kawasan Masjidil Aqsa memiliki kemiripan mendasar dengan Ka'bah pada masa Nabi Ibrahim. Bentuknya berupa bidang segi empat tidak beraturan dengan orientasi yang tidak sejajar dengan mata angin, namun mengarah ke Makkah. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Masjidil Aqsa didirikan pada masa ketika kiblat para nabi masih mengarah ke Ka'bah.
2. Masjid Al-Aqsa di Masa Romawi
Pada abad pertama Masehi, wilayah Yerusalem mengalami kehancuran besar akibat penaklukan Romawi. Situs Masjidil Aqsa mengalami kerusakan parah dan kehilangan fungsi keagamaannya. Kawasan ini tidak lagi diperlakukan sebagai tempat ibadah, melainkan menjadi area terbengkalai selama berabad-abad.
Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa meskipun fondasi dinding kawasan Masjidil Aqsa berasal dari periode Romawi, tidak ada bukti bahwa Romawi membangun masjid atau kuil dengan identitas keagamaan aktif di atasnya. Justru sebaliknya, kawasan tersebut mengalami degradasi dan pengabaian. Kondisi ini berlangsung hingga awal abad ke-7, ketika Islam mulai hadir di wilayah tersebut dan menghidupkan kembali fungsi religius Masjidil Aqsa.
3. Revitalisasi Kesucian Masjidil Aqsa pada Masa Penaklukan Islam
Pada tahun 638 M, Yerusalem ditaklukkan secara damai oleh kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Sejak saat itu, Masjidil Aqsa kembali ditegaskan sebagai tempat ibadah umat Islam.
Umar bin Khattab memilih area di sisi selatan kompleks Masjidil Aqsa sebagai lokasi sholat, karena bagian tersebut merupakan dinding kiblat yang telah ada sebelumnya. Keputusan ini bukan tanpa dasar, melainkan mengikuti kaidah perencanaan masjid dalam Islam yang menempatkan ruang sholat utama di bagian depan menghadap kiblat.
Langkah ini menandai pemulihan identitas Masjidil Aqsa sebagai masjid, bukan penciptaan bangunan baru dari nol, melainkan revitalisasi tempat suci yang telah ada sejak masa para nabi.
4. Pembangunan Besar dan Ekspansi Kawasan di Masa Umayyah
Periode Umayyah yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 menjadi fase penting dalam sejarah Masjidil Aqsa. Khalifah Abd al-Malik bin Marwan memprakarsai proyek pembangunan besar yang membentuk wajah Masjidil Aqsa seperti yang dikenal hingga hari ini.
Pada masa inilah dibangun Dome of the Rock atau Kubah Batu, bangunan monumental yang berdiri di atas batu karang alami yang diyakini sebagai bagian inti kawasan Masjidil Aqsa. Bangunan ini bukan masjid utama, melainkan penanda spiritual dan visual pusat kawasan.
Di sisi selatan, dibangun Masjid al-Qibli sebagai ruang utama sholat berjamaah. Pada periode ini pula terjadi perluasan kawasan Masjidil Aqsa ke arah utara, yang kemudian membentuk batas kawasan seperti yang dikenal sekarang. Ekspansi ini dilakukan secara sadar dan terencana, dengan mempertimbangkan hubungan geometris, orientasi kiblat, dan posisi Kubah Batu sebagai pusat simbolik kawasan.
5. Masjid Al-Aqsa di Masa Ottoman
Pada masa Kekaisaran Ottoman (1517-1917), Masjidil Aqsa berada di bawah perlindungan administratif yang kuat. Tahun 1852, Sultan Abdul Majid mengeluarkan dekret resmi yang dikenal sebagai Status Quo, yang membekukan klaim kepemilikan dan melarang perubahan fisik pada situs-situs suci.
Kebijakan ini bertujuan mencegah konflik antarumat beragama, khususnya di Yerusalem. Status quo tersebut kemudian ditegaskan kembali dalam Traktat Berlin tahun 1878 dan tetap dijaga oleh pemerintahan-pemerintahan setelahnya.
Pada masa ini, Masjidil Aqsa tetap berada di bawah pengelolaan wakaf Islam dan tidak mengalami perubahan struktural besar.
6. Konflik Al-Buraq dan Ketegangan Awal
Di bawah Mandat Inggris (1920-1947), ketegangan mulai meningkat, terutama di sekitar Al-Buraq Wall, yang dikenal oleh umat Islam sebagai bagian dari kompleks Masjidil Aqsa.
Insiden besar terjadi pada 1928-1929 ketika perubahan tata ibadah di area tersebut memicu kerusuhan yang menewaskan puluhan orang. Komisi penyelidikan Inggris kemudian menegaskan bahwa tembok tersebut adalah milik umat Islam dan bagian dari Haram al-Sharif. Meski demikian, kebijakan Inggris yang ambigu membuka jalan bagi meningkatnya klaim sepihak dan ketegangan berkepanjangan.
7. Restorasi pada Masa Yordania
Setelah perang 1948, Yerusalem Timur berada di bawah pemerintahan Yordania. Pada masa ini, Masjidil Aqsa dikelola secara penuh oleh otoritas Islam.
Berbagai proyek restorasi dilakukan, termasuk pelapisan ulang Kubah Batu dan pemeliharaan kawasan suci. Akses umat Yahudi ke Tembok Al-Buraq tidak dibuka pada periode ini, sejalan dengan kebijakan pengelolaan status quo.
8. Pendudukan Israel dan Simbol Perlawanan
Perang 1967 menjadi titik balik besar. Israel menduduki Yerusalem Timur dan kawasan Masjidil Aqsa. Meski pengelolaan internal diserahkan kepada Wakaf Islam Yordania, kendali keamanan berada di tangan Israel.
Sejak saat itu, Masjidil Aqsa menjadi simbol perlawanan Palestina. Berbagai insiden, termasuk Intifada pertama 1988 dan kunjungan Ariel Sharon tahun 2000, memperparah ketegangan dan memicu konflik berkepanjangan. Pembatasan akses jamaah Muslim, pengawalan ketat, serta meningkatnya kunjungan pemukim Israel ke kawasan Masjidil Aqsa menjadikan situs ini pusat ketegangan religius dan politik hingga hari ini.
Peran Masjidil Aqsa bagi Umat Islam
Masjidil Aqsa bukan sekadar bangunan ibadah. Bagi umat Islam, kawasan suci ini memuat lapisan makna keagamaan, sejarah, sosial, dan politik yang saling terkait sejak berabad-abad lalu hingga hari ini. Perannya terus hidup dan berkembang seiring perjalanan umat Islam sendiri. Berikut penjelasan mengenai peran masjid ini menurut Middle East Eye.
1. Masjidil Aqsa sebagai Situs Suci Ketiga dalam Islam
Dalam Islam, Masjidil Aqsa menempati posisi sebagai situs tersuci ketiga, setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Kawasan ini dikenal dengan nama Haram al-Sharif, atau 'Tanah Suci yang Mulia', dan mencakup area seluas sekitar 144.000 meter persegi.
Di dalamnya berdiri bangunan-bangunan utama seperti Kubah Batu (Dome of the Rock) dan Masjid al-Qibli, serta berbagai ruang sholat, pelataran luas, dan peninggalan keislaman dari berbagai era. Sejak berabad-abad lalu, kawasan ini menjadi tujuan ibadah dan ziarah bagi umat Islam dari Palestina maupun dunia Muslim yang lebih luas.
Setiap pekan, khususnya pada sholat Jumat, puluhan ribu jamaah memadati halaman Masjidil Aqsa. Pada bulan Ramadhan, kawasan ini berubah menjadi pusat ibadah malam, termasuk sholat tarawih, buka puasa bersama, hingga perayaan Idul Fitri.
2. Masjidil Aqsa dalam Peristiwa Isra dan Miraj
Peran Masjidil Aqsa dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Isra dan Miraj, sebuah perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit.
Dalam keyakinan umat Islam, di tempat inilah Nabi Muhammad memimpin para nabi terdahulu dalam sholat sebelum melanjutkan perjalanan Miraj. Peristiwa ini menjadikan Masjidil Aqsa sebagai simbol kesatuan risalah kenabian, yang menghubungkan para nabi dari masa ke masa dalam satu garis tauhid.
Karena peristiwa ini pula, Masjidil Aqsa memiliki kedudukan khusus dalam ingatan dan kesadaran keimanan umat Islam, bukan hanya sebagai tempat fisik, tetapi sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang agung.
3. Masjidil Aqsa sebagai Pusat Kehidupan Keagamaan Umat Islam
Masjidil Aqsa sejak lama berfungsi sebagai ruang hidup keagamaan, bukan hanya tempat sholat. Di dalam kompleksnya terdapat mimbar, madrasah, dan bangunan pendidikan yang berasal dari era Ayyubiyah, Mamluk, hingga Ottoman.
Masjid al-Qibli, yang berada di sisi selatan kompleks, menjadi pusat sholat berjamaah. Bangunan ini pertama kali didirikan setelah penaklukan Muslim atas Yerusalem pada tahun 638 M, lalu dikembangkan dan direnovasi dalam berbagai periode sejarah. Hingga kini, masjid ini mampu menampung ribuan jamaah sekaligus.
Selain itu, kawasan Masjidil Aqsa juga memiliki puluhan sumber air, termasuk sumur-sumur untuk wudhu, yang menunjukkan fungsinya sebagai pusat ibadah yang dirancang untuk menampung jamaah dalam jumlah besar sejak masa awal Islam.
4. Masjidil Aqsa sebagai Simbol Identitas dan Ketahanan Umat Islam Palestina
Bagi umat Islam Palestina, Masjidil Aqsa memiliki peran yang jauh melampaui fungsi ibadah. Ia menjadi simbol identitas, keberlanjutan, dan keberadaan di tengah realitas pendudukan yang panjang.
Sejak pendudukan Yerusalem Timur pada tahun 1967, akses ke Masjidil Aqsa diatur ketat. Jamaah Muslim harus melewati pemeriksaan dan pembatasan usia, izin, serta waktu kunjungan. Dalam kondisi tersebut, hadir dan beribadah di Masjidil Aqsa dipandang sebagai bentuk keteguhan dan keberlanjutan identitas keislaman.
Masjidil Aqsa juga kerap menjadi titik berkumpul masyarakat Palestina dalam momen duka, perlawanan damai, maupun perayaan keagamaan. Di sinilah makna spiritual bertemu dengan makna sosial dan kebangsaan.
5. Masjidil Aqsa dalam Dinamika Politik dan Konflik Modern
Peran Masjidil Aqsa semakin kompleks dalam konteks politik modern. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat ketegangan akibat klaim dan kepentingan yang saling bertabrakan.
Bagi sebagian kelompok ekstrem, Masjidil Aqsa dipandang sebagai lokasi yang ingin diubah fungsinya, termasuk gagasan pembangunan kembali kuil. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan umat Islam, karena dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keberadaan situs suci Islam.
Sejumlah peristiwa penting dalam sejarah konflik Palestina-Israel juga berkaitan langsung dengan Masjidil Aqsa, termasuk bentrokan besar pada Intifada pertama, serta kunjungan provokatif tokoh politik Israel pada tahun 2000 yang memicu Intifada kedua. Sejak saat itu, status Masjidil Aqsa semakin sensitif dan pengamanannya semakin ketat.
6. Masjidil Aqsa sebagai Warisan Umat Islam Dunia
Di luar Palestina, Masjidil Aqsa dipandang sebagai amanah kolektif umat Islam dunia. Ia bukan hanya milik komunitas lokal, tetapi menjadi simbol warisan spiritual dan sejarah yang dirasakan oleh Muslim dari berbagai bangsa.
Kubah Batu yang berlapis emas, ayat-ayat Al-Quran yang terukir di dindingnya, serta arsitektur Islam awal yang masih terjaga, menjadikan Masjidil Aqsa sebagai salah satu peninggalan peradaban Islam paling penting yang masih berdiri hingga kini.
Masjidil Aqsa adalah saksi hidup perjalanan panjang iman, kekuasaan, dan peradaban, yang maknanya terus bergema hingga hari ini. Semoga bermanfaat!
FAQ
1. Bagaimana sejarah Masjidil Aqsa?
Sejarah Masjidil Aqsa dimulai sejak masa awal peradaban manusia. Dalam Islam, masjid ini disebut sebagai masjid kedua yang dibangun di bumi setelah Masjidil Haram. Kawasan ini telah berfungsi sebagai tempat ibadah sejak masa para nabi, mengalami kehancuran pada era Romawi, dipulihkan kembali setelah penaklukan Islam tahun 638 M, lalu dikembangkan besar-besaran pada masa Dinasti Umayyah hingga membentuk kompleks Masjidil Aqsa seperti sekarang.
2. Kenapa Masjidil Aqsa penting bagi umat Islam?
Masjidil Aqsa penting karena merupakan situs suci ketiga dalam Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjid ini menjadi bagian utama peristiwa Isra dan Miraj, tempat Nabi Muhammad SAW memimpin para nabi dalam sholat, serta pernah menjadi kiblat pertama umat Islam. Selain itu, Masjidil Aqsa adalah pusat ibadah, pendidikan, dan kehidupan keagamaan umat Islam selama berabad-abad.
3. Kenapa Masjid Al-Aqsa diperebutkan?
Masjid Al-Aqsa diperebutkan karena berada di kawasan Yerusalem Timur yang memiliki nilai religius dan politik tinggi. Bagi umat Islam, kawasan ini adalah situs suci yang harus dijaga keberadaannya. Sementara itu, klaim sepihak dan kepentingan politik tertentu menjadikan Masjidil Aqsa titik konflik berkepanjangan. Pertarungan kepentingan ini membuat Masjidil Aqsa tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol identitas, kedaulatan, dan perlawanan.
(par/apl)

Komentar Terbanyak
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Api Misterius Masih Teror Rumah Fia di Seyegan, 10 Hari Kebakaran 73 Kali
Viral Pria Bawa Seprai Putih Disebut Pocong Mau Maling di Gunungkidul